Kejayaan Maritim Islam, dari Muawiyah hingga Khairuddin Barbarossa - Pilihan - www.indonesiana.id
x

19. Vira Fikriya Nabilah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Maret 2021

Rabu, 10 Maret 2021 13:10 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kejayaan Maritim Islam, dari Muawiyah hingga Khairuddin Barbarossa

    Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Muawiyah bin Abi Sufyan merupakan sosok yang berperan penting dalam pembangunan armada laut muslimin. Ia adalah pendiri dan pencetus Angkatan Laut pertama dalam Islam, pada tahun 41 H. Maritim Islam kemudian berkembang pesat. Dan salah satu pahlawan maritim Islam ialah Khairuddin Barbarossa yang di juluki "Si Janggut Merah". Oleh para orientalis, sejarah Barbarossal diselewengkan demikian rupa.

    Dibaca : 832 kali

    Maritim dan Bangsa Arab Sebelum dan Sesudah Islam

    Dahulu lautan merupakan jalur transportasi penghubung interaksi antar bangsa. Melalui laut berbagai macam sektor seperti pembangunan dan ekonomi bergantung. Segala aktivitas yang berhubungan dengan laut disebut dengan maritim. Kata maritim diambil dari bahasa Inggris maritime.

    Pada masa pra-Islam, bangsa Arab memiliki pandangan yang beragam terhadap dunia kemaritiman. Meski secara strategis bangsa Arab dikelilingi oleh lautan dari tiga arah, akan tetapi geografis gurun pasir seakan mendominasi kehidupan hingga dunia kemaritiman seolah jadi nomor sekian.

    Kondisi padang pasir yang mengelilingi bangsa Arab juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan langkanya bahan-bahan untuk membuat kapal, sehingga merekapun tidak familiar dengan dunia maritim.

    Kala itu jalur laut dikuasai oleh negara-negara kuat dunia, seperti bangsa Persia di timur, Ethiopia di garis pantai selatan, dan kekaisaran Byzantium yang menduduki wilayah sekitaran pantai Laut Putih yang meliputi Syam dan Mesir.

    Kemudian datanglah risalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. sejak saat itu Islam memberikan perhatian yang besar pada setiap aspek kehidupan, tak terkecuali pada aktivitas jihad baik di darat maupun di laut.

    Banyak sekali dalil yang menyebutkan tentang keutamaan terkait dengan jihad bahari salah satu diantaranya yaitu sebagaimana hadits:

    Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Satu kali perang di lautan lebih utama dari puluhan kali perang di darat. Barangsiapa melewati lautan, maka dia seperti melewati lembah-lembah, dan orang yang mabuk (lalu muntah) di laut laksana orang yang berlumuran darah (dalam perang)”. (HR. Ath-Thabrani, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim).

    Perkembangan maritim Islam perlahan-lahan mulai terlihat hilalnya pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, tepatnya ketika Kaum Muslimin mendapatkan kemenangan gemilang pada perang Yarmuk tahun 13 atau 15 H. Perang tersebut seolah menjadi jalan pembuka bagi kemenangan-kemenangan selanjutnya yang di raih oleh kaum muslimin.

    Puncaknya ketika wilayah-wilayah yang dikuasai Byzantium satu-persatu dapat ditaklukkan. Hingga penaklukkan Mesir yang dipimpin oleh Amru bin Al-Ash membuahkan hasil menjadikan posisi Islam sangat kuat dan mendorong perkembangan kemaritiman Islam.

     

    Sosok Dibalik Berdirinya Angkatan Laut Islam

    Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Muawiyah bin Abi Sufyan merupakan sosok yang berperan penting terhadap pembangunan armada laut muslimin. Ia di nilai sebagai pendiri dan pencetus Angkatan Laut pertama dalam Islam.

    Muawiyah dan kegigihannya pernah mengajukan dua kali permohonan pembangunan angkatan laut kepada dua khalifah: Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan, namun kedua permohonan tersebut ditolak dan tidak membuahkan hasil.

    Hingga pada tahun 41 H saat muawiyah ditunjuk menjadi khalifah, barulah cita-citanya terealisasikan.

    Sejak terbentuknya Angkatan Laut Islam, perkembangan kemaritiman makin pesat dimulai dari masa Daulah Umawiyyah hingga daulah-daulah selanjutnya, Angkatan Laut Islam menjadi andalan dan kunci keberhasilan penaklukan dan perluasan wilayah kala itu.

     

    Pahlawan Maritim Islam

    Salah satu dari sekian nama pahlawan maritim Islam ialah Khairuddin Barbarossa yang di juluki "Si Janggut Merah" dan adiknya Aruj.

    Khairuddin Barbarossa begitu dikenal dalam sejarah maritim muslimin. Sebuah pendapat menyebutkan bahwa Barbarossa berasal dari Turki, sedang sang ibu berasal dari Andalusia, dari keturunan bangsa Andalusia yang terusir dari tanah kelahirannya.

    Berangkat dari penjajahan serta pengusiran yang dialami keturunan bangsa Andalusia oleh Spanyol dan Portugis, Barbarossa bersaudara gencar melakukan perlawanan bersama relawan yang menuntut balas dan hak mereka.

    Khairuddin Barbarossa semakin tersohor setelah santer memimpin perlawanan terhadap pasukan salib Eropa bersama sang saudara Aruj.

    Kabar keduanya yang disegani di lautan sampai pada Sultan yang kala itu memegang tampuk pemerintahan Utsmani. Keduanya kemudian bergabung serta ikut andil dalam perang melawan pasukan salib Eropa dibawah Kesultanan Turki Utsmani.

    Sejarah mencatat Khairuddin Barbarossa sebagai komandan tertinggi angkatan laut Turki Utsmani. Di bawah kepemimpinanya Turki Utsmani mampu mencapai kejayaan serta kemajuan yang pesat dibidang maritim. Digambarkan sebagai sosok yang cerdas, tangguh dan cakap serta berpengalaman sungguh membuat musuh ketar-ketir ketakutan. Tak pelak namanya abadi dan harum tertulis dalam tinta emas sejarah maritim Islam.

    Namun sejarah ini diselewengkan oleh para orientalis Eropa dan musuh-musuh Islam. Mereka sengaja memutar balik sejarah Khairuddin Barbarossa, menanamkan pemahaman serta mencela dan menafsirkan sosok tersebut dengan kata "bajak laut" yang kini familiar di benak kita sebagai seorang perompak yang bengis dan menakutkan.

    Kekeliruan ini juga disampaikan lewat cerita-cerita yang menyimpang dan dibumbui dengan kedustaan yang dilebih-lebihkan. Hingga mungkin generasi esokpun tak kenal lagi siapa sosok di balik konspirasi keji ini.

    Pada kenyataannya tidak sesekali penyimpangan-penyimpangan sejarah ini ditemukan. Justru sering kali kalangan orientalis merubah teks-teks sejarah  Islam baik dengan cara menambah atau mengurangi bagian-bagian tertentu sehingga melahirkan penafsiran serta makna yang keliru.

    Untuk itu dibutuhkan pemahaman yang benar agar sejarah itu sendiri tetap lestari. Kehilangan sejarah ibarat kehilangan identitas. Tanpa sejarah berarti hidup tanpa jati diri, seseorang yang hidup tak berbekal pengetahuan tentang hari kemarin akan sulit menyadari arti perjuangan dan tujuannya di kemudian hari.

     

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.