Sebab Piala Mochammad Yana Aditya, Saya Bermimpi Sepak Bola Akar Rumput di +62 Tertib - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Tertib

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 9 April 2021 08:41 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Sebab Piala Mochammad Yana Aditya, Saya Bermimpi Sepak Bola Akar Rumput di +62 Tertib

    Sebab Festival Antar Provinsi Piala Mochammad Yana Aditya, saya jadi bermimpi Sepak Bola akar rumput (usia dini dan muda) Indonesia tertib.

    Dibaca : 973 kali

    Festival Sepak Bola antar Provinsi se-Jawa ke-3, Piala Bergilir Mochammad Yana Aditya (Pembina SSB Sukmajaya),  memang baru akan digulirkan pada Senin, 12 April 2021. Namun belum lagi festival bergulir, banyak pihak yang sudah bertanya, kapan festival digelar untuk tingkat nasional.

    Apresiasi, Regulasi SSB, Akademi, dan Diklat Sepak Bola

    Sejatinya, sesuai latar belakang lahirnya Festival Antar Provinsi ini, tujuan utamanya memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Sekolah Sepak Bola (SSB) yang melakukan pembinaan murni, manajemen kompeten dan tahan banting di tengah menjamurnya SSB yang boleh saya bilang belum bertuan karena belum pernah lahir Regulasi menyoal syarat berdirinya SSB atau Akademi Sepak Bola (AK) atau Diklat Sepak Bola dari stakeholder terkait, yaitu PSSI.

    Bila PSSI menerbitkan Regulasi itu, maka SSB/AS/DS, tentu akan terdata dan terafiliasi secara resmi di PSSI, Asprov, Askot/Askab. Selanjutnya, seperti di sekolah formal, SSB/AS/DS dapat diverifkasi dan diakreditasi oleh stakeholder terkait bukan hanya PSSI, sebab ketika bicara sekolah, akademi, dan diklat sepak bola ada bagian akademis yang wajib ditangani oleh ahlinya.

    Tanpa regulasi, maka SSB/AS/DS di Indonesia akan terus menjamur  tak tertata, tak terafiliasi, sangat tak beraturan, tak dapat diverifikasi, apalagi diakreditasi. Untuk menata dan hadirnya Regulasi hanya PSSI dan stakeholder terkait yang berwenang melakukan dan menerbitkan.

    Sejatinya, tahun 1999, sejak nama SSB mulai digaungkan oleh PSSI di bawah Ketua Umum Agum Gumelar dan saya menjadi saksi dari sejarah itu bersama Direktur Pembina Usia Muda PSSI, Almarhum Ronny Pattinasarany, dan catatannya pun telah saya tulis di berbagai media, saya sudah mengusulkan syarat berdirinya SSB dan bagaimana secara utuh regulasi SSB itu dapat berdiri dan diakui.

    Sayang, apa yang saya tulis dan usulkan, hanya tersimpan dalam dokumentasi media tempat artikel saya ditayangkan dan catatan pribadi saya. Saya pun tahu mengapa usulan saya itu tak terealisasi hingga sekarang. Saya tahu persis, di mana masalah dan kendalanya.

    Padahal, mengurus itu semua bukan persoalan sulit. Tetapi, nyatanya sejak 1999, apa yang saya gemborkan hanya menjadi angin lalu. Hasilnya, lihat bagaimana kondisi SSB/AS/DS yang menjamur tanpa aturan dan kawalan.

    Sungguh memiriskan hati, melihat munculnya SSB/AS/DS yang hanya demi gaya-gayaan, jauh dari syarat dan standar yang seharusnya.

    Menghargai dan mengisi ruang kosong

    Sebab keprihatinan itulah, bila sudah ada operator kompetisi sepak bola usia dini dan muda dari pihak swasta, sebab SSB/AS/DS memang tak beraturan dalam pembinaan dan kompetisi, sebab saya juga pernah dianugerahi Youth Soccer Award, lalu Ronny Pattinasarani pun membuat event menggaungkan nama SSB di tahun 1999 dan cara-cara mengapresiasi dan menghargai SSB, maka Festival Antar Provinsi, adalah cara saya dalam menghargai SSB mengikuti jejak Ronny.

    Sebenarnya, tanpa perlu ada pertanyaan kapan Festival Antar Provinsi menjelma menjadi Tingkat Nasional, hal itu memang sudah saya programkan. Programnya, Tahun 2018 di mulai dari 3 provinsi, DKI, Jabar, dan Banten, terlaksana dan sukses.

    Berikutnya tahun 2019 bertambah wakil Jawa Tengah, melengkapi DKI, Jabar, dan Banten. Lalu, di tahun 2020, rencananya diikuti oleh DKI, Jabar¡ Banten, Jateng, Jatim, dan Bali.

    Sayang, hadirnya Covid-19 membuat Festival se-Jawa dan Bali tertunda. Namun, saat pandemi masih terus mewabah, di tahun 2021 ini akhirnya peserta kembali seperti tahun 2018.

    Semoga tahun 2022, Festival Antar Provinsi terlaksana untuk Jawa dan Bali, dan tahun berikutnya bertahap ke pulau lain. Namun, bukan mustahil, bila tahun 2022, pandemi mereda, Festival langsung tingkat nasional.

    Semoga pula, PSSI dan stakeholder terkait benar-benar peduli dengan apa yang sudah saya ungkap. Jangan terus menjadi utopia, khayalan, SSB/AS/DS terus lahir dan menjamur tapi tak ada pijakan aturan yang jelas dan baku. Bahkan menyoal pemahaman grassroots pun tak tersosialisasi dengan benar. Maka, saya sampai menulis artikel Ada di Grassroots, Tetapi Tak Paham Grassroots. Siapa yang salah dan harus bertanggungjawab? Atau tidak ada yang salah atau tidak perlu ada yang disalahan dan tidak perlu ada yang bertanggungjawab?

    Sebab Festival Antar Provinsi Piala Mochammad Yana Aditya, saya jadi bermimpi Sepak Bola akar rumput (usia dini dan muda) Indonesia tertib.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.