Tentangku dan Dia - Analisis - www.indonesiana.id
x

7. Dina Sabila Alamsyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 Maret 2021

Kamis, 18 Maret 2021 05:59 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Tentangku dan Dia


    Dibaca : 878 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    TENTANGKU DAN DIA

    Dia yang kita kenal sebagai syurga sebelum syurga

    Dia yang menjadi kecintaan siapapun yang pernah merasakan hidup bersamanya

    Dia yang namanya harum mewangi dikalangan penuntut ilmu syar’i

    Ya, dia adalah STIBA Ar-raayah sukabumi

    Sumber: dokumentasi pribadi

     

    Ketika surya memancar dengan teriknya, langit yang cerah nan luas di angkasa serta suara hening perkampungan karenapenduduknya yang sedang istirahat, saat itu pula telepongenggam berdering dengan kencangnya menandakan sebuahtelepon masuk. Tak menunggu lama langsung saja aku angkatpanggilan dengan nomor yang tidak diketahui itu.

     

    “Halo, Assalamu’alaikum”.

    “Halo, wa’alaikumussalam warahmatullah”.

    “Kami dari Panitia PMB STIBA Ar-Raayah memberitahukankepada saudari Fulanah bahwa saudari telah Lulus dalam seleksi pemilihan mahasiswa  STIBA Ar-Raayah, dan bisa melanjutkan proses pendaftaran”.

    Ketika itu pula ucap dan sujud syukur yang tiada henti,  rasa bahagia dan bangga yang tidak tertahan dan air mata yang tidak bisa dibendung lagi sehingga mengalir begitu saja. Bagiku kata LULUS adalah harapan yang hanya sebuah harapan dan mimpi yang hanya sebuah mimpi yang tidak untuk menjadinyata. Tetapi, tidak bagi Allah azza wa jalla, Dia maha tau apayang terbaik untuk hamba-Nya, Dia maha kuasa atas segalasesuatu, Dia mengabulkan do’a hamba-Nya yang mau berusahadan bertawakal kepada-Nya, karena tidak pernah dan tidak akanada kata mustahil bagi-Nya selagi Dia berkehendak. Dan darisinilah jejak langkahku dimulai, langkah menuju kehidupanyang lebih baik, dimana aku harus meninggalkan orang-orang tercinta di sekitarku, meninggalkan kehidupanku yang berbeda180 derajat dengan kehidupan ku yang sekarang danmeninggalkan apapun yang memang seharusnya aku tinggalkansaat itu demi mewujudkan cita-citaku dan menggapai semua asa, meskipun itu sangat berat dan bahkan saat itu aku masih belummampu meninggalkan semuanya, tetapi ini demi kebaikanku danagamaku dan aku pun berniat meninggalkan segalanya karenaAllah.

    Satu bulan berlalu setelah pengumuman itu, gerbang besarberwarna kuning sudah hadir di hadapanku, dan di balik gerbangitu adalah mereka para penuntut ilmu syar’i, lingkungan yang ramah nan islami dan mesjid yang menjulang dengan qubahputihnya yang sangat khas. Ahhh baru berdiri di depangerbangnya saja sudah bisa ku rasakan hangatnya ukhuwahdisana, sudah bisa ku cium wangi ilmu syar’i yang diterapkandisana dan sudah bisa kulihat bagaimana cara merekabermu’amalah dan berbicara antar sesama dengan berbahasaArab. Sudahlah, aku sangat jatuh cinta dengan lingkungan ini, sangat sangat jatuh cinta sampai aku tidak mau berpaling darinya, apakah mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Tapi, satu hal yang sangat aku takutkan, mengingat kampus ini menerapkan sistem gugur dalam setiapsemesternya bagi mahasiswa yang tidak mampu mencapai standar nilai disana, maka aku yang seorang alumni siswi SMK Pertanian dan tidak mempunyai dasar berbahasa Arab sedikitpun hanya bisa mengandalkan tekad yang kuat dan niat menuntutilmu syar’i yang teguh agar bisa bertahan di tempat ini dan bisamelihat sampai mana kemampuanku dalam berjihad di jalanAllah dengan menuntut ilmu syar’i.

    Satu semester berlalu dengan penuh liku dan haru, dan akuyang masih kesulitan dalam menghafalkan kosa kata bahasaArab yang sangat asing di telingaku, masih terus berjuang danbertahan karena izin Allah, meskipun aku tau ini tidak mudahdan mustahil bagiku, tapi sekali lagi tidak bagi-Nya. Banyaksekali keluhan yang aku rasakan selama satu semester ini, hafalan kosa kata yang belum selesai, hafalan al-qur’an yang belum mutqin, hafalan pelajaran yang belum faham, aahhhbanyak sekali sehingga waktu 24 jam terasa sangat tidak cukupbagiku selama aku disini dengan kemampuan menghafalku yang kurang. Tapi percaya atau tidak aku bisa melewati semua itu, aku bisa lulus di semester ini dengan segala cobaan dan rintangan sehingga bisa lanjut menunut ilmu syar’i di semester berikutnya dengan izin Allah.

    Namun, kebahagiaan itu hanya sesaat, Allah memberikucobaan yang cukup berat bagiku dengan mendatangkan sebuahpenyakit sehingga aku harus menjalani tindakan operasi di salah satu organ tubuhku. Ya, aku sangat terpukul saat itu, aku sangatlemah dan tak bersemangat, bahkan untuk melanjutkan studypun aku enggan dengan kondisiku seperti itu. Tetapi Allah tidakakan menguji hamba-Nya melainkan dengan kemampuannya, Dia menguatkanku dengan menghadirkan orang-orang shalihyang menyayangiku dan juga memberiku semangat dalammelanjutkan PR ku dalam menuntut ilmu. Tidak banyak yang aku minta pada saat itu selain kesehatan dan dukungan dari orang-orang yang aku sayang, karena masih banyak yang harusaku selesaikan dalam menutut ilmu, dan karena aku tau bahwa umat muslim diluar sana menunggu generasi cendikia yang bisa mendakwahkan Islam kepada seluruh ummat manusia.

    Sudahlah, jangan terlalu merasa terpuruk, masih banyak diluar sana orang yang lebih menderita darimu, yang lebih sakit dan lemah darimu, jangan jadi manja dan pemalas, karena sesungguhnya Arraayah tidak pantas bagi pemalas dan orang yang berleha-leha. Pemikirian seperti inilah yang selalu aku terapkan ketika diri ini malas dalam menjalani amanah ini, ketika aku sudah tidak tahan dengan tumpukan tugas yang tiada henti dan hafalan yang selalu datang setiap hari. Aku percaya bahwa dibalik kelelahan ini, dibalik pilu dan keluh ini ada hasil yang manis dan hadiah yang indah sedang Allah persiapkan untukku di Syurga-Nya kelak, selama aku sabar dan ikhlas dalam menjalani amanah menuntut ilmu syar’i ini.

    Hari demi hari berganti, tak terasa sudah satu tahun aku disini, rasanya baru kemarin aku mengikuti OMBA, rasanya baru kemarin aku menjadi mahasiwi baru. Lalu tibalah tahun ini, tahun dimana untuk pertama kalinya aku menjalani puasa Ramadhan tanpa keluargaku, melaksanakan hari raya ‘idul fitri dengan teman-teman seangkatanku dan tahun dimana aku dapat merasakan suasana ukhuwah yang sangat hangat dengan teman satu angkatan selama menjalani kurang lebih dua bulan di asrama tanpa kakak tingkat, dan hanya kita disana tanpa ada mereka. Ahhh ingiiin sekali aku merasakan suasana itu lagi, begitu amat terasa ukhuwah diantara kita saat itu karena memang hanya ada kita dan beberapa kakak tingkat disana. Dan pada saat hari raya ‘idul fitri, haru biru membalut hari itu, rindu kepada keluarga amat terasa saat itu, kita yang tidak mampu untuk bertemu hanya dapat memandang wajah mereka dilayar telepon genggam, air mata yang mengalir di ufuk mata mereka menandakan bahwa mereka pun benar-benar merindukan kita yang tidak dapat merayakan hari raya bersama ditempat yang sama. Ya, tahun pertama kita di Arraayah tidak ada libur hari raya dan kita menetap disana selama dua tahun tanpa pulang kampung. Berat memang, tapi aturan ini diberlakukan demi keselamatan bahasa arab kita, karena mungkin saja satu bulan kita menetap dirumah bisa melunturkan kosa kata bahasa arab yang sudah kita hafalkan selama satu tahun. Mustahil memang, tapi tetap saja kemampuan berbahasa arab kita belum kuat, makanya perlu waktu dua tahun menetap dilingkungan orang-orang yang berbicara bahasa arab untuk menguatkan kemampuan itu.

    Berakhir sudah masa libur semester itu, pengumuman kelulusan pun sudah diumumkan, dan sekali lagi namaku tertera di kertas daftar mahasiswi yang lulus, Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan untuk menjalani amanah ini dan sekarang sudah waktunya mempersiapkan diri untuk melanjutkan semester berikutnya. Ada yang berbeda di semester ini, semester lalu aku hanya mahasiswi ‘idad lughowi (persiapan bahasa), tapi sekarang aku sudah berstatus mahasiwi kulliyah (program sarjana), masih seorang mahasiswi memang, tapi sekarang amanah yang ditanggung lebih berat, begitupun perjuangan untuk mempertahankannya. Sekarang sudah bukan waktunya main-main, karena perjuangan yang sebenarnya baru saja dimulai. Satu dua semester aku lewati dengan penuh perjuangan dan kesabaran, dan lagi lagi aku masih diberikan kepercayaan oleh Allah untuk melanjutkan perjuangan ini di semester tiga kulliyah.

    Beberapa waktu berlalu, aku menjalani kehidupan di Arraayah seperti biasanya pada semester ketiga ini, hingga akhirnya pada suatu subuh salah seorang ustadz Arraayah mengejutkan kita dengan pengumumannya yang mana beliau mengumumkan bahwa kita harus berkemas dan pulang ke rumah kita masing-masing. Kenapa sangat mendadak? Kenapa harus sekarang, padahal belum jadwalnya pulang kampung? Ada apa memangnya, kenapa kita harus pulang secepat ini? Ya, kalian pasti sudah tau apa sebab kita harus segera pulang. Makhluk kecil yang Allah kirimkan ke bumi yang kita kenal sebagai Covid-19 menjadi satu satunya alasan mengapa kita harus berpisah dan menjalani perkuliahan secara daring. Ah menyebalkan sekali memang, kenapa harus ada makhluk kecil itu? Kenapa harus ada perpisahan ini ketika kita sedang menikmati hangatnya ukhuwah bersama? Dan tetap saja peraturan ini tidak bisa ditolak. Kalau Mudir sudah memustuskan seperti itu ya tidak ada yang harus kita lakukan selain mematuhinya.

    Dengan berat hati dan sedikit kebingungan, kita mengemasi barang-barang kita yang begitu banyak. Ada yang sibuk menelepon orang tuanya dan memberi kabar bahwa dia harus pulang, ada yang sibuk memesan tiket pesawat, tiket kereta dan yang lainnya. Aku yang sudah selesai berkemas hanya bisa terdiam kebingungan, apakah benar aku akan pulang dan menemui keluargaku? Sampai kapan perpulangan ini? Apakah aku akan kembali lagi ke kampus yang sudah sangat aku cintai ini? Ah sudahlah, kepastian kembali itu belum juga hadir sampai detik ini, kerinduan yang sudah meluap belum juga tertumpahkan, impian berkumpul bersama pun belum kita ketahui kapan akan terealisasi. Haruskah aku menahan rindu yang lebih dalam lagi pada kampusku yang tercinta? Apakah aku akan menginjak tempat itu kembali? Entahlah, hanya sang Ilahi yang mengetahui kapan perpulangan itu akan terjadi.

     

    Alhamdulillah, inilah kisahku bersamanya, cinta pandangan pertamaku (STIBA AR-RAAYAH Sukabumi) tercinta

     

    Ikuti tulisan menarik 7. Dina Sabila Alamsyah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.