Pembelajaran Nonformal dalam Peringatan Hari Kartini, Terganjal Akibat Wabah Pandemi - Pilihan - www.indonesiana.id
x

RA Kartini

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 21 April 2021 05:52 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Pembelajaran Nonformal dalam Peringatan Hari Kartini, Terganjal Akibat Wabah Pandemi

    Tradisi peringatan Hari Kartini sebelum ini membuat spiritnya telah merasuk ke dalam setiap hati dan pikiran masyarakat Indonesia. Itu menjadi pembelajaran nonformal yang sangat berfaedah. Tetapi dalam dua tahun terakhir, peringatan itu terkendala wabah. Ada tradisi yang terpaksa terputus. Karena kini peringatan hari Kartini harus dijalankan dengan cara protokol Covid-19. Tetapi jangan patah semangat!

    Dibaca : 419 kali

    Sejak Raden Ajeng Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, peringatan Hari Kartini (HK) tahun ini adalah edisi yang ke-57. Kartini ditetapkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan keputusan Presiden Nomor 108 pada 2 Mei 1964.

    Sejak pandemi corona hadir di dunia, maka peringatan HK tahun ini menjadi yang ke-2 di tengah wabah Covid-19 yang masih konsisten merajalela di dunia dan Nusantara.

    Sebelum Covid-19 melanda, tradisi peringatan HK, khusus untuk wanita identik dengan perayaan mengenakan Kebaya. Lalu, dilanjutkan dengan budaya mengenakan kostum adat di seluruh nusantara di setiap instansi, institusi, dan sekolah.

    Tradisi peringatan, mendarah daging

    Sebelum corona datang dua tahun ini, praktis selama 55 tahun peringatan HK, sejatinya bentuk kegiatannya hanya mengulang-ulang saja plus pemaknaan yang juga hampir sama. Namun, pengulangan-pengulangan kegiatan, justru semakin membikin masyarakat semakin hafal di luar kepala menyoal HK.

    Peringatan HK pun identik dengan perayaan di seluruh instansi dan istitusi, terutama dibudayakan di sekolah. Karenanya, setiap siswa dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Perguruan Tinggi (PT) tentu terus lekat dan mendarah daging dengan HK.

    Hal ini juga menjadi keuntungan tersendiri, sebab golongan masyarakat terdidik terus menjadi panutan masyarakat lain. Perayaan HK yang mendarah daging di sekolah dan PT serta instansi-instansi, menjadi pemicu menyebarnya pesan-pesan edukatif menyoal keteladanan Kartini. Bukan hanya untuk kaum wanita, tapi juga untuk kaum lelaki dan seluruh rakyat Indonesia.

    Menurut saya, tradisi yang mendarah daging dan merasuk ke dalam setiap hati dan pikiran masyarakat, akan menjadi pembelajaran nonformal yang merasuk dengan sendirinya ke jiwa masyarakat. Tanpa disadari, nilai-nilai dan spirit keteladanan Kartini tertancap dan menancap di hati dan pikiran masyarakat.

    Untuk itu, saat perayaan peringatan HK terkendala oleh kehadiran corona, saya merasakan ada tradisi yang terpaksa terputus. Pasalnya, tradisi peringatan HK harus dijalankan dengan cara protokol Covid-19.

    Kepeloporan dan keteladanan

    Tradisi perayaan HK, memang wajib terus digaungkan dari generasi ke generasi, sebab RA Kartini merupakan pejuang sekaligus pelopor kemajuan kaum wanita di Indonesia. Berkat pemikiran dan usahanya, perempuan-perempuan Indonesia memiliki pendidikan dan hak yang sama dengan laki-laki.

    Karena jasanya, maka hari lahir RA Kartini pada 21 April 1879 di Mayong Jepara,  setiap tanggal 21 April di Indonesia diperingati sebagai HK. Setiap tahun, setiap generasi rakyat Indonesia wajib terus dirasuki nilai-nilai keteladanan RA Kartini karena menjadi pondasi di berbagai segi dan lini kehidupan, terutama untuk individu atau pribadi setiap rakyat.

    Keteladanan RA Kartini yang selama ini telah mendarah daging di segenap rakyat Indonesia, harus terus diwariskan ke generasi baru. Tujuannya, agar mereka menerima estafet spirit RA Kartini, khususnya  tentang RA Kartini yang memiliki jiwa dan karakter besar hati, rendah hati, peduli, empati, simpati, berani, optimis, mandiri, sederhana, berwawasan luas, dan menginspirasi.

    Generasi baru Indonesia wajib paham bahwa meski RA Kartini ditentang masyarakat sekitar karena memiliki pandangan berbeda, dia tetap memperjuangkan martabat perempuan. Kartini dengan berani mendobrak aturan-aturan yang ada.

    Pasalnya, Kartini menganggap bahwa perempuan harus keluar rumah untuk belajar dan mengejar cita-cita. Tidak hanya di dalam rumah, apalagi hanya mengurusi rumah tangga.

    Selain itu, Kartini adalah perempuan yang mandiri. Selalu mencari cara agar pemikirannya dapat tersampaikan kepada orang banyak. Meski tidak sekolah tinggi, selalu belajar dengan usahanya sendiri. Gemar menulis surat kepada sahabat penanya.

    Lebih dari itu, lahir dari keluarga bangsawan, ayahnya merupakan bupati Jepara dan berasal dari keluarga yang terpandang, tetap membuat Kartini tetap hidup sederhana dan berteman dengan siapa saja.

    Kegemarannya menulis surat, membikin wawasan Kartini semakin luas dengan dunia luar (Barat) dan menginspirasi serta membuat berpikir bahwa perempuan harus memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Baik dalam pendidikan, bekerja, dan berpendapat. Dalam melakukan semua hal RA Kartini penuh optimisme, percaya diri, bersungguh-sungguh, dan ikhlas.

    Itulah sosok RA Kartini. Sikap, tindakan, dan perbuatannya patut terus diteladani dan menjadi spirit bagi jiwa-jiwa emansipasi wanita di Indonesia khususnya, dan umumnya patut ditiru oleh seluruh rakyat Indonesia.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.