Covid-19 Buktikan Lemahnya Manusia - Analisis - www.indonesiana.id
x

Coronavirus illustration (stock image).

18. Dyah Ayu R

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Maret 2021

Rabu, 10 Maret 2021 08:10 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Covid-19 Buktikan Lemahnya Manusia

    Artikel ini berisi tentang hikah yang dapat dipetik dari keganasan Covid-19

    Dibaca : 704 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Sudah berkisar 1 tahun ini Covid-19 menjadi sorotan seluruh manusia penghuni bumi ini. Ada sebagian orang yang mulai lelah untuk mengikuti berita terbaru tentangnya. Tak dipungkiri, ada juga yang masih stay on, bahkan dirasa kurang apabila tidak mengetahui berita terupdatenya . Layaknya makanan pokok sehari-hari yang harus selalu ada untuk mengisi kekosongan perut. Keeksisannya masih bertahan hingga sekarang. Entah sampai kapan akan berakhir. Terlepas dari semua perdebatan tentangnya, lebih baik kita sebagai manusia yang berakal sehat untuk menjadikan ini sebagai pelajaran yang tidak didapatkan dari bangku sekolah maupun perkuliahan.

    Sungguh, banyak hal yang bisa diambil dari keganasan Covid-19. Pertama, bukti lemahnya manusia. Manusia seringkali lalai akan hal ini karena kesombongan dalam diri lebih diutamakannya. Nyatanya, virus yang ukurannya jauh lebih kecil bahkan sangat kecil saja mampu mengacau tatanan kehidupan manusia. Mulai dari segi ekonomi, sosial, hingga pendidikan. Manusia tak berdaya. Perekonomian terombang ambing. Pendidikan terbatasi. Hal ini dapat kita jadikan introspeksi diri bahwa sejatinya manusia bukanlah makhluk yang kuat tanpa perlindungan dari Sang Maha Kuasa.

    Pelajaran kedua yaitu selalu menjadikan Sang Pencipta tempat berlindung dari segala malapetaka maupun kenikmatan, karena sesungguhnya ujian itu tidak hanya berupa kesengsaraan semata. Maka, sikap kita yang tepat dalam menghadapi cobaan yang menimpa kita baik itu menyenangkan ataupun sebaliknya adalah dengan bersabar. Sabar menjadi sikap yang wajib dipupuk setiap manusia. Sabar harus dicerminkan dari hati, perkataan, maupun perbuatan. Ketiga aspek tersebut harusnya berjalan secara sinergis agar mencapai derajat kesabaran yang sebenarnya.

    Pesan tersirat yang selanjutnya dari adanya Covid-19 adalah keharmonisan berumah tangga yang terenggut oleh pekerjaan ataupun kegiatan di luar rumah bisa terobati. Kebersamaan dan kehangatan yang memancar dari balik pintu rumah-rumah penduduk tercium hingga jarak beribu kilometer, menyadarkan bahwa keluarga adalah harta termahal di dunia. Maka, bawalah keluarga kita menuju ke arah yang lurus sehingga nantinya dapat berkumpul dan bercengkrama dalam keindahan yang tak terbayangkan.

    Hikmah terakhir di tulisan ini yakni pergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Waktu, banyak yang memandangnya dengan picingan sebelah mata saja. Sangat berharganya waktu dapat dirasakan saat dia pergi menjauh dari kita. Hargailah waktu maka kita akan melihat masa lalu dengan senyum merekah di wajah. Perilaku ini perlu pelatihan yang ekstra. Apalagi di zaman digital saat ini. Kecanduan bermain hp mengantarkan kita kepada kelalaian akan pentingnya waktu.

    Pelajaran diatas hanya sebagian, masih banyak hal-hal yang bisa diperoleh. Intinya, semua yang Allah SWT takdirkan tidak ada yang sia-sia. Lakukan hal-hal yang bisa kita lakukan saat pandemi seperti ini. Tak perlu mengeluh akan hal ini dan itu. Tetaplah berjalan meski perlahan. Asalkan jangan berhenti berjalan.

    Ikuti tulisan menarik 18. Dyah Ayu R lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.