Alasan Tesla Berpaling Ke Baterai Listrik Dari Besi

Rabu, 10 Maret 2021 07:32 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jika perusahaan yang dipimpin oleh Elon Musk, Tesla mengkhawatirkan sumber daya nikel yang perlahan akan habis. Lalu, bagaimana cara mereka menanganinya? Belum lagi Tesla memiliki ambisi yang besar terkait mobil listrik di tahun 2030 mendatang. Untuk itu, bukan lagi nikel, rencananya Tesla akan berpaling ke baterai listrik dari besi!

Pada umumnya, jenis baterai mobil listrik beragam, salah satunya yang selalu dibicarakan yaitu lithium-ion. Perlu diketahui, penggunaan lithium-ion ini juga digunakan sebagai baterai pada laptop dan handphone, lho. Untuk komponen campuran pada lithium-ion antara lain lithium, nikel, iron (besi), dan kobalt. 

“Nikel adalah kekhawatiran utama kami untuk meningkatkan produksi baterai lithium-ion. Karena itu, kami mengubah (baterai) ke katoda besi. Banyak besi (dan lithium)!”

Begitulah cuitan CEO Tesla Inc., Elon Musk melalui akun Twitter-nya pada Jumat (26/2/2021). Perusahaan otomotif ternama tersebut mulai menyadari bahwa komoditas nikel terbatas. Dari kekhawatiran inilah lahir jalan baru yang ditemukan oleh Tesla. 

Kekhawatiran Tesla akan nikel pada akhirnya membuat mereka akan mengalihkan sumber bahan baku baterai Mobil Listrik Tesla Model 3 Standard Range ke tipe baterai lain yaitu Lithium Iron Phosphate (LIFEPO4) atau lebih singkatnya dikenal sebagai LFP. Dilansir dari CNBC Indonesia, keunggulan LFP jika dibandingkan baterai lithium-ion jenis lainnya seperti Lithium Nickel Cobalt Aluminum Oxide (NCA) dan Lithium Nickel Manganese Cobalt Oxide (NMC) yaitu dapat dijual dengan harga yang lebih murah

Belum lagi tentang ambisi Tesla yang sangat besar di industri mobil listrik. Pada tahun 2030 mendatang, perusahaan ini memiliki rencana untuk memproduksi 20 juta unit mobil per tahunnya. Maka, kebutuhan nikelnya pun juga tidak sedikit. 

Lantas, apa saja keunggulan dan kekurangan lithium iron phosphate? 

Dibandingkan dengan baterai lithium-ion yang memiliki energi spesifik 150/200 watt-jam per kilogram lebih ringan, lithium iron phosphate memiliki energi spesifik 9/120 watt-jam per kilogram. Perbedaan inilah yang membuat baterai dengan berbahan dasar iron kemasannya lebih besar dan berat. 

Life cycle lithium-iron phosphate lebih panjang 1500-2000 siklus atau 10 tahun lamanya dibandingkan dengan lithium-ion yang hanya 2-3 tahun saja. Keunggulan lainnya dari lithium-iron yakni umur penyimpanannya mencapai 350 hari berbeda dengan lithium-ion 300 hari. 

Tidak ada yang salah dengan langkah Tesla, mengingat cadangan nikel perlahan akan habis. Akan ada energi baru yang terus hadir untuk menggantikan posisinya. Apakah dengan memilih besi dibanding nikel menjadi cara cepat Tesla untuk mewujudkan ambisinya?

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler