Revolusi Industri: Dari Mesin Uap ke Teknologi Otomatisasi - Analisa - www.indonesiana.id
x

sumber foto: binus.ac.id

Chika Lestari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 31 Juli 2020

Minggu, 4 April 2021 06:12 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Revolusi Industri: Dari Mesin Uap ke Teknologi Otomatisasi

    Dunia menunjukkan perkembangannya di bidang industri. Revolusi industri dari masa ke masa memiliki keunikannya tersendiri. Mari kita melihat perkembangan industri dari era 1.0 sampai 4.0!

    Dibaca : 716 kali

    Di waktu yang sekarang, kita bisa melihat bagaimana kawasan industri tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah kawasan ini semakin berkembang, dan Indonesia tidak lagi bergantung pada kegiatan pertanian saja. Inilah yang disebut dengan industrialisasi. Industrialisasi menjadi proses modernisasi di mana perkembangan ekonomi dan perubahan sosial memiliki hubungan yang erat dengan inovasi teknologi. 

    Di Indonesia sendiri, era industri dimulai pada masa kolonial Belanda tepatnya di tahun 1862. Kala itu, terdapat tiga pabrik gula di Pulau Jawa dengan menggunakan teknologi mesin-mesin produksi dan ketel uap. Waktu demi waktu berlalu, teknologi yang digunakan pun semakin berkembang. 

    Mari melihat perkembangan industri dari era 1.0 sampai 4.0. 

    Era Pra-Revolusi Industri

    Untuk memproduksi suatu barang atau jasa, sebelum memasuki era industri 1.0, manusia kala itu hanya mengandalkan tenaga otot, angin, bahkan air saja. Dengan mengandalkan kekuatan yang seadanya, ternyata masih ditemukan kendala seperti kekurangan tenaga kerja, dan pembangunan tenaga angin maupun air, hanya dapat diposisikan pada tempat tertentu saja. 

    Industri 1.0

    Pada abad ke-18 inilah revolusi industri pertama dimulai. Industri 1.0 dimulai dari penemuan mesin uap untuk memproduksi barang ditandai dalam era industri 1.0 ini. Di Inggris, mesin uap digunakan sebagai alat tenun pertama untuk industri tekstil sekaligus menjadi pengganti dari tenaga manusia hewan. Perannya tidak hanya untuk industri tekstil semata, melainkan dimanfaatkan juga pada bidang transportasi laut. 

    Industri 2.0

    Bukan lagi tentang mesin uap, pada industri 2.0 ditemukan tenaga listrik yang dapat mempermudah para perakit mobil untuk melakukan pekerjaannya. Di akhir tahun 1.800-an, transportasi mobil sudah mulai diproduksi massal, namun sayangnya saat itu masih ada keterbatasan dalam tenaga kerja dan teknologi yang belum sepenuhnya mendukung. Mustahil bukan jika permintaan mobil terus meningkat namun tenaga kerja sangat terbatas? 

    Untuk menangani masalah tersebut, maka lahirlah assembly line atau lini produksi yang menggunakan ban berjalan pada tahun 1913. Assembly line menopang proses produksi merakit mobil dari awal hingga akhir dengan dikerjakan oleh lebih dari satu orang. Para perakit pun sudah dilatih menjadi spesialis yang mengurus satu bagian saja.

    Industri 3.0

    Saatnya kita masuk ke dalam industri 3.0. Peran manusia bukan menjadi yang utama pada industri 3.0, paket teknologi yang meliputi komputer dan robot hadir sebagai mesin bergerak dan “berpikir” secara otomatis. Di zaman itu, komputer dan robot terlihat sanggat canggih. 

    Perlu diketahui, kala itu ukuran komputer tidak seperti sekarang. “Komputer purba” yang diberi nama Colossus digunakan dalam era perang dunia II untuk memecahkan kode buatan Nazi Jerman. Ukurannya pun sebesar ruang tidur! Komputer tersebut dapat bekerja melalui pita kertas yang membutuhkan daya listrik sebesar 8.500 watt. Saat ini, pengendali lini produksi sudah digantikan posisinya oleh komputer dan robot. 

    Industri 4.0

    Awal dari industri 4.0 berawal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik. Industri 4.0 merupakan sebuah tren yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi siber. Bisa dibayangkan pintarnya teknologi tersebut dalam membantu kehidupan manusia. 

    Dampak positif dari revolusi industri 4.0 antara lain menciptakan lapangan pekerjaan baru, sejumlah profesi baru, dan lahirnya usaha-usaha baru yang tidak dapat kamu temui di industri 1.0 sampai 3.0. 

    Ya, industri di Indonesia harus berkembang agar tidak stuck di tempat. Apakah negeri ini sudah siap 100 persen masuk ke dalam industri 4.0? di mana negara lain segera menyambut industri 5.0. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.