Merawat Sungai Citarum sebagai Aset Sosial - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Foto aerial rumah warga serta akses jalan terdampak banjir luapan Sungai Citarum di Desa Sumberreja, Kecamatan Pabayuran, Kabupaten Bekasi, Senin, 22 Februari 2021. Akibatnya 6000 kepala keluarga terdampak bencana tersebut. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

Safira Fatichaturrachma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Maret 2021

Senin, 15 Maret 2021 11:19 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Merawat Sungai Citarum sebagai Aset Sosial

    Sebagai sungai yang sarat nilai sejarah dan ekonomi, kelestarian sungai Citarum perlu dirawat secara bijak merawat sungai ini bukan perkara mudah. Selain punya daya tampung besar, butuh koordinasi lintas wilayah, jabatan, termasuk harapan bagi mereka yang bergantung dari anugerah Citarum. Perlu tertanam pola pikir bahwa Citarum adalah aset sosial. Oleh karena itu perlu ditanamkan rasa kepemilikan kolektif atas sungai ini.

    Dibaca : 1.040 kali

    Sungai Citarum

    Pawai mobil siaga bencana bersirine melintas kencang di akses tol Karawang. Perahu karet di bak melengkapi waspada mobil di depannya agar menepi. Sebelum hari itu, Karawang diguyur hujan lebat semalam suntuk. Pekan ketiga Februari 2021, jadi momok rutin: banjir.

    Sungai Citarum yang membelah jantung kota, meluap dan merendam banyak rumah warga, itu yang terlihat dari balik kaca. Lalu, kenapa Citarum yang tenang bisa mendadak tidak bersahabat? Kita perlu paham bahwa merawat Citarum ialah cara menghargai air. Selain distributor air ke lahan pertanian dan pabrik setrum, DAS Citarum rumah bagi ribuan pabrik. Pengelolaan limbah disinyalir belum optimal membuat Citarum punya sejarah sebagai sungai paling tercemar di dunia. Belum lagi bicara indisiplin warganya, juga implementasi tata ruang yang tidak selalu taat aturan.

    Menangkal gelar buruk, Pemerintah menggagas aksi kolaboratif. Sebelumnya negara sudah mengintervensi pada 2008 dengan proyek Integrated Citarum Water Resources Management Investment Program. Empat tahun berjalan, BBWS Citarum, unit kerjanya Kementerian PUPR, ditetapkan sebagai operator sungai. Terbaru, Perpres nomor 15 tahun 2018 menjadi modal hukum program Citarum Harum. Dalam grand design, ada 13 rencana dari edukasi hingga pemulihan yang kini diklaim berhasil menurunkan status kerusakan menjadi “Cemar Ringan” sejak peluncuran program.

    Merawat Citarum bukan perkara mudah. Selain punya daya tampung besar, butuh koordinasi lintas wilayah, jabatan, termasuk harapan bagi mereka yang bergantung dari anugerah Citarum. Sentralnya peran Citarum mengantar pada kisah sungai Cheonggyecheon di Seoul. Paparan Preservation Institute (2007), mengisahkan masa Raja Sejong, ada dua faksi yang punya naluri berbeda. Ada faksi ingin mengembalikan kelestarian sungai, sementara yang lain ingin sungai menjadi pembuangan limbah untuk mendukung ekonomi. 

    Sebelum menjadi elok, Cheonggyecheon sangat tercemar. Pemerintah Seoul merogoh US$ 900 juta untuk merestorasi sungai terlanjur rusak itu. Untuk menyukseskan mega proyek, ada dua ide: dukungan publik dan infrastruktur kelas wahid. Bicara sungai tidak bicara air saja, namun manusia dan sarana pelengkap, kiranya itu yang bisa Citarum adaptasi.

    Keberhasilan Citarum Harum terlihat dari hasrat warga untuk terlibat. Semua warga, bukan hanya yang aktivitasnya terganggu amarah sungai. Kegagalan membangun disiplin minimal tidak buang sampah di sungai, jadi tanda belum terbentuknya hasrat komunal. Perlu tertanam pola pikir bahwa Citarum adalah aset sosial. Banyak orang survive di pinggiran sungai meski sering tersapu banjir atau dicap kumuh, karena modal sosial, bukan aset sosial. Modal sosial diperkuat melalui rasa kepemilikan kolektif agar menjadi aset sosial.

    Edukasi perilaku hidup bersih dan sehat perlu disuarakan di sudut pemukiman. Mengajak setiap orang menjadi trainer bagi keluarganya untuk bijak menggunakan air, tidak membuang sampah ke sungai, dan penggunaan tumbler. Materi sekolah tentang giat kerja bakti tiap pekan perlu dibudayakan lebih konsisten. Sangat positif bila meng-engage warga dalam hal produktif seraya ikut melakukan pelestarian.

    BUMDes sebagai motor ekonomi lokal perlu diberdayakan dalam program. Aksinya bisa menjaring botol bekas di sungai, kemudian diolah  bank sampah agar masuk kas desa. Profit itu dikonversi membangun sarana umum, misalnya pembangkit listrik untuk penerangan jalan atau pengerukan tanah sedimen agar sungai tidak dangkal. 

    Tak kalah penting dari mendidik manusia, infrastruktur menjadi kunci jaga asa. Cheonggyecheon lewat BRT sukses mengatasi tata kota dan urusan air yang buruk. Citarum bisa meniru dengan mengintegrasikan transportasi, pemukiman, dan industri agar tata ruang sungai terjaga. Pergerakan penduduk di tepian Citarum bisa dikendalikan dengan ekosistem infrastruktur memadai. Jika sudah rampung ketiganya, Ditjen SDA bisa fokus melakukan revitalisasi sungai, dari pemulihan hingga normalisasi. 

     

    #HariAirDuniaXXIX2021

    #MengelolaAirUntukNegeri

    #SigapMembangunNegeri



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.