Anak Muda Bisa Kontribusi Apa, sih, untuk Industri di Indonesia? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Tania Adin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Kamis, 1 April 2021 21:28 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Anak Muda Bisa Kontribusi Apa, sih, untuk Industri di Indonesia?

    Dengan karakteristik kreatif, kritis, optimis, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, anak muda diyakini dapat menjadi tonggak dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.

    Dibaca : 230 kali

    Sepanjang Februari-September 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mendata penduduk di Indonesia. Diketahui, dari hasil Sensus Penduduk 2020 tersebut bahwa Indonesia didominasi oleh usia muda. 

    Jumlah Generasi Z (kelahiran 1997-2012) mencapai 75,49% atau setara dengan 27,94% dari total seluruh populasi penduduk di Indonesia. Setelah Generasi Z, generasi milenial (kelahiran 1981-1996) menjadi jumlah penduduk paling dominan, sebesar 25,87% atau sebanyak 69,38 juta jiwa.

    Sedangkan persentase usia produktif (15 s/d 64 tahun) pada tahun 2020 mencapai 191,1 juta jiwa atau 70,72% dari total populasi masyarakat yang sebanyak 270,2 juta jiwa. Indonesia berada pada era bonus demografi, hal ini disebabkan persentase penduduk usia produktif lebih besar apabila disandingkan dengan usia non-produktif. 

    Dapat dikatakan bahwa anak muda menjadi penduduk mayoritas di Indonesia. Anak muda sendiri memiliki peran besar dalam terjadinya perubahan-perubahan sosial di lingkungan sekitar maupun pada ranah yang lebih luas. Setidaknya, ada tiga peran pemuda dalam perubahan sosial, yaitu sebagai agen perubahan (agent of change), agen pembangunan (agent of development), dan agen modernisasi (agent of modernization).

    Dengan karakteristik kreatif, kritis, optimis, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, anak muda diyakini dapat menjadi tonggak dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebagai jiwa yang kreatif, anak muda cenderung tertantang untuk melahirkan inovasi terbaru yang bahkan menjawab masalah dari yang ada di sekitarnya. Dengan jumlah populasi yang mendominasi, anak muda dapat berjuang bersama untuk memajukan negara melalui tiga peran yang telah disebutkan sebelumnya. 

    Kontribusi anak muda dapat disalurkan di berbagai sektor, salah satunya adalah ekonomi melalui kawasan industri. Indonesia kini telah memiliki puluhan kawasan industri yang tengah beroperasi dari Sabang hingga Merauke yang terbaru yakni Kawasan Industri Teluk Bintuni, Papua Barat. 

    Kawasan industri merupakan lahan siap pakai dengan berbagai sarana sekaligus fasilitas terintegrasi yang menunjang investor untuk melakukan kegiatan bisnis. Sehingga, investor—baik dalam negeri maupun luar negeri— dapat segera menjalankan bisnisnya di Indonesia.

    Lalu, kontribusi apa yang dapat diberikan anak muda untuk kawasan industri?

    Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, dalam menghadapi era perkembangan pemanfaatan teknologi digital, harus diikuti dengan kesiapan Sumber Daya Alam (SDM) yang kreatif dan inovatif. Dirinya berpendapat bahwa generasi milenial yang tumbuh di era perkembangan teknologi berperan penting dalam melanjutkan pembangunan infrastruktur ke depan. 

    Selain itu, anak muda dapat berkontribusi dalam era industri 4.0 yang ditandai dengan serba digitalisasi dan otomasi yang akan menghadirkan banyak perubahan. Masuk ke dalam era industri 4.0 secara konteks industri dan produksi, turut menggiring kita untuk melakukan pengoptimalan pada komputerisasi pabrik atau otomasi, dan rekonsiliasi data guna mewujudkan pabrik yang cerdas (smart factories). Nantinya di dalam pabrik ‘cerdas’ ini akan ada sistem siber-fisik (cyber physical system), IoT (Internet of Things), komputasi awan (cloud), serta komputasi kognitif. 

    Dengan karakteristik kreatif kritis, optimis, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, anak muda dapat berkontribusi menjadi tenaga kerja berketerampilan khusus untuk penguasaan teknologi terkini. 

    Menurut Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto,  dirinya yakin bahwa Indonesia berpeluang besar menjadi pemain kunci di Asia dalam implementasi industri 4.0. Dirinya memaparkan, sedikitnya ada 49,5% pengguna internet di Indonesia adalah usia 19-34 tahun. “Mereka berinteraksi atau melek teknologi berkat smartphone,” ujar Airlangga. 

    Selain melek teknologi, anak muda juga memiliki populasi yang besar dan keterampilan yang diharapkan akan lebih baik kedepannya dengan adanya peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia), baik dari segi pendidikan, pemberian keterampilan, hingga pelatihan. 

    Salah satu dukungan pemerintah dalam peningkatan kompetensi SDM di Indonesia agar menguasai teknologi digital adalah program vokasi SMK dan industri, serta memacu politeknik melalui program skill for competitiveness. “Akan menjadi sangat ideal jika program peningkatan kompetensi SDM itu bisa masuk dalam kurikulum pendidikan sejak pendidikan dasar untuk menyiapkan generasi milenial yang kompetitif dan produktif,” papar Airlangga. 

    Jadi, sudah siapkah kamu anak muda untuk menjadi agent of change? Jika belum siap, sepertinya sudah saatnya kita untuk beraksi dan bergegas. Jika tidak, apakah berapa puluh tahun ke depan negara kita ini masih terdaftar sebagai negara di mata dunia? Atau jangan-jangan… Ah! Kalian sendiri yang bisa menjawab masa depan. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.