Dinamika Malioboro Sebagai Ikon Wisata Perkotaan di Yogyakarta - Travel - www.indonesiana.id
x

Kawasan wisata Malioboro, Yogyakarta, yang selalu dipenuhi wisatawan. Foto: Tulus Wijanarko

ereenda risty

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 April 2020

Sabtu, 10 April 2021 06:55 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Dinamika Malioboro Sebagai Ikon Wisata Perkotaan di Yogyakarta

    Kawasan Malioboro Yogyakarta terasa kian padat. Ruas jalan yang sempit karena area pedestrian diperluas menjadi salah satu timbulnya kemacetan. Mobil, motor, hingga delman menumpuk di sana. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah membuat kebijakan bahwa Malioboro bebas kendaraan. Tetapi apakah ini memecahkan masalah?

    Dibaca : 834 kali

    Kawasan Malioboro tentunya sudah familiar bagi para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Meskipun semakin banyak pilihan wisata di Yogyakarta dan sekitarnya, Malioboro masih menjadi wisata pilihan. Malioboro sebagai wisata perkotaan memang menyimpan banyak daya tarik yang merupakan magnet wisatawan. Mulai dari pusat perbelanjaan, edukasi, budaya, hingga kuliner dapat ditemukan di Malioboro. Namun dibalik itu semua, Malioboro telah melalui berbagai banyak perubahan.

    Sejak awal, Kawasan Malioboro memang menjadi area usaha sehingga banyak berdiri pertokoan. Sebelumnya Malioboro hanya dipenuhi oleh becak, sepeda, delman. Namun, seiring perkembangan, Malioboro sangat ramai dengan kendaraan bermotor hingga dipadati dengan wisatawan. Kini, Malioboro menjadi area pedestrian yang juga ramah disabilitas. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya perubahan yang pernah dialami.

    Penampilan Malioboro yang kita nikmati saat ini tentunya berbeda dengan puluhan tahun yang lalu. Setiap periode pemerintahan, hampir selalu terjadi pembaharuan ‘wajah’ Malioboro. Hal ini seakan tiap periode pemerintah selalu berlomba-lomba mempercantik Malioboro. Apabila kita mencari di kolom google, banyak artikel yang memberitakan mengenai wajah baru Malioboro. 

    Salah satu karakteristik dari wisata perkotaan ialah terdapat landmark yang menjadi ciri khas tiap destinasi. Hal ini karena wisata perkotaan tidak memiliki sumber daya agrikultur dan tentunya karya arsitektur maupun suatu bentuk budaya lah yang menjadi pemikat wisata perkotaan. Di Malioboro, meskipun kerap berganti wajah, pemerintah tidak mengubah plang Jalan Malioboro yang banyak diambil gambarnya oleh wisatawan. Plang berwarna hijau disertai huruf hanacaraka ini merupakan salah satu contoh daya tarik wisata perkotaan di Malioboro.

    Pada tahun 2012 plang ini sempat berganti desain, dan pergantian ini memunculkan banyak perdebatan bahwa desain sebelumnya lebih baik karena menggambarkan budaya Yogyakarta. Maka, meskipun di wilayah perkotaan pun, masyarakat atau wisatawan tetap mencari otentisitas.

    Malioboro menjadi prioritas pemerintah dalam pengembangan infrastruktur. Pada masa pandemi ini pun Malioboro secara sigap diubah agar siap menghadapi adaptasi kebiasaan baru dengan menambahkan tempat cuci tangan, hingga pengaturan arus pejalan kaki. Kawasan yang umumnya selalu dipadati manusia dan segala aktivitasnya tentu akan sangat berpotensi penyebaran virus.

    Kendati demikian, masalah kepadatan pengunjung di Malioboro pun selalu muncul setiap saat. Permasalahan seperti ini memang kerap terjadi di wisata perkotaan karena kota merupakan pusat aktivitas, baik wisata maupun non wisata. Overcrowding menjadi sering terjadi di kawasan ini, yang kemudian mengarah pada kemacetan.

    Ruas jalan yang cenderung sempit karena area pedestrian yang diperluas merupakan salah satu faktor timbulnya kemacetan. Belum lagi berbagai kendaraan melintasi jalan tersebut mulai dari mobil, motor, Trans Jogja, delman, becak, menumpuk jadi satu. Tentunya ini tidak enak untuk dipandang, padahal setelah kemacetan, muncul pula masalah sampah. 

    Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah membuat kebijakan mengenai kawasan Malioboro yang bebas kendaraan. Awalnya hal ini diterapkan pada hari tertentu yaitu Selasa Wage di mana merupakan jadwal rutin Malioboro ‘reresik’. Acara ini juga dimeriahkan oleh berbagai penampilan kesenian dan budaya yang menambah daya tarik Malioboro. Selanjutnya pemerintah melanjutkan kebijakan tersebut di jadwal tertentu selain saat Selasa Wage. Namun sayangnya, setelah beberapa kali uji coba, kebijakan ini banyak dikeluhkan oleh para pedagang kaki lama karena sepinya wisatawan membuat pendapatan menurun. 

    Nampaknya upaya untuk mengurangi over crowding di kawasan Malioboro masih belum menemukan titik temu meskipun pemerintah dan para stakeholder sudah berusaha untuk mengatasi hal tersebut. Kedinamisan Malioboro sebagai wisata perkotaan pun pasti akan selalu terjadi dan dirasakan di setiap masanya. Untuk itu, akan lebih baik apabila semua yang terlibat menyamakan visi demi kebaikan bersama.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.