Performa Shopping Center di Era Digitalisasi - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Yakob Hidayat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Maret 2021

Selasa, 30 Maret 2021 18:07 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Performa Shopping Center di Era Digitalisasi

    artikel ini menjelaskan tentang hubungan antara era digitalisasi dengan tingkat hunian (occupancy rate) pusat perbelanjaan (shopping center) di Jakarta

    Dibaca : 415 kali

    Jakarta sebagai pusat perekonomian dan pusat pemerintahan Indonesia mempunyai luas wilayah sebesar 661,5 km2 dan jumlah penduduk sebesar 10.557.810 jiwa pada tahun 2019. Pertumbuhan penduduk Jakarta rata-rata sebesar 1,19 persen pada tahun 2010-2019. Meskipun luas wilayahnya kecil, perekonomian Jakarta mempunyai kontribusi terbesar terhadap perekonomian nasional yaitu sebesar 16,86 persen pada tahun 2019 sehingga menjadi daya tarik yang besar bagi investor baik investor dalam negeri maupun luar negeri. Atas pertimbangan potensi tersebut, pembangunan untuk properti komersial di Jakarta akan memberikan potensi keuntungan tinggi bagi investor. Properti komersial adalah jenis properti yang mempunyai kemampuan komersial untuk menghasilkan arus kas dan semua aspek komersialnya. Salah satu jenis properti komersial yaitu shopping center atau pusat perbelanjaan. 

    Dalam kehidupan masyarakat Kota Jakarta yang modern, shopping center telah menjadi simbol urban. Sarana untuk pembelian sesuatu yang sudah direncanakan di rumah menjadi fungsi shopping center yang paling minimal. Shopping center juga sebagai wadah kebutuhan berbelanja praktis, yaitu konsep berbelanja dan hiburan sekaligus di satu tempat. Seiring dengan berkembangnya zaman, shopping center kini mulai ditinggalkan para penikmatnya. 

    Pertumbuhan globalisasi yang cepat mengakibatkan era digital sedang berlari kencang, salah satunya dipertegas dengan menjamurnya pasar online yang mengakibatkan pergeseran selera berbelanja masyarakat. Media pemasaran online pada era digital seolah sebagai primadona pemecah solusi, oleh sebab itu pelaku usaha perlu untuk memanfaatkan media pemasaran online sebagai motor penggerak roda bisnisnya. Fasilitas yang disediakan di internet memberikan warna baru bagi dunia bisnis. 

    Online shop merupakan salah satu fasilitas yang disediakan di internet, yang mempermudah konsumen untuk melakukan transaksi dan dapat mengefisiensikan waktu. Perubahan cara belanja dengan menggunakan online shop sedikit banyak menggeser cara bertransaksi di pasar menggunakan komunikasi secara verbal dalam bertransaksi, sebaliknya jika berbelanja melalui online shop proses bertransaksinya hanya melalui jaringan internet tanpa bertatap muka sehingga tidak adanya proses tawar menawar atau berkomunikasi verbal.

    Pertumbuhan E-commerce di Jakarta

    Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia, nilai transaksi e-commerce di Indonesia mencapai 266,3 triliun rupiah. Sebagai pembanding, pada tahun 2017 tercatat transaksi e-commerce di Indonesia sebesar 42,2 triliun rupiah atau mengalami peningkatan sebesar 531,04 persen dalam 4 tahun terakhir.

    Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 yang menyatakan bahwa setiap tahun terjadi peningkatan jumlah usaha baru beroperasi yang berbasis online. Tercatat 45,93 persen usaha baru mulai beroperasi pada rentang tahun 2017-2019. Sebanyak 71,18 persen usaha diantaranya memulai penjualan melalui internet selama kurun waktu tiga tahun terakhir. 

    Sementara itu sebanyak 26,90 persen usaha mulai berjualan online pada tahun 2010 hingga tahun 2016, dan hanya 1,92 persen usaha yang memulai sebelum tahun 2010. Hal ini berarti bahwa perkembangan teknologi internet yang masif dalam beberapa tahun terakhir membuat sebagian besar pelaku usaha beralih untuk memasarkan produknya secara online. Pertumbuhan ini ditandai dengan berbagai macam media penjualan online salah satu diantaranya adalah marketplace. Banyak marketplace yang bersaing pada kurun waktu tahun 2017 dan 2018.

    E-commerce bertumbuh paling pesat pada kota-kota besar yang ada di Indonesia. Hal ini dikarenakan pada kota-kota besar memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, infrastruktur jaringan internet dan ketenagalistrikan yang baik sehingga mampu menunjang kegiatan e-commerce yang berbasis perangkat teknologi modern. Jakarta merupakan daerah dengan intensitas dan nilai transaksi e-commerce paling tinggi di Indonesia.

    Menurut data yang dilansir oleh statista.com melalui survei yang dilakukan oleh Statista Indonesia pada tahun 2019, Jakarta memiliki sebaran pengguna e-commerce paling tinggi di Indonesia yaitu sebesar 58 persen. Sebagai pembanding, pengguna e-commerce di Surabaya hanya 5 persen dari pengguna e-commerce nasional.

    Jika disandingkan dengan data nilai transaksi e-commerce yang dilansir oleh Bank Indonesia, pertumbuhan nilai transaksi e-commerce di Jakarta mengalami peningkatan yang signifikan dalam kurun waktu 4 tahun terakhir.

    Nilai transaksi e-commerce di Jakarta setiap tahunnya mengalami peningkatan yang cukup signifikan selaras dengan peningkatan nilai transaksi di Indonesia. Pertumbuhan paling besar terjadi pada kurun tahun 2017-2018 yang mengalami peningkatan 36,77 triliun rupiah atau lebih besar 150 persen dari tahun sebelumnya. Hal ini selaras dengan banyaknya platform online dan marketplace baru bermunculan dan melakukan inovasi besar-besaran sehingga menarik banyak pembeli untuk melakukan transaksi secara online.

    Occupancy Rate Shopping Center di Jakarta

    Transaksi e-commerce di Jakarta yang mengalami peningkatan setiap tahunnya seakan menjadi pemicu utama peralihan transaksi jual-beli di masyarakat dari transaksi secara konvensional menjadi transaksi secara digital. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan tingkat kekosongan atas properti shopping center di Jakarta. Kekosongan terjadi akibat penawaran yang meningkat secara signifikan namun tidak diimbangi dengan permintaan yang pada akhirnya menyebabkan oversupply. Tingkat kekosongan selama tahun 2020 mencapai 23,6%. Jumlah ini meningkat sebanyak 2,8% dibandingkan dengan tahun 2019 yakni sebesar 20,8% (Colliers, 2021). Sejalan dengan peningkatan tingkat kekosongan, tingkat hunian atas properti shopping center semakin menurun selama tahun 2017 hingga 2020 yang ditunjukkan pada grafik berikut ini:

    Pengaruh Pertumbuhan E-commerce Terhadap Occupancy Rate Shopping Center di Jakarta

    Korelasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara dua variabel, yaitu pertumbuhan nilai transaksi e-commerce dan occupancy rate shopping center di Jakarta yang dinyatakan secara kuantitatif. Tabel di bawah ini adalah korelasi antara pertumbuhan e-commerce dan occupancy rate shopping center:

    Tabel tersebut menunjukkan korelasi kuantitatif antara nilai transaksi e-commerce dan occupancy rate shopping center di Jakarta adalah -0,96. Hasil negatif berarti kedua variabel memiliki korelasi negatif atau berlawanan. Angka yang di hasilkan adalah 0,96 (mendekati angka 1) berarti kedua variabel memiliki korelasi yang kuat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai transaksi e-commerce dan occupancy rate shopping center di Jakarta memiliki korelasi negatif yang kuat.

    Metode berikutnya yaitu regresi linier sederhana, yang digunakan untuk mengetahui pengaruh satu variabel independen terhadap satu variabel dependen. Pada model regresi ini, nilai transaksi e-commerce di Jakarta merupakan variabel independen (X) untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap occupancy rate shopping center di Jakarta yang merupakan variabel dependennya (Y). Tabel di bawah ini merupakan hasil yang didapatkan dengan menggunakan aplikasi spreadsheet:

    Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien yang didapat sebesar -0,00029. Artinya apabila nilai transaksi e-commerce di Jakarta (X) berubah sebesar 1%, maka akan mempengaruhi occupancy rate shopping center di Jakarta -0,00029%.

    Berdasarkan hasil dari dua analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan nilai transaksi e-commerce memiliki pengaruh yang kuat terhadap penurunan occupancy rate shopping center di Jakarta. Tetapi persentase penurunan occupancy rate tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan pertumbuhan nilai transaksinya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.