Virtual Tour, Asyiknya Melancong di Era New Normal - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Sumber gambar: mytrip.co.id

Shofiyah Nada

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 April 2021

Kamis, 1 April 2021 21:56 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Virtual Tour, Asyiknya Melancong di Era New Normal

    Program Virtual Tour atau Wisata Virtual diperkenalkan dengan memanfaatkan media sosial, situs web dan sebagainya. Berwisata dapat pula dilakukan dari rumah, dan calon wisatawan tidak perlu menyusun itinerary perjalanan. Berbagai macam vVirtual tour dilakukan perusahaan tour and travel, melalui siaran langsung platform Zoom, Instagram, atau TikTok bekerjasama dengan guide setempat sebagai pembicara sekaligus pelaksana tur. Cobalah, kini tak kalah mengasyikan.

    Dibaca : 335 kali

    Mengalami kejenuhan merupakan hal lazim yang dialami oleh manusia, terutama pada kondisi saat ini. Berkat kemunculan pandemi hingga era kenormalan baru telah membatasi aktivitas manusia. Tidak hanya bagi pelajar, hal yang sama turut dirasakan oleh para pekerja. Kegiatan yang mengharuskan untuk bepergian ke luar tempat tinggal, terutama tempat umum, dihentikan sementara melalui anjuran “di Rumah Saja” yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia, diikuti dengan diberlakukannya program PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar pada beberapa daerah di Indonesia.

    Berkat adanya program tersebut, masyarakat terpaksa untuk bepergian seperlunya saja, seperti mengunjungi supermarket, mall, rumah sakit dan tempat umum lainnya apabila terdapat sesuatu hal yang mendesak dan dibutuhkan. Selain itu, bepergian ke luar kota hingga ke luar negeri turut mengalami imbas dari ditetapkannya program tersebut. 

    Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri lagi, banyak masyarakat mengalami kejenuhan sebagai dampak dari terbatasnya aktivitas yang diberlakukan oleh pemerintah, kegiatan berwisata pun dirindukan bahkan diidam-idamkan. Hal tersebut menjadi peluang bagi perusahaan penyedia layanan pariwisata, terutama biro perjalanan wisata atau tour and travel untuk memperbaiki kondisinya setelah mengalami kemandegan sebagai dampak dari kemunculan pandemi Covid-19. 

    Sebuah program bertajuk “Virtual Tour atau Wisata Virtual” diperkenalkan dengan memanfaatkan media elektronik yang dimiliki, terutama media sosial, situs web dan sebagainya. Program tersebut menitikberatkan kepada prinsip berwisata dapat pula dilakukan dari rumah sehingga calon wisatawan tidak perlu untuk menyusun berbagai hal yang dapat mendukung perjalanannya atau lazim disebut sebagai itinerary perjalanan, seperti daftar destinasi, biaya perjalanan, transportasi yang digunakan hingga menentukan akomodasi. Sejatinya, program tersebut memiliki prinsip dasar kemudahan dalam melayani calon wisatawan. Dengan mengaksesnya melalui layar komputer, laptop hingga gadget, destinasi yang diidam-idamkan dapat dijangkau tanpa harus mengunjunginya. 

    Berbagai macam metode penyelenggaraan Virtual Tour dilakukan oleh perusahaan tour and travel, seperti melalui siaran langsung platform Zoom, Instagram, TikTok bekerjasama dengan guide setempat sebagai pembicara sekaligus pelaksana tur, pelaksana dalam hal ini guide secara fisik berada pada destinasi sembari mengajak “berkeliling” para peserta atau wisatawan secara virtual melalui video siaran langsung atau telah mengalami proses pengambilan gambar sebelumnya. Untuk mengikuti siaran langsung, peserta perlu melakukan transaksi terlebih dahulu dengan tarif yang telah ditetapkan oleh pihak penyelenggara atau perusahaan tour and travel sebagai salah satu bentuk fee yang diberikan oleh perusahaan tour and travel kepada para guide sebagai pihak yang menjembatani para calon wisatawan dengan destinasi pilihannya.

    Selain itu, metode lain berupa postingan foto fakta unik hingga informasi lain terkait destinasi melalui platform media sosial Instagram turut memeriahkan penyelenggaraan program tersebut. Beberapa metode tersebut tentunya telah mengobati rasa rindu masyarakat untuk melakukan kegiatan berwisata. Terlepas dari beragam kemudahan yang ditawarkan oleh program Virtual Tour, segmen pendukung pelaksanaan program tersebut pun dapat dibilang cukup eksklusif, yaitu para kaum milenial, terutama pengguna media elektronik internet serta telah memiliki penghasilan sendiri. 

    Apabila diperbolehkan untuk berangan-angan terkait keberlanjutan program Virtual Tour, terutama bagi penyelenggaraannya di Indonesia, dapat dibilang cukup kecil kemungkinannya, walaupun tidak sepenuhnya mustahil mengingat kemajuan teknologi telah memasuki era Revolusi Industri 4.0. Karakteristiknya yang cenderung segmentatif atau hanya dapat dijangkau oleh beberapa kalangan tertentu serta kebiasaan berwisata yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia yaitu harus mengunjungi secara langsung demi mendapat pengalaman secara nyata menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh pihak perusahaan tour and travel dalam melakukan perkembangan terhadap program tersebut. 

    Disamping itu, belum ditemukannya penelitian secara mendalam terkait tingkat kepuasan peserta program Virtual Tour, khususnya di Indonesia serta “euforia” yang ditimbulkan dari adanya program tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi dilaksanakannya penelitian lanjutan. Nantinya, hasil penelitian dapat membantu bagi para perusahaan tour and travel untuk memberikan pertimbangan terkait kelanjutan program tersebut serta mempelajari potensi yang dimiliki apabila diterapkan kepada masyarakat Indonesia dengan karakteristik cara berwisata yang tentunya berbeda dengan negara lain. Akhirnya, satu pertanyaan yang dapat saya tawarkan, kemunculan Virtual Tour apakah menjadi peluang atau justru sekadar batu loncatan bagi perusahaan tour and travel di Indonesia? 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.