Kemanusiaanlah Korban Sejati Ledakan Bom - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi pembunuhan. FOX2now.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 30 Maret 2021 17:54 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kemanusiaanlah Korban Sejati Ledakan Bom

    Ketika manusia diperintahkan untuk beriktiar memulihkan fitrah kemanusiannya, pelaku bom justru berusaha keras menumpulkan nuraninya. Sebelum beraksi, ia telah membungkam kemanusiaannya sendiri, ia lebih dulu mematikan nuraninya, ia menumpas fitrahnya hingga ia tidak menyadari siapa dirinya.

    Dibaca : 678 kali

     

    Usai bom meledak, lantas apa? Bom bunuh diri, apa lagi, demikian absurd—bagaimana mungkin manusia sanggup melakukannya? [Berniat] membunuh orang lain dan membunuh pula dirinya sendiri.

    Apapun tujuannya, si pelaku tidak akan pernah tahu apakah tujuannya tercapai, karena ia mati. Ia juga tidak tahu apakah aksinya menimbulkan dampak seperti yang ia kehendai, sebab ia mati. Dan bila ia bermaksud mengirim pesan tertentu, entah kepada siapa, ia pun tidak tahu apakah pesannya sampai, lantaran ia mati. Apakah ia bermaksud menebarkan ketakutan, intimidasi, menguarkan kebencian, atau perlawanan—kepada siapa?

    Absurditas aksi bom bunuh diri membuka ruang pertanyaan: apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh pelaku? Bukan hanya dalam peristiwa di Makassar, seperti kali ini, tapi juga di tempat-tempat lain sebelum ini.

    Nurani kemanusiaan senantiasa mempertanyakan alasan-alasan apapun yang digunakan pelaku untuk membenarkan aksinya. Bahkan, seandainya ledakan itu hanya memakan korban pelakunya sendiri. Bila dijadikan sebagai pembawa pesan, aksi bom bunuh diri telah gagal menarik simpati masyarakat, melainkan antipati. Bila dimaksudkan untuk menebarkan ketakutan, itupun akan gagal, sebab masyarakat akan melawan.

    Bila dimaksudkan untuk menciptakan polarisasi, masyarakat sudah semakin paham bahwa aksi bom bunuh diri bukanlah buah pikir mayoritas masyarakat, dan sebagai buah dari kekeliruan dalam berpikir, ia akan semakin terkucil. Manakala tidak terjadi peperangan, maka membunuh seorang manusia sama halnya dengan membunuh semua manusia—membunuh kemanusiaan.

    Sebagai manusia, kita mungkin pernah terperangkap dalam kebencian hingga melampaui kepatutan, dan barangkali sempat menyangka bahwa pembunuhan adalah jalan yang dibenarkan untuk menuntaskan kebencian itu. Padahal tidak. Bahkan, sekalipun bila itu wujud perlawanan terhadap ketidakadilan.

    Bila menganggap kekerasan sebagai jalan yang ampuh untuk menyampaikan pesan, sungguh pelakunya telah berpikir terbalik. Sekalipun manusia kadang-kadang bersikap keras dan kasar, namun kekerasan adalah penyimpangan dari fitrah—dan segala sesuatu yang menyimpang dari fitrah akan sangat sukar memperoleh pembenaran.

    Ketika manusia diperintahkan untuk beriktiar memulihkan fitrah kemanusiannya, pelaku bom justru berusaha keras menumpulkan nuraninya. Sebelum beraksi, ia telah membungkam kemanusiaannya sendiri, ia lebih dulu mematikan nuraninya, ia menumpas fitrahnya hingga ia tidak menyadari siapa dirinya.

    Ia barangkali berpikir bahwa bunuh diri hanya melukai dirinya, merenggut nyawanya. Yang ia lupa ialah bahwa aksinya bukan hanya melukai fisik dan mental orang-orang yang tidak ia kenal, tapi melukai pula orang-orang terdekatnya: orangtua, saudara, anak. Luka yang ditinggalkan ini niscaya lebih menyakitkan dan akan sukar bagi mereka untuk memulihkan luka itu, bahkan mungkin hingga orang-orang terdekat itu berpulang. Mereka lupa bahwa setiap yang hidup berhak atas kematian yang layak, termasuk dirinya sendiri.>>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.