Catatan Perjalanan | Menelusuri Tiga Wajah Mumbai - Travel - www.indonesiana.id
x

Salah satu sudut Kota Mumbai, India. Foto: Tulus Wijanarko

tuluswijanarko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 21 April 2021 22:23 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Catatan Perjalanan | Menelusuri Tiga Wajah Mumbai

    Sebuah Mumbai yang terbentuk oleh dua wajah bertolak belakang namun hadir sejajar: kemakmuran menyolok di satu sisi, dan kemiskinan papa di sisi lainnya. Diantara itu ada kriket yang menautkan spirit seluruh orang India. Lalu apakah wajah yang ketiga? Berikut serpihan catatan perjalanan saya ke Mumbai tahun 2011 silam. Mungkin keadaan sekarang sudah banyak perubahan. Oh ya sempat juga diajak mlipir ke kediaman bintang Bollywood: Shahrukh Khan.

    Dibaca : 638 kali

    Tetapi begitu bus yang membawaku meninggalkan bandara mulai bergerak, aku berusaha membebaskan benakku dari stereotip apa pun. Kukerahkan pancaindera untuk mencerap apa saja yang kutemui di kota yang dulu bernama Bombay ini. Dari mulai merasakan iklim yang lebih panas ketimbang New Delhi, misalnya, hingga ikhtiar memahami ritme kehidupan warga Mumbai yang konon datang dari seluruh penjuru India ini.

    Nyatanya, aku gagal mengelak dari ”kutukan” stereotisasi di atas. Destinasi pertamaku setelah sekitar 40 menit meninggalkan bandara adalah mengunjungi kantor bursa komoditi MCX (Multi Commodity Excahnge) di kawasan Chakala, Andheri East. Jangan bayangkan, kantor yang mengelola perdagangan komoditi senilai 9-11 Miliar Dolar AS per hari ini terletak di sebuah pusat bisnis nan megah laiknya Jakarta Stox Exchange yang magrong-magrong di jantung Jakarta itu.

    Tidak, kantor ini terletak di tepi jalan—yang mengingatkanku pada seruas jalan kecil di pojok Tanah Abang, Jakarta. Jalan di depan kantor ini hanya pas untuk dua kendaraan saling berpapasan. Dan, lalu lalang auto-rickshaw dan truk-truk menunjukkan dimana kelas jalan ini.

    Di seberang kantor, kulihat bangunan kumuh seperti tempat pergudangan tak terawat. Itu semua kontras sekali dengan apa yang berlangsung menit demi menit di dalam kantor. Para profesional nan wangi sigap menekan-nekan keyboard untuk mendenyutkan 80 persen perdagangan komoditi India dengan dukungan teknologi canggih. Maka inilah kenyataan Mumbai. Ibukota Negara Bagian Maharashtra ini telah menorehkan tanda tangan-nya dengan tegas tentang citra ”Kota Dengan Dua Wajah” di dalam benakku--bahkan mungkin pada jam pertama kunjunganku ke kota ini.

    Mumbai berasal dari kata Mumbadevi, yakni dewa pelindung kaum nelayan Koli—penduduk tertua di sini. Ini adalah kota dengan sejarah yang bisa ditarik hingga masa 1000 tahun sebelum Masehi. Benih-benih yang kelak menjadikan Mumbai berkembang menjadi kawasan perdanganan dan industri ini sudah tertanam sejak masa 4 abad sebelum Masehi. Saat itu penduduk Pulau Salsette, tempat Mumbai ini berada, sudah menjalin hubungan dagang dengan orang-orang Persia, Mesir, dan Babylon,

    Berbagai kekuatan pernah menguasai wilayah ini, mulai dari Kerajaan Mauryan yang dipengaruhi Budha hingga Portugis dan terakhir Inggris. Pengaruh para penakluk itu jejaknya masih bisa diendus hingga kini, salah satunya, lewat berbagai arsitektur bangunan yang masih terawat baik. Bangunan bergaya Viktorian dan Gothic masih cukup banyak ditemui di penjuru kota. Hal itu terutama terlihat pada bangunan-bangunan publik seperti pengadilan, stasiun, museum, perpustakaan, kantor pos, bank, dan lain-lain. Salah satu ikon-nya adalah Stasiun Chhatapati Shivaji Terminus yang mengendalikan jaringan kereta api di kota ini.

    Sejak 1971 kota ini berkembang menjadi The Greater Mumbai setelah 14 kota kecil (yang disebur Node) di sekitarnya diintegrasikan dengan jaringan transportasi yang efisien. Di setiap node itu dibangun fasilitas lengkap mulai dari kesehatan, pendidikan, agama, budaya, dan rekreasi.

    Tentu saja seluruh pengetahuan historis itu kuketahui belakangan. Aku membacanya dari buku yang kubeli dari toko buku di kawasan Colaba Couseway yang sibuk. Tetapi sejarah hanya akan berhenti sebagai teks yang dingin begitu kitab ditutup. Sejarah baru akan terasa memiliki darah-daging jika ada upaya mencerna setiap jejak yang ditinggalkan--juga terhadap kota yang tegak di pinggir Laut Arab ini. Itu artinya aku harus nglayap, menemui banyak orang, mendatangi sebanyak mungkin sudut-sudut Mumbai, memasuki atmosfer-nya seintim mungkin.

    Sebelum sampai ke Bandra, hari sebelumnya aku lebih dulu berkanalan dengan Narriman Point. Inilah kawasan bisnis dan perdagangan, yang ditandai dengan deretan pencakar langit persis di bibir pantai. Hm, kini aku mahfum kenapa orang-orang India membanggakan kawasan ini mirip Manhattan, New York. Jika anda berdiri persis di kawasan pejalan kaki dengan posisi laut berada di samping tubuh, pandangan akan bersirobok dengan garis pantai yang membentuk kurva sejauh mata memandang. Di bibir kurva itulah –kawasan ini disebut Marine Drive-- barisan pencakar langit trek-jentrek (Jawa: berderet-deret) hingga ke ujung.

    Jika dilihat dari udara, area ini mungkin seperti ibu jari dan telunjuk yang membentuk formasi cakar atau setengah lingkaran. Sebuah formasi yang persis sama dengan kawasan Prabhadevi (sebagai ibu jari) dan Bandra (telunjuk) yang dihubungkan dengan sebuah Sea-Link di kedua ”ujung jari”-nya.

    Beraktivitas di Marine Drive saat matahari terbit tampaknya semacam charge bagi warga Mumbai memulai hari. Seribu macam aktivitas relaksasi dilakukan orang-orang di di pedestrian. Disela pohon palem nan hijau atau ditingkah merpati hitam yang kadang tak segan hinggap mendekat, mereka jogging, jalan kaki, yoga, atau sekadar bercengkarama di tanggul yang membatasi trotoar dan pantai.

    Seorang pernah mengatakan kepadaku karakter warga Mumbai adalah energik dan ambisius. Barangkali karena tersugesti itu rasanya tak kutemukan wajah-wajah kuyu dari kaum profesional saat pulang kantor sore hari. Berjalan kaki menyusuri Jalan Mahatma Gandi, lalu memotong ke kiri di Jalan Shahid Bagat untuk terus ke The Gateway Of India di Appolo Bandar, aku berpapasan dengan wajah-wajah kantoran yang tetap segar itu. Barangkali sebagian dari mereka sempat bertemu denganku di Marine Drive pagi tadi.

    Dan, mereka adalah orang-orang yang cukup hangat. Setidaknya mereka akan menghentikan langkah bergegasnya untuk menerangkan arah sejelas mungkin saat kutanyakan jalan menuju Gerbang India yang selesai dibangun pada 1957 itu. Pada malam lain, saat tersesat di kawasan Colaba Couseway dan hendak kembali ke hotel, seorang perempuan yang kutanya tak segan menerangkan pilihan yang kuhadapi, ”Jika jalan kaki anda memerlukan waktu satu jam, dan jika naik taksi hanya butuh 15 menit. Biaya tak akan lebih dari 30 rupee,” katanya. Lalu ia membantu menyetop taksi dan berbicara pada pengemudi dalam bahasa Hindi—yang kutaksir artinya antarkan turis ini dan jangan permainkan argomu.

     

    Kehangatan serupa kutemukan saat para petinggi di MCX menerima kunjungan saya dan beberapa jurnalis dari ASEAN kemarin. Managing Director dan CEO MCX Lamon Rutten dan para wakilnya tak kelihatan jemu melayani diskusi dan mengantarkan kami meninjau bagian-bagian terpenting kantor ini.

    Di Colaba Cousway, kawasan shopping teramai Mumbai, tentu saja kehangatan para pedagang di sana sedikit banyak terkait dengan transaksi yang kita lklukan. ”Are you happy,” tanyaku pada seorang pedagang cindera mata ketika kami menyepakati harga pada 50 persen dari penawaran awal. Ia mesem saja. Toh, aku tetap senang ketika melintas di sana lagi pada hari lain pedagang itu masih mengingatku dan memberikan salam tos-nya. Kali ini tak kurasakan motif jualan pada sapaannya.

    Siang ini kutemukan kehangatan itu pada Sonu dan teman-temannya. Ia banyak cerita tentang berbagai hal termasuk Shahrukh Khan yang ia sebut sebagai ”good actor, and good man.” Dan kami lalu berpisah dengan salam khas kriket: menumbukan ringan tinju kami masing-masing.

    Kurasa, aku akhirnya menemukan wajah ketiga Mumbai tanpa aku sibuk mencarinya, ialah kehangatan warganya pada orang asing. Setidaknya itu terlihat pada sebagian besar orang-orang yang kutemui.

    *) Naskah pernah ini dimuat di majalah U Mag (edisi April 2011)
    Foto-foto: Tulus Wijanarko



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.