Sjamsiah Achmad Sang Matahari Dari Sengkang Wajo - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

cover buku Sjamsiah Achmad Matahari Dari Sengkang Wajo

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 28 Maret 2021 09:01 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Sjamsiah Achmad Sang Matahari Dari Sengkang Wajo

    Sjamsiah Achmad adalah bukti bahwa perempuan mempunyai keteguhan dalam belajar, mampu mandiri dan mampu dalam mengembangkan karir.

    Dibaca : 529 kali

    Judul: Matahari Dari Sengkang Wajo

    Penulis: Sjamsiah Achmad

    Penyunting: Imelda Bachtiar

    Tahun Terbit: 2013

    Penerbit: Elex Media Komputindo                                                                       

    Tebal: xv + 317

    ISBN: 978-602-02-0769-8

    Sengkang adalah kota kecil di tepi Danau Tempe. Ibukota Kabupaten Wajo ini sangat indah. Dahulu kala Wajo adalah bagian dari persekutuan Bugis (Bone, Wajo dan Soppeng). Kita mengenal para lelaki Bugis adalah orang-orang yang berani melaut dan merantau. Namun ternyata bukan hanya lelakinya saja yang berani mencari hidup di rantau. Tetapi perempuan Wajo juga berani. Sjamsiah Achmad adalah bukti keberanian perempuan Wajo dalam merantau.

    Dibesarkan dalam keluarga seorang pegawai pemerintah Belanda di wilayah yang pelosok membuat Sjamsiah tak ada alasan untuk sekolah tinggi-tinggi. Selain dia adalah perempuan yang dalam budaya saat itu tidak dituntut dan difasilitasi untuk berkarya, Sengkang adalah tempat yang pelosok pula. Namun karena keluarganya adalah keluarga yang maju, Sjamsiah mendapatkan kesempatan bersekolah. Namun sekali lagi karena dia adalah perempuan maka Sjamsiah diarahkan untuk menjadi guru. Sepertinya hanya gurulah yang boleh dijabat oleh perempuan pada masa itu.

    Perempuan kelahiran10 Maret 1933 ini menjadi guru di Bone setelah menyelesaikan pendidikan guru di Makassar. Namun keinginannya untuk maju, pada tahun 1954 ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Ia mengambil ijazah B-1 supaya bisa memenuhi peraturan baru untuk mengajar. Tak hanya menyelesaikan pendidikan keguruan, Sjamsiah juga menjadi mahasiswa di Jurusan Sastra dan Filsafat Universitas Kristen Indonesia (UKI). Sjamsiah menyelesaikan sarjana muda pada tahun 1959.

    Selepas kuliah ia diajak oleh salah satu dosennya untuk bergabung dengan Bagian Riset Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Posisinya ini mebuat Sjamsiah berkeliling Pulau Jawa. Kesempatan belajar ke luar negeri didapatnya saat ia ditugasi untuk mengikuti sebuah seminar di Hawaii. Alih-alih hanya menghadiri seminar, ia malah memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di negeri Paman Sam. Ia mendapat beasiswa di School of Education di New York.

    Sepulang dari sekolah di Amerika ia bergabung dengan Departemen Urusan Riset Nasional. Departemen Urusan Riset Nasional sendiri berdiri pada tahun 1962. Departemen ini adalah cikal bakal dari Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI). Sjamsiah ditugasi untuk mengelola hubungan luar negeri pada Direktorat Administrasi Ilmiah.

    Perempuan yang saat masih remaja pernah bertemu dengan Presiden Sukarno itu, beralih profesi menjadi Sekretaris Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet di Moscow. Perubahan profesi ini terjadi karena sebuah peristiwa kecelakaan. Sjamsiah mengalami luka bakar dan harus mendapatkan perawatan. Ia menerima tawaran untuk perawatan di Uni Soviet sekaligus menjadi sekretaris Duta Besar Indonesia di Uni Soviet – Manai Sophian. Sjamsiah masih berkerabat dengan Manai Sophian.

    Sepulang dari Moscow, Sjamsiah kembali ke LIPI dan menjabat sebagai Kepala Biro. Pengalamannya sebagai Sekretaris Duta Besar sangat membantu tugas-tugasnya sebagai Kepala Biro di LIPI. Ia berhasil membentuk unit penelitian asing di LIPI.

    Karena pengalamannya dalam bidang pengelolaan penelitian internasional, termasuk dengan UNESCO, Sjamsiah diperbantukan di Office for Science and Techmology di Markas Besar PBB pada tahun 1978. Dari tahun 1978 – 1983 Sjamsiah berkarier di markas PBB di New York. Selain di kantor urusan sain dan teknologi, Sjamsiah juga pernah bekerja di kantor perencanaan dan koordinasi serta di urusan Lembaga Swadaya Masyarakat yang berada di bawah Sekretaris Jenderal PBB. Selanjutnya pada tahun 1883 sampai 1988 Sjamsiah pindah ke Wina Austria. Masih di bawah PBB, Sjahsiah berkecimpung di urusan perempuan dan humanitarian.

    Pengalamannya mengurusi urusan perempuan di PBB ini membuat dirinya dilirik oleh Sulasikin Murpratomo Menteri Negara Urusan Peranan Wanita. Ia dipanggil pulang untuk menjadi Sekretaris Meneg UPW. Sjahsiah sangat besar perannya bagi Meneg UPW dalam berkoordinasi dengan pihak-pihak internasional. Sjahsiah juga berhasil menelorkan dua program untuk memajukan perempuan Indonesia. Kedua program tersebut adalah Latihan Kepemimpinan Wanita (LKW) dan Bina Keluarga Balita (BKB).

    Kecintaannya pada dunia pendidikan membuat Sjamsiah kembali menjadi guru pada tahun 2001. Ia mengabdikan diri untuk mengajar di Program Pasca Sarjana Studi Kajian Wanita, Universitas Indonesia. Selain menjadi dosen, Sjahsiah juga sangat aktif untuk meningkatkan peran perempuan di dunia politik. Sjamsiah juga terus aktif menyumbangkan pikirannya dalam eliminasi diskriminasi terhadap perempuan di level internasional. Salah satu pengabdiannya untuk perempuan di dunia internasional adalah menjadi anggota United Nations Committee on the Elimination of Discrimination Against Women pada tahun 2000.

    Sjamsiah adalah contoh seorang perempuan yang gigih, tekun belajar dan brillian. Kegigihannya ditunjukkan melalui upaya sekolah sampai harus jauh dari keluarga. Sejak melanjutkan sekolah guru di Makassar kemudian ke Jakarta, Sjamsiah selalu jauh dari keluarga. Kegigihannya ini ditunjang dengan sifatnya yang mandiri. Ketekunannya dalam belajar ditunjukkan dari karirnya yang berubah-ubah tetapi saling mendukung. Sjamsiah telah terbukti mampu belajar hal baru dengan sangat cepat. Mulai berkarier sebagai guru, kemudian menjadi peneliti, menjadi Sekretaris di Kedutaan dan kemudian menjadi organisator. Bidang yang digeluti pun berubah dari mengajar, meneliti bidang pendidikan, bidang teknologi dan kemudian bidang pemberdayaan perempuan. Tanpa kemampuan dan ketekunan belajar mustahil Sjamsiah bisa berhasil. Sedangkan ke-brilian-annya ditunjukan dengan tawaran-tawaran pihak internasional untuk mempercayainya memegang jabatan penting. Beasiswa dari New York University, tawaran bekerja di PBB adalah bukti bahwa Sjamsiah orang yang cerdas dan memiliki kemampuan memimpin.

    Meski karir internasionalnya moncer, tetapi Sjamsiah adalah seorang perempuan yang mencintai bangsanya. itulah sebabnya saat ia dipanggil untuk membantu Kementerian Negara Urusan Peranan Wanita, serta merta ia menyambut permintaan tersebut. Sjahsiah berperan besar dalam sektor pembedayaan perempuan Indonesia termasuk di bidang politik. Selain itu Sjamsiah juga ingin membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada generasi berikutnya melalui dunia kampus.

    Sjamsiah adalah benar-benar Matahari Dari Sengkang. (582)

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.