Cermin Menghormati dan Menghargai - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Menghargai

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 20 April 2021 11:37 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Cermin Menghormati dan Menghargai

    Karena menghormati dan menghargai orang lain, saya rela ke luar dari kegiatan/pekerjaan/hobi yang saya geluti bila salah satu saja dari 12 poin identifikasi masalah yang saya ungkap, tak dapat saya penuhi.

    Dibaca : 320 kali

    Menghormati, menghargai yang manusiawi, bukan memanfaatkan. (Supartono JW20042021).

    Untuk mengetahui apakah saya orang yang menghargai dan menghormati diri sendiri, orang lain, dan apa pun kegiatan atau pekerjaan atau hobi dan lainnya, berikut coba saya identifikasi beberapa hal yang saya padukan dari berbagai literasi dan terutama pengalaman pribadi, berdasarkan pemikiran ilmiah, hingga humaniora, ilmu budaya, ilmu yang mempelajari tentang cara membuat atau mengangkat manusia menjadi lebih manusiawi dan berbudaya. Humaniora biasa disebut artes liberales (bahasa latin) yaitu studi tentang kemanusiaan. 

    Berikut adalah identifikasinya saat saya kembali bertanya kepada diri saya sendiri. Pertanyaannya, di antaranya:

    (1) Apakah saya orang yang paham dan tahu betul tentang tema, judul, latar belakang, tujuan, visi misi, sasaran, dan kesimpulan hingga manfaat dari kegiatan yang diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain?

    (2) Apakah saya orang yang sudah mengkalkulasi baik-buruk, kelebihan-kekurangan, halal-haram, manfaat-bahaya dll dari kegiatan yang diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain?

    (3) Apakah saya orang yang mencatat setiap kegiatan yang akan dilakukan baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain, bahkan ingat dan hafal?

    (4) Apakah saya orang yang komitmen pada kegiatan yang akan atau sudah diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain?

    (5) Apakah saya orang yang komunikatif bila  terlambat atau berhalangan hadir pada kegiatan yang diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain?

    (6) Apakah saya merasa tidak enak atau merasa bersalah bila tidak komit dan tidak komunikatif saat terlambat atau berhalangan hadir pada kegiatan yang diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain?

    (7) Apakah saya orang yang selalu berusaha tepat waktu pada kegiatan yang diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain?

    (8) Apakah saya orang yang tahu betul apa yang harus dilakukan pada kegiatan yang diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain?

    (9) Apakah saya orang yang ikut tergerak hati, peduli, simpati, dan empati bila ada orang dalam kegiatan baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain hanya mementingkan diri sendiri apalagi sekadar memanfaatkan bahkan mengambil keuntungan pribadi?

    (10) Apakah saya orang yang tahu diri, punya inisiatif, dan tahu harus berbuat apa pada kegiatan yang diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain, tanpa perlu diarahkan dan dikomando?

    (11) Apakah saya orang yang suka menyalahkan atau menimpakan kesalahan pada orang lain dalam kegiatan yang diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain?

    (12) Apakah saya orang yang amanah dan mampu menjaga nama baik kegiatan yang diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain?

    Selain 12 identifikasi masalah tersebut, masih banyak pertanyaan-pertanyaan dari pengalaman nyata yang minimal dapat mengidentifikasi, apakah saya orang yang menghormati dan menghargai kegiatan yang diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain dengan penuh tanggungjawab dan tulus-ikhlas tanpa embel-embel lainnya. Bukan menjadi kendaraan kepentingan, memanfaatkan, dan mengambil keuntungan pribadi 

    Dari pertanyaan-pertanyaan yang saya susun berdasar pemikiran ilmiah tersebut, sebagai contoh, sesuai pengalaman nyata yang saya identifikasi di nomor (6) Apakah saya merasa tidak enak atau merasa bersalah bila tidak komit dan tidak komunikatif saat terlambat atau berhalangan hadir pada kegiatan yang diikuti baik untuk diri sendiri, pekerjaan, kekeluargaan, hobi, dan kegiatan lain? Maka, karena saya sangat menghormati dan menghargai semua kegiatan/pekerjaan/hobi dll yang saya ikuti, maka ada kegiatan yang harus saya kalahkan, bahkan saya korbankan.

    Pasalnya, meski bagi saya semua kegiatan/pekerjaan/hobi adalah utama, prioritas, penting, namun sebagai manusia biasa, mustahil saya serakah dan mampu dalam waktu yang bersamaan harus berada di dua atau tiga tempat berbeda yang semua membutuhkan komitmen dan tanggungjawab saya serta wajib amanah.

    Dari pengalaman itu, tidak cukup sikap komunikatif dengan izin atau lainnya, karena semua kegiatan juga wajib komitmen secara waktu dan keberadaan saya. Akhirnya, saya harus rela melepas satu atau dua kegiatan yang bagi saya juga sangat penting dan prioritas.

    Banyak kisah lain yang saya temukan pada orang-orang di sekitar saya, meski sudah menjadi bagian dari kegiatan baik di pekerjaan atau hobi dan lainnya ternyata malah bermasalah dari identifikasi nomor (1) sampai dengan nomor (12).

    Pengaruh pendidikan dan lingkungan

    Dari pengalaman saya di tempat pekerjaan, di kegiatan hobi, dan lainnya, orang-orang yang terkendala sesuai identifikasi 12 poin tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengaruh lingkungan, dan tingkat humaniora mereka selama ini.

    Akibatnya, sulit berkembang daya intelektualnya, sosialnya, emosionalnya, analisisnya, kreativitasnya dan imajinasinya, hingga kurang imannya (ISEAKI), sehingga akan sulit berpikir untuk menghargai dan menghormati. 

    Ada juga mereka-mereka sudah terdidik, namun ISEAKI dan nuraninya memang dibungkam oleh dirinya sendiri, dibutakan oleh duniawi,  sehingga yang ada hanya mementingkan diri sendiri dan egois. Menghalalkan segala cara, meski sadar sikapnya sangat dipahami orang lain, tetapi cuek bebek, tebal muka, dan tak tahu diri.

    Orang-orang semacam ini juga akan kebal dan bebal dari rasa peduli, simpati, dan empati, maka tak penting baginya menghargai dan menghormati orang lain, kegiatan/pekerjaan/hobi yang digeluti. 

    Orang-orang semacam ini ada yang sangat tahu agama, tahu dosa, tahu sikapnya menyakiti hati orang lain, karena memang sudah dibutakan oleh duniawi.

    Mengulas tentang apakah saya orang yang menghormati dan menghargai kegiatan/pekerjaan/hobi/orang lain, sangat luas cakupannya. Namun, dalam kesempatan ini, secuil pengalaman nyata yang saya arungi sepanjang kehidupan ini, minimal dapat untuk bercermin bagi diri saya sendiri agar saya selalu dapat menghormati dan menghargai kegiatan/pekerjaan/hobi/orang lain.

    Cara yang selama ini saya lakukan biasa dengan sikap dan perbuatan (bicara dan menulis). Bahkan demi menyadarkan diri atau membantu orang lain sadar karena sudah melakukan hal yang salah, saya memilih tegas bersikap, mengungkap, bicara, hingga menulis meski menyakitkan sekalipun, tetapi cara itu memang wajib ditempuh dengan tujuan menyelesaikan masalah, tidak membiarkan masalah tambah melebar.

    Ketegasan yang terkadang menyakitkan, adalah bagian dari cara saya menghargai dan menghormati agar semua berjalan di relnya, benar. Karena betapa pentingnya menghormati dan menghargai kegiatan/pekerjaan/hobi/orang lain.

    Jadi, karena menghormati dan menghargai orang lain, saya rela ke luar dari kegiatan/pekerjaan/hobi yang saya geluti bila salah satu saja dari 12 poin identifikasi masalah yang saya ungkap, tak dapat saya penuhi.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.