5 Bencana Paling Terkenal yang Pernah Terjadi di Gunung Everest - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Setiap orang punya Everest masing-masing

anton sujarwo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Desember 2020

Rabu, 31 Maret 2021 20:06 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • 5 Bencana Paling Terkenal yang Pernah Terjadi di Gunung Everest

    Sepanjang sejarah pendakian gunung tertinggi di dunia, Everest telah mencatat banyak musibah dan kematian. Beberapa musibah ini menyedot perhatian dunia begitu besar dan membuatnya jadi terkenal. Berikut adalah 5 musibah paling terkenal yang pernah terjadi di Everest.

    Dibaca : 315 kali

    Sepanjang sejarah pendakian gunung tertinggi di dunia, Everest telah mencatat banyak musibah dan kematian yang terjadi di atasnya. Beberapa musibah ini menyedot perhatian dunia yang begitu besar sehingga membuatnya sangat terkenal. Meskipun demikian, walau musibah kerapkali terjadi di gunung Everest, arus pendakian menuju puncaknya tak pernah berkurang.

    Nah, apa sajakah musibah yang paling terkenal dan pernah terjadi di gunung Everest. Berikut adalah beberapa di antaranya yang dikutip dari Akasaka Journal. Tulisan lain mengenai mountaineering, petualangan, dan berbagai cerita inspiratif lainnya yang up to date dapat pula kamu Anda baca disini.

    Hilangnya George Mallory dan Irvine Andrew

    Kisah ini terjadi pada tahun 1924. Sebuah ekspedisi ketiga bagi George Mallory untuk mencoba memuncaki Everest dan menjadi orang pertaman di dunia yang bisa melakukannya.

    Ekspedisi ini sangat menjanjikan mengingat Mallory dan rekannya Irvine Andrew, adalah dua orang pendaki berpengalaman.  Selain itu Irvine Andrew juga sangat expert dalam hal tabung oksigen. Sementara penggunaan tabung oksigen dalam pendakian gunung pada masa itu masih merupakan sebuah teknologi yang baru.

    George Mallory dan Andrew Irvine memilih jalur pendakian mereka melalui sisi utara gunung Everest. Terdengar juga kabar bahwa sebelum memulai pendakian ini, Mallory pernah mengatakan bahwa ia tidak akan kembali lagi jika ia gagal. Pendakian ini bagi Mallory, adalah upayanya yang terakhir untuk mencapai puncak Everest.

    Mallory dan Irvine mendaki hingga jauh ke arah puncak. Terakhir binokular yang digunakan oleh Noel Odell memperlihatkan mereka sedang mandaki puncak Everest. Namun tak lama kemudian kabut menghadang dan menutupi seluruh pemandangan. Saat kabut menghilang, Mallory dan Irvine juga tidak terlihat lagi. Mereka seolah hilang di telan gunung Everest.

    Pada tahun 1999 jenazah Mallory ditemukan terbaring di atas tebing sisi utara. Beberapa tulang Mallory patah, yang menandakan dirinya telah terjatuh sebelum akhirnya tewas dan membeku di Everest. Sementara rekannya Andrew Irvine, masih menghilang hingga sekarang.

    Hal yang paling menggelitik rasa keingintahuan dalam musibah ini kemudian adalah mengenai keberadaan kamera Kodak yang dibawa oleh Irvine Andrew. Banyak orang menduga bahwa kamera yang ia bawa akan dapat mengungkapkan fakta sebenarnya tentang pemuncakan Everest; Apakah Mallory dan Irvine berhasil tiba di puncak di Everest atau tidak, sebelum mereka menemui ajalnya dan menghilang selama puluhan tahun?

    Ada sebagian orang yang  memiliki keyakinan bahwa George Mallory dan Andrew Irvine telah berhasil mencapai puncak tertinggi gunung Everest sebelum mereka menghilang. Namun pendapat yang mengatakan ini sangat sedikit memperoleh dukungan dikarenakan tidak adanya bukti  konkret mengenai dugaan tersebut.

    Hingga saat ini, Edmund Hillary dan Tenzing Norgay masih dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil mencapai puncak Everest pada bulan Mei tahun 1953. Meskipun demikian, kematian George Mallory dan Irvine Andrew dalam ekspedisi Everest tahun 1924 masih dianggap sebagai salah satu musibah yang paling terkenal di gunung tertinggi di dunia tersebut.

    1970 Tragedy Icefall

    Kisah ini terjadi pada tahun 1970, ketika hampir 150 orang pendaki yang berniat mendaki ke Everest ditempatkan melalui sisi selatan, termasuk diantaranya adalah ekspedisi ski dari Jepang yang membawa bintang besar mereka; Yuichiro Miura.

    Dikarenakan melalu sisi selatan, tentu saja para pendaki itu harus melewati salah satu bagian paling berisiko dalam pendakian Everest yaitu Khumbu Icefall. Khumbu Icefall sendiri adalah  sebuah tempat berbahaya yang topografinya sering berubah-ubah sepanjang waktu.

    Ketika tim ski jepang melewati Khumbu Icefall pada tanggal 5 April 1970, sebuah longsoran dahsyat menyapu mereka. Longsoran atau avalanche itu merontokkan segala yang dilewatinya, termasuk lima orang Sherpa yang sedang bekerja dalam ekspedisi Jepang tersebut.

    Pristiwa ini adalah salah satu musibah yang terburuk menimpa para Sherpa gunung Everest sejak ekspedisi Inggris tahun 1922 yang juga memakan korban dari pihak Sherpa. Kejadian ini menjadi sebuah penegasan pula kepada dunia, betapa berbahayanya pekerjaan yang dilakukan oleh seorang Sherpa.

    Kematian David Sharp yang kontroversial

    Kematian seorang pendaki gunung solo dari Inggris bernama David Sharp ini, adalah salah satu kematian yang kontroversial dan mendapat banyak perhatian dari dunia mountaineering. Lagi pula buntut pristiwa ini pun berkepanjangan, masih banyak dibicarakan hingga sekarang.

    David Sharp adalah seorang pendaki berkebangsaan Inggris. Ia mendaki gunung Everest sendirian dengan budget yang seadanya. Perlengkapan yang ia gunakan termasuk kategori terlalu biasa untuk gunung sekelas Everest. Selain itu, tabung oksigen yang miliki juga dalam jumlah yang sangat terbatas.

    Pada sebuah ceruk di atas pungungan sisi timur laut Everest, hampir 40 orang melewati seorang pedaki yang sedang sekarat. Namun di antara banyak pendaki tersebut, hanya beberapa saja yang berusaha menolongnya. Selama beberapa hari tidak ada juga tim yang melaporkan kehilangan anggotanya sehingga kejadian tersebut tidak terlalu dibesarkan. Hal itu dianggap sebagai sebuah musibah yang biasa terjadi pada pendakian di Everest.

    Namun kemudian hal ini berkembang menjadi lebih ramai setelah identitas pendaki yang meninggal itu diketahui. Ia adalah David Sharp, seorang pendaki dari Inggris yang cukup dikenal.

    Kejadian ini semakin menarik perhatian publik mountaineering dunia karena bersamaan dengan penyelamatan terhadap seorang pendaki gunung Australia bernama Lincoln Hall yang juga mengalami musibah di Everest. Banyak pihak yang mengatakan bahwa moral untuk membantu sesama pendaki telah dikalahkan oleh keinginan memperoleh materi yang lebih banyak. Opini ini didasarkan kenyataan bahwa Lincoln Hall adalah anggota ekspedisi yang memiliki budget tinggi, sedangkan David Sharp adalah pendaki solo dengan budget pas-pasan.

    Pada pristiwa kematian Sharp ini, bahkan Edmund Hillary angkat bicara dengan mengatakan; “Saya lebih baik tidak memuncaki Everest dari dulu, jika mengetahui bahwa orang-orang selanjutnya lebih mementingkan puncak, daripada menolong saudara mereka yang sekarat di gunung ini.”

    Akan tetapi di lain sisi, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa misi penyelamatan di Everest bukanlah perkara gampang. Dibutuhkan kemampuan dan pengalam yang tidak sembarangan untuk dapat melakukan hal itu. Tidak bijaksana bagi pendaki gunung yang menyadari dirinya tidak memiliki kemampuan yang memadai, namun memaksakan diri untuk menolong orang lain.

    1922 North Col Avalanche

    Pristiwa ini juga membawa nama George Mallory di dalamnya.

    Saat itu, pada tanggal 7 Juni 1922, George Mallory bersama tim espedisinya yang terdiri dari 2 orang pendaki ingris dan 14 orang Sherpa, sedang bergerak lamban dalam kubangan salju sedalam pinggang menuju North Col yang berada di ketinggian 23.000 kaki.

    Ketika melangkah dalam pergerakan yang sangat lambat itu, tiba-tiba mereka mendengar suara gemuruh yang dahsyat. Dan dalam hitungan detik sebuah longsoran besar tengah menuju ke arah mereka dan menyapu semua yang ada di depannya.

    9 orang Sherpa terhempas di menuju crevasse atau celah es yang dalam, namun 2 orang di antara mereka masih bisa menyelamatkan diri. Sementara 7 orang yang lainnya menghilang dalam timbunan es dan salju yang membeku.

    Kejadian tragis ini sangat memukul George Mallory dan ia begitu menyalahkan dirinya sendiri karena hal tersebut. Bahkan dalam salah satu surat untuk isterinya Mallory menulis; “Tidak ada kewajiban yang mendasar untuk saya lakukan, selain mengambil kehormatan untuk mengurus keluarga orang orang yang telah menemui kematian tersebut, karena mereka mengikuti langkah saya untuk mencapai tempat yang saya inginkan”

    Tahun 1996, 8 orang tewas dalam satu hari Di Everest

    Dalam musibah ini ada 8 orang pendaki yang tewas, termasuk di antara mereka ada yang berprofesi sebagai pemandu, pemimpin expedisi, dan juag Sherpa. Setidaknya selama musim pendakian tahun 1996, total ada 12 orang yang tewas.

    Nama besar Rob Hall dan Scott Fischer menjadi sangat ramai di perbincangkan dalam kejadian ini. Persaingan di antara dua sahabat ini di Everest, dinilai beberapa pihak sebagai sebuah persaingan bisnis yang justru membuat mereka larut dalam arus komersialisme mountaineering terlampau jauh.

    Kisah tragis tahun 1996 ini memiliki banyak versi yang berbeda. Banyaknya perspektif ini pun melahirkan berbagai teori dan penafsiran yang berbeda pula. Bahkan ada beberapa film, buku dan lain sebagainya yang secara khusus membahas kejadian ini. Film Everest dan Into Thin Air adalah dua film paling populer yang secara khusus membahas tragedi ini.

    Everest adalah salah satu gunung yang menjadi tempat terjadinya berbagai musibah dalam aktivitas mountaineering. Dan Gunung-gunung lain pun demikian, musibah, bencana, tragedi selalu mewarnai dalam setiap usaha manusia untuk  mencapai puncaknya.

    Namun bagaimana pun juga, kadang-kadang kejadian dan tragedi semacam itu justru menambah daya tarik sang gunung untuk terus didatangi oleh manusia.

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.