Sampeyan Mau jadi Diktator? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Protest warga Macao atas kediktatoran pemerintah Beijing

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 12 April 2021 20:19 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Sampeyan Mau jadi Diktator?

    Ketika politik merupakan ajang perayaan massal bagi individu, godaan untuk menjadi pusat orbit makin sulit dielakkan. Selalu ada desakan dari orang-orang sekitar sang tokoh untuk menjadikannya sebagai pusat cahaya. Seorang diktator biasanya membutuhkan ilusi adanya dukungan banyak orang. Situasi ini juga dapat terjadi di lingkungan organisasi bisnis, nonprofit, dan institusi pemerintahan di level mana pun.

    Dibaca : 507 kali

    #SeninCoaching: 

    #Lead for Good: Are you going to Be a Dictator?

    Mohamad Cholid, Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    L’Etat, c’est moi.” Konon Louis XIV, Raja Prancis di Abad 17, pernah mengukuhkan, “Negara adalah saya.” Sebagai pemegang kekuasaan monarki absolut, Louis XIV menjadikan dirinya pusat orbit, dengan sebutan Raja Matahari. Maunya dianggap tidak bisa salah, infallible.  

    Di barat daya Paris, Louis XIV membangun Chateau of Versailles, istana monumental terdiri dari 700 kamar. Di sini ia sering mengumpulkan para bangsawan, kroni, dan para penjilat untuk berkompetisi memperlihatkan daya pikat – dan sekaligus, sesungguhnya, kelemahan (politik) – masing-masing agar dinilai, mengharapkan kemurahan Sang Raja Matahari. Jadilah Louis XIV seorang master dalam teater politik.

    Cerita tersebut mengantar buku menarik How to Be a Dictator (2019) Frank Dikotter, Chair Professor of Humanities University of Hong Kong. Frank menuturkan secara nyaris detil bagaimana delapan orang diktator di Abad XX tumbuh dan berkuasa. Mussolini, Hitler, Stalin, Mao Zedong, Kim Il-sung, Duvalier, Ceaucescu, dan Mengistu. Ditampilkan juga foto Hitler 1925 saat gladi resik untuk pidatonya. Begitu lihat foto itu, Hitler minta Heinrich Hoffmann, fotografer andalannya, untuk menghancurkan negative film gambar tersebut – tapi diam-diam Heinrich menyimpannya.

    Apakah di Abad XXI sekarang tidak ada pemimpin yang menjadikan dirinya sebagai Raja Matahari, pusat orbit yang dikelilingi aneka kelompok kepentingan? Anda tentunya punya jawabannya, sesuai persepsi masing-masing terhadap siapa pun yang (pernah) berkuasa.

    Penguasa tertinggi China Xi Jinping barangkali bisa jadi satu contoh. Partai Komunis China (PKC) minimal telah memberinya tujuh gelar pemujaan, antara lain Pemimpin Negara Hebat dan Arsitek Modernisasi di Era Baru. Ada juga ungkapan “Mematuhimu adalah mengikuti matahari”. Kongres Rakyat Nasional pada 2018 telah menghapuskan batasan masa jabatannya, menjadi Chairman (PKC) seumur hidup. Orang yang bikin guyon dalam pesan online menyebutkannya sebagai Chairman of Everything diganjar dua tahun penjara.

    Ketika politik merupakan ajang perayaan massal bagi individu, godaan untuk menjadi pusat orbit sepertinya makin sulit dielakkan. Selalu ada desakan, halus dan terang-terangan, dari orang-orang sekitar sang tokoh untuk menjadikannya sebagai pusat cahaya – seringnya demi mencerahkan (ekonomi/peluang jabatan) bagi para pengikut, plus mungkin juga pendompleng. Bukankah demikian fakta yang sering kita tonton bersama?

    Seorang diktator atau orang-orang yang cenderung sulit menghindar dari godaan menjadi Raja Matahari biasanya membutuhkan ilusi adanya dukungan banyak orang. Situasi ini juga dapat terjadi di lingkungan organisasi bisnis, nonprofit, dan institusi pemerintahan di level mana pun. Karena kebanyakan dari kita sesungguhnya punya tendensi jadi diktator.

    Dalam pelbagai kasus dapat kita temukan kecenderungan para pengambil keputusan – apakah itu CEO, perwira tinggi penentu kebijakan, sekretaris jenderal institusi, bupati – membiarkan diri menjadi pusat orbit. Menciptakan ketergantungan banyak urusan pada dirinya. Kesukaan dan hobinya pun dapat perhatian khusus dari tim. Saat berulang tahun, misalnya, event yang sesuai hobinya itu biasanya ditangani sangat serius – kalau bos hobi musik, diadakan pertunjukan band, dengan sponsor utama para rekanan (vendors).

    Walaupun tidak terucapkan, persepsi yang berkembang kemudian adalah “L’enterprise, c’est moi“– “perusahaan/institusi adalah saya”. Kurang-lebih seirama dengan “L’Etat, c’est moi.

    Sampai hari ini, diakui atau tidak, masih ada saja mesin politik dan operasional institusi    yang dijalankan berdasarkan perilaku kepemimpinan dan human relationship seperti itu.

    Indikasinya, antara lain, bos tidak pernah keliru, kesalahan selalu ditimpakan kepada anak buah tanpa sedikit pun dia sadari bahwa tim belum terlatih dan tidak diberi kejelasan apa yang seharusnya dicapai. Bos selalu punya jawaban atas segala situasi, sering bermonolog, gemar membangun kesimpulan-kesimpulan sendiri tanpa ada dialog konstruktif, sehingga anak buah bekerja dalam suasana terteror.

    Kediktatoran di sektor publik atau dalam organisasi selain menghasilkan kegalauan juga menyuburkan kemunafikan. Diktator hanya perlu orang-orang patuh dan penjilat; bukan tim yang cerdas. “A bad system will beat a good person every time,” kata Edwards Deming.

    Kondisi semacam itu, menurut perspektif agama mana pun, bisa dianggap bertentangan dengan tujuan-tujuan penciptaan Tuhan. Karena kediktatoran menghambat manusia untuk berprestasi optimal sesuai harkatnya.

    Para pimpinan institusi dan pemilik bisnis yang senang mendominasi setiap interaksi, banyak ngomong, kehilangan ketrampilan menggali info dan mengolah data, cenderung mudah terkecoh oleh realitas, gampang kena tipu – karena mereka biasanya sulit pula menerima masukan atau perspektif alternatif yang bisa lebih baik.

    Dampak tangible yang langsung dapat dikenali adalah pemborosan resources (uang, ongkos birokrasi, waktu, dan kecerdasan). Efek intangible yang tidak kurang membahayakannya adalah tergerusnya emotional bank account, bahkan di kedua pihak, pimpinan dan tim. Bos makin terkikis empatinya, tim bekerja setengah hati. Semua pihak setiap hari mengejar ilusi.

    Dalam kondisi human interaction yang tidak sehat begitu – yang memustahilkan internal disruption, pengembangan kompetensi -- sampai kapan bisa bertahan tidak tumbang?

    Hari-hari ini, ketika bekerja remote jadi kebutuhan dan interaksi fisik berkurang drastis, sementara tantangan keadaan makin tak terduga, kebutuhan untuk melaksanakan health check organisasi dan ase smen ulang kepemimpinan para eksekutif makin mendesak.

    Sebelum itu, mohon jawab dulu secara jujur beberapa hal mendasar ini: Bagaimana tingkat kepercayaan antar divisi, antar unit, dan antar personel di organisasi Anda? Apakah anggota tim sulit berinteraksi karena takut konflik, dengan kata lain belum terlatih berkomunikasi terbuka? Sejauh mana tingkat komitmen Anda dan tim untuk meraih hasil? Akuntabilitas masing-masing fungsi bagaiamana?

    Mohamad Cholid adalah Member of Global Coach Group (www.globalcoachgroup.com) & Head Coach di Next Stage Coaching.

    • Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching
    • Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment (GLA 360)
    • Certified Global Coach Group Leadership Assessment & Coach

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (https://sccoaching.com/coach/mcholid1)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.