Air Permukaan, Kearifan Lokal dan Penguatan Desa Berbasis Pariwisata - Travel - www.indonesiana.id
x

Muhammad Oliez

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Maret 2021

Rabu, 17 Maret 2021 19:05 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Air Permukaan, Kearifan Lokal dan Penguatan Desa Berbasis Pariwisata

    Air adalah sumber kehidupan. Sayangnya, belakangan ini cara kita memperlakukan air termasuk sumber-sumbernya keliru. Hingga akhirnya air yang mestinya berkah berubah menjadi biang masalah. Kita sebenarnya memiliki modal wawasan kearifan lokal tentang cara memperlakukan air. Upaya menjaga air harus terus dilakukan. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni mengawinkan sumber daya alam (SDA) itu dengan berbagai konsep pariwisata terkini. Pariwisata dipilih karena memiliki keterkaitan rantai nilai kegiatan yang luas dengan berbagai sektor lainnya. Selain itu sektor pariwisata juga mampu mendorong kemajuan daerah. Mengapa desa? Karena distribusi penduduk Indonesia sebagian besar tinggal di wilayah perdesaan (rural area). Berdasar data yang diterbitkan BPS tahun 2019, ada 83.931 desa yang tersebar di 98 kota dan 416 kabupaten se Indonesia. Progam pemaksimalan sumber air permukaan berbasis kearifan lokal ini layak digaungkan. Kegiatan untuk melahirkan Umbul Ponggok-Umbul Ponggok lain harus mulai dilakukan. Inti dari upaya ini adalah agar air tidak hanya sekedar menjadi sumber kehidupan, namun juga pangkal kesejahteraan.

    Dibaca : 516 kali

     Air Permukaan, Kearifan Lokal dan Penguatan Desa Berbasis Pariwisata

     

     Caption : Warga berpose dengan latar belakang Embung Bapangan yang ada di Kabupaten Jepara. 

    All things are from and all things are resolved into water. Pernyataan ini buah pikir filosof Yunani kuno, Thales yang hidup 624 SM - 546 SM. Sejak ribuan tahun lalu hingga sekarang tidak ada yang meragukan peran vital air bagi kehidupan. Manusia bahkan sangat bergantung dengan air. Sebab 70 persen tubuh manusia adalah air.

    Berlandas pemikiran Thales, mestinya kita memperlakukan air laiknya menghargai diri. Karena air adalah kehidupan itu sendiri. Sayang, praktiknya justru malah sebaliknya. Hingga akhirnya air yang semula berkah berubah menjadi masalah seperti bencana banjir atau air bah.   

    Soal penyebab bencana, sudah banyak diulas para ahli, baik ranah hulu hingga hilir. Dan benang merahnya sama, kuncinya terletak pada cara kita memperlakukan air. Kita memiliki modal wawasan kearifan lokal tentang cara memperlakukan air. Semisal adanya larangan yang pantang dilakukan di berbagai sumber air. Terlebih sumber air permukaan seperti telaga, sungai, embung, waduk hingga bendungan. Sayangnya, warisan turun temurun itu kerap diabaikan dengan berbagai alasan.

    Kini, saatnya “nguri-uri” kearifan lokal itu lagi. Harapannya, agar sumber air permukaan itu tetap lestari dan beragam manfaatnya bisa “menghidupkan” berbagai hal di sekitarnya. Upaya menjaga air harus terus dilakukan. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni mengawinkan sumber daya alam (SDA) itu dengan berbagai konsep pariwisata terkini. Bisa ecotourism, green tourism, wisata hijau atau lainnya tergantung potensi yang dimiliki. Upaya itu juga harus dibarengi dengan penguatan desa.

    Pariwisata dipilih karena memiliki keterkaitan rantai nilai kegiatan yang luas dengan berbagai sektor lainnya. Selain itu sektor pariwisata juga mampu mendorong kemajuan daerah. 

    Mengapa desa? Karena distribusi penduduk Indonesia sebagian besar tinggal di wilayah perdesaan (rural area). Berdasar data yang diterbitkan BPS tahun 2019, ada 83.931 desa yang tersebar di 98 kota dan 416 kabupaten se Indonesia.

    Lazimnya, kawasan perdesaan memiliki berbagai sumber air permukaan. Mulai dari telaga, sungai, embung, kolam, waduk, bendungan dan lainnya. Pengembangan wisata berbasis air permukaan ini akan menggerakkan perekonomian dan beragam sektor lain di perdesaan. Urbanisasi yang kerap memicu beragam masalah juga bisa diredam. Sebab ada sumber daya alternatif yang bisa dimaksimalkan untuk meminimalisir kemiskinan dan kesenjangan pembangunan di perdesaan. Upaya ini juga turut berkontribusi positif menekan pemanasan global.

    Gambaran ini tidak muluk-muluk. Mau contoh? Umbul Ponggok, Klaten, Jateng bisa dijadikan kiblat. Ternyata jika dikelola dengan resep yang tepat, sumber air permukaan yang dulunya merupakan tampungan air untuk kebutuhan operasional pabrik gula itu mampu menggenjot daya saing Desa Ponggok dan memicu beragam efek berantai positif lainnya.  Nilai tambah yang diperoleh tidak hanya aspek ekonomis saja, tapi juga aspek ekologis, edukatif, sosial budaya hingga rekreatif.  

    Progam pemaksimalan sumber air permukaan berbasis kearifan lokal ini layak digaungkan. Kegiatan untuk melahirkan Umbul Ponggok-Umbul Ponggok lain harus mulai dilakukan. Inti dari upaya ini adalah agar air tidak hanya sekedar menjadi sumber kehidupan, namun juga pangkal kesejahteraan. (muhammad olies)

    #HariAirDuniaXXIX2021

    #MengelolaAirUntukNegeri

    #SigapMembangunNegeri

    Referensi

    1. The Secret of Water, Masaru Emoto
    2. Filosofi Air, Jejak Memaknai Hidup, Ign Elis Handoko SCJ
    3. bps.go.id



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.