Politik Zaman Now dan Era Perjuangan (1): Menapaki Jejak Perintis Republik - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Presiden Soekarno berpidati di depan delegasi Konperensi Asia Afrika di Bandung, 1955 (Lisa Larsen, THE LIFE Picture Collection, Getty Images)

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 24 Maret 2021 16:31 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Politik Zaman Now dan Era Perjuangan (1): Menapaki Jejak Perintis Republik

    Pidato pembelaan Bung Karno, pembelaan Bung Hatta, maupun tulisan-tulisan Tjokroaminoto, Agus Salim, serta Tan Malaka menunjukkan dengan gamblang kualitas mereka sebagai pejuang dan pemimpin rakyat. Pikiran mereka tidak terjebak dalam slogan dan jargon yang miskin substansi, melainkan menukik pada pokok persoalan bangsa yang tengah memperjuangkan masa depannya.

    Dibaca : 1.308 kali

     

    Kisah Partai Demokrat yang belum usai selayaknya mendorong kita untuk membuka kembali lembaran sejarah. Sepak terjang para politisi zaman now memang membuat rakyat banyak terkesiap dan bertanya-tanya: apakah yang kosong dari jagat politik masa kini bila dibandingkan dengan dunia pergerakan menjelang kemerdekaan? Apa perbedaan karakter politisi masa kini dan para perintis Republik ini? Bagaimana mereka berpolitik dan apa yang mereka perjuangkan agar Republik ini berdiri?

    Melalui jalan yang dirintis oleh tokoh-tokoh sepuh, di antaranya Tjokroaminoto, Agus Salim, serta Tan Malaka, banyak pemuda yang terjun ke dunia pergerakan—usia mereka umumnya di akhir belasan dan di awal duapuluhan tahun. Mereka berjuang sejak muda dan mengajarkan melalui contoh bahwa tidak ada jalan pintas dalam politik kecuali bagi orang-orang yang malas dan menyukai produk karbitan.

    Puluhan tahun mereka merintis jalan bagi anak-anak muda yang kemudian memimpin Republik ini di awal kemerdekaan—sebutlah di antaranya Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir. Saat belajar di Belanda dan memimpin Perhimpunan Indonesia, Hatta menghadiri Kongres Melawan Penindasan Kolonial dan Imperialisme yang diadakan di Brussels, Belgia, pada 10-15 Februari 1927—yang juga dihadiri Nehru. Beberapa bulan kemudian Hatta ditangkap polisi Belanda.

    Bagi ketiga figur muda itu, Agus Salim dan Tjokroaminoto tak ubahnya guru, mentor, dan penasihat. Demi Republik, pada usia 63 tahun, Agus Salim tidak merasa tua untuk duduk sebagai menteri luar negeri dalam kabinet Sjahrir yang menjadi perdana menteri pada umur 35 tahun. Meskipun masa-masa seputar kemerdekaan bukanlah masa yang mudah lantaran bangsa ini baru memulai babak baru sejarahnya, namun para perintis Republik ini bahu-membahu bersama untuk mewujudkan cita-cita rakyat menjadi bangsa yang merdeka, berdaulat, dan sejahtera.

    Anak-anak muda ini ditempa oleh pengalaman konkret sehingga matang ketika menjadi pemimpin bangsanya. Mereka bukan pemimpin yang mengandalkan orangtua, melainkan membangun sendiri tulang punggungnya hingga mampu tegak berdiri. Mereka berpikir, belajar, magang, berorganisasi, menulis, mendidik, dan juga masuk penjara serta pengasingan. Mereka menyelami makna pepatah Belanda: “Memimpin itu jalan menderita.”

    Sangat menarik dan penting bagi pelajaran kita di masa kini bahwa para pejuang itu, baik generasi tua seperti Tan Malaka dan lainnya, maupun yang lebih muda seperti Bung Karno dan lainnya, ialah bahwa mereka aktivis politik sekaligus pemikir. Mereka berkenalan dengan banyak pemikiran dan membangun konstruksi pemikiran sendiri mengenai masa depan Republik yang tengah diperjuangkan. Mereka bukanlah orang yang terjun ke dunia perjuangan politik dengan bekal benak yang kosong. Mereka pembaca berat karya-karya pemikir dunia. Mereka bukan petualang yang berniat memuaskan hasrat kuasa dan harta.

    Pidato pembelaan Bung Karno di hadapan pengadilan kolonial, Indonesia Menggugat, pembelaan Bung Hatta dua tahun sebelumnya, Indonesia Merdeka, risalah Sjahrir Perjuangan Kita,  maupun tulisan-tulisan Tjokroaminoto, Agus Salim, serta Tan Malaka [antara lain Menuju Republik Indonesia] menunjukkan dengan gamblang kualitas mereka sebagai pejuang dan pemimpin rakyat. Pikiran mereka tidak terjebak dalam slogan dan jargon yang miskin substansi, melainkan menukik pada pokok persoalan yang dihadapi bangsa yang tengah memperjuangkan masa depannya. Mereka bukan sekedar terjun dalam perjuangan dan politik praktis, tetapi memahami benar apa tujuan yang ingin dicapai dan berusaha keras memberi bentuk pada masa depan itu.

    Walaupun tidak mudah, mereka terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat untuk membangun kesadaran politik rakyat. Tjokro adalah singa podium yang menarik massa rakyat untuk menghadiri pertemuan; ia secara teratur melakukan perjalanan keliling hingga akhirnya wafat karena kelelahan. Agus Salim penulis yang tajam dan menguasai berbagai bahasa asing, sedangkan Tan Malaka kuat dalam analisis dan ia penulis produktif di tengah persembunyian dari perburuan polisi kolonial.

    Generasi Soekarno-Hatta dan Sjahrir banyak berinteraksi dengan pemikiran dunia hingga mereka memahami konstelasi perjuangan bangsa di tengah pergaulan internasional. Mereka tidak segan berbicara dengan rasa percaya diri yang tinggi di forum internasional. Mereka menjadi pemimpin dengan membawa bekal yang cukup, tapi bukan sejenis popularitas seperti yang sekarang populer.

    Melalui tulisan yang tajam dan menukik, serta melalui pertemuan-pertemuan politik, maupun organisasi, mereka mengedukasi rakyat agar sadar politik—edukasi merupakan tugas penting dalam membangun demokrasi yang sepenuhnya mereka sadari. Mereka terus memberi pendidikan politik yang benar bahwa politik adalah alat memperjuangkan gagasan, kemerdekaan, keadilan, kemandirian, dan kesejahteraan bersama. Mereka mengajak rakyat berorganisasi sebagai tempat memperjuangkan kepentingan bersama, memberikan sumbangan materiil agar roda organisasi bergerak, dan bukan menjadikannya tempat mencari penghidupan bagi diri sendiri. Mereka mengembangkan pemikiran mengenai bentuk negeri ini, demokrasi macam apa yang akan dibangun, bagaimana mengisi kemerdekaan, dan seterusnya.

    Dalam masa-masa yang sukar, yang diwarnai perbedaan pandangan yang tajam, kita dapat menangkap suasana batin kecintaan mereka kepada Republik yang masih berusia muda saat itu. Mereka politisi pejuang, bukan homopoliticus yang memburu kuasa dan harta untuk diri sendiri maupun kelompoknya. Mereka menggunakan politik sebagai jalan untuk membangun masyarakat yang adil, demokratis, dan sejahtera. Mereka tidak berpikir untuk menjadikan posisi politik untuk memperoleh akses terhadap kekuasaan dan sumberdaya ekonomi atau sekedar sebagai jalan pintas menjadi komisaris perusahaan negara, sebab mereka malu melakukannya. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.