Alasan Tesla Pilih Nikel Milik Kaledonia Baru, dan Bukan Indonesia

Rabu, 10 Maret 2021 10:09 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Elon Musk dan perusahaannya yaitu Tesla Inc. memang memiliki daya tariknya tersendiri. Tidak heran bila media-media besar dari penjuru dunia terus memberitakan tentang mereka. Baru-baru ini, Tesla sepakat untuk memilih nikel Kaledonia Baru, dan bukan Indonesia seperti gencar diberiatakan sebelumnya. Apa pertimbangan mereka?

Bukan Indonesia, menurut Reuters, Kamis, 4 Maret 2021, Tesla Inc yang didirikan Elon Musk itu setuju bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru. Ini adalah upaya Tesla mengamankan sumber daya nikel dengan jumlah yang lebih banyak.

Kaledonia Baru dikenal sebagai produsen nikel terbesar ke-empat di dunia. Tentunya untuk mendapatkan nikel Kaledonia Baru, Tesla telah membuat perjanjian dengan pemerintah di negara tersebut. Mereka turut membantu dengan produk dan standar keberlanjutan dan membeli nikel untuk produksi baterai. 

Dalam akun Twitter Elon Musk, 25 Februari 2021, dia menulis bahwa perhatian utama perusahaan tersebut adalah untuk meningkatkan produksi sel lithium-ion. Sebelumnya, di bulan Juli Elon Musk juga mengungkapkan bahwa nikel menjadi tantangan terbesar untuk baterai jarak jauh volume tinggi. 

Permintaan nikel terus meningkatkan, hal tersebut dikarenakan adanya produksi kendaraan listrik saat ini mengalami percepatan. Adanya percepatan produksi tersebut mengakibatkan pasokan menjadi rendah. 

Elon Musk mengakui produksi nikel di Indonesia, Kanada, dan Australia berjalan dengan baik. Sementara di Amerika Serikat justru berat sebelah. Mengapa demikian?

Tesla dikabarkan akan menjadi penasihat industri di tambang Goro, Pulau Pasifik. Dimana tambang tersebut dipegang oleh Vale (Brazil) dan merupakan wilayah luar negara Prancis. Di Amerika Serikat mengalami kerusuhan sejak Vale dan negara Prancis memutuskan menjual tambang nikel ke pedagang komoditas Swiss Trafigura pada awal Desember. 

Berbagai protes dari kelompok pro-kemerdekaan pun terjadi. Mereka memaksa Vale menutup situs di bulan Desember. Dilansir dari Reuters, perjanjian tersebut berisi 51 persen saham dalam operasi Vale dapat dipegang oleh otoritas provinsi Kaledonia Baru dan kepentingan lokal. Sedangkan Trafigura memiliki 19 persen saham kurang dari 25 persen yang telah direncanakan dalam perjanjian penjualan awal bersama Vale. 

Vale menjelaskan bahwa tugasnya kini menyelesaikan setiap dan semua item yang belum terselesaikan untuk memungkinkan transaksi secara resmi diselesaikan. Dalam hal ini, Tesla disebutkan tidak memiliki saham namun perannya hanya sebagai mitra yang bertugas mengamankan rantai pasokan baterai listrik saat meningkatkan produksi. 

Jangan berkecil hati ketika Tesla tidak memilih Indonesia, pemerintah kini melirik beberapa perusahaan Jerman untuk terlibat dalam industri baterai listrik. Dua diantara yaitu Volkswagen dan Badische Anilin-und Soda-Fabrik (BASF). 

Kita berdoa saja semoga kabar baik akan datang ke Indonesia. Iya, kan?

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua