Vaksin, Sains, dan Kebenaran Dahlan (oleh Lukas Luwarso) - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Dahlan Iskan. TEMPO/Subekti

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 22 April 2021 10:56 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Vaksin, Sains, dan Kebenaran Dahlan (oleh Lukas Luwarso)

    Drama Vaksin Nusantara (VaNus) sudah berakhir. Tim VaNus dipersilahkan melanjutkan penelitian sel dendritik, namun bukan sebagai vaksin untuk Covid-19. Dan bukan untuk tujuan komersial, tidak memerlukan izin edar dari BPOM. Penelitian juga bukan kelanjutan dari penelitian VaNus. Vaksin Nusantara tamat. Polemik VaNus ini memberi pelajaran penting bagi publik bagaimana memahami vaksin, metode sains, dan memilah opini yang valid atau tidak. Kebenaran tentang vaksin tidak memerlukan dukungan publik, tapi prosedur yang benar.

    Dibaca : 442 kali

    Drama Vaksin Nusantara (VaNus) sudah berakhir pada 19 April. Penandatangan Nota Kesepahaman antara KSAD, Menteri Kesehatan, dan Kepala BPOM mengakhiri polemik dan kontroversinya . Tim VaNus dipersilahkan melanjutkan penelitian sel dendritik, namun bukan sebagai vaksin untuk Covid-19. Dan bukan untuk tujuan komersial, tidak memerlukan izin edar dari BPOM. Penelitian juga bukan kelanjutan dari penelitian VaNus. Vaksin Nusantara tamat.

    Polemik VaNus memberi pelajaran penting bagi publik tentang bagaimana memahami vaksin, metode sains, dan memilah opini yang valid atau tidak. Memilah pro-kontra tentang “kebenaran”.

    Artikel Dahlan Iskan “Miko Nusantara” (Disway, 19 April) terkait VaNus adalah ringkasan menarik pro-kontra itu. Artikel ini, alih-alih cuma opini, memuat utuh tulisan dua dokter ahli yang kontra dengan VaNus. Berseberangan dengan posisi Dahlan yang selain pro Vanus juga salah satu promotor dan juru kampanyenya.

    Dahlan mencoba adil, memuat utuh tulisan dua dokter ahli yang tidak sependapat dengannya. Sebagai wujud “keterbukaan pikiran, ciri intelektual.” Sembari menegaskan ia dan medianya, Disway, adalah pendukung VaNus. Namun, Dahlan tetap menyampaikan opininya pada paragraf terakhir, mengomentari tulisan dua ahli tersebut.

    Menurut Dahlan, BPOM boleh menegakkan ketentuan, tapi bukan berarti eksperimen di luar BPOM harus dilarang. Ia bahkan menyarankan upaya hukum, melapor ke polisi, bagi pihak yang merasa dirugikan. Baginya “kebenaran tidak bisa dimonopoli”. Ia menutup artikelnya dengan ajakan untuk belajar dari kasus DSA, Stemcell, dan Konvalesen. “Banyak kebenaran di luar kebenaran”.

    Tulisan Prof. Dr. Ario Djatmiko dan Prof. Dr. Djohansah Marzoeki, cukup gamblang dan tegas menguraikan problematik wacana VaNus. Mereka mempersoalkan upaya pengembangan VaNus yang lebih bernuansa “heroik” ketimbang menegakkan prinsip ilmiah. Sekalipun menghormati kepakaran dan mengamini kebenaran pandangan dua ahli tersebut, Dahlan tetap merasa ia juga benar. Karena baginya kebenaran banyak ragamnya, dan tidak boleh dimonopoli.

    Kebenaran Dahlan

    Opini Dahlan tentang kebenaran tentu sah, kalau saja ia sedang berteori tentang filsafat ilmu sebagai perdebatan epistemologi. Namun ia tidak sedang berfilsafat, tapi sedang mempromosikan produk. Ia ingin meyakinkan publik, bahwa produk yang sedang dirintis Tim VaNus, yang ia dukung sepenuhnya, adalah benar.

    Apakah kebenaran yang dimaksud Dahlan? Tidak terlalu jelas, karena ia tidak mengelabolarasi ihwal kebenaran yang ia yakini. Dalam kajian filsafat, kebenaran sedikitnya dapat dipilah menjadi beberapa kategori. Kebenaran bersifat korespondensi, koheren, performatif, konsensus, atau pragmatis.

    Kebenaran korespondensi dilihat dari kesesuaian antara pernyataan dan fakta. Kebenaran koheren dilihat dari konsistensi dan keselarasannya. Kebenaran performatif, selain dinyatakan juga ditunjukkan melalui pembuktian. Kebenaran konsensus, adalah kesepakatan komunitas para ahli dalam bidangnya. Kebenaran pragmatis, menilai kegunaan praktis sebagai solusi konkret mengatasi persoalan.

    Berbasis lima kategori kebenaran (filosofis) itu, kebenaran mana yang dirujuk Dahlan? Saya beranggapan, Dahlan merujuk kebenaran konsensus. Tim VaNus yang tentu di dalamnya ada sejumlah ahli, berkonsesus membuat vaksin berbasis sel dendritik adalah benar.

    Kebenaran konsensus ini bersifat sementara, karena masih internal. Konsensus internal ini masih perlu diuji kalangan ahli eksternal, yang bukan tergabung dalam Tim VaNus. Dalam hal ini BPOM dan dokter ahli lainnya bisa berperan untuk memperluas konsensus para ahli (peer review) agar kebenaran lebih mendekati obyektif.

    Persoalan muncul ketika BPOM dan banyak ahli lain tidak sepakat dengan TIm VaNus. Belum ada konsensus (eksternal) tentang kebenaran rekayasa sel dendritik sebagai vaksin Covid-19. Masih perlu pembuktian. BPOM, sebagai lembaga yang diberi mandat oleh negara, meminta Tim VaNus mengulang uji klinis tahap pertama.

    Namun, alih-alih melakukan uji klinis ulang, mengikuti prosedur yang lazim (sebagai konsensus), Tim VaNus memilih memobilisasi dukungan opini. Mengajak sejumlah purnawirawan TNI dan politisi untuk berkampanye, memberi testimoni “kebenaran” produk VaNus. Akibatnya VaNus menjadi wilayah polemik kontroversi politik, ketimbang soal sains. Perang opini, ketimbang memberikan bukti.

    Sains dengan metode berbasis bukti (evidence-based), yang bisa diuji dan direplikasi, tidak memerlukan dukungan opini. Apapun opini khalayak tentang temuan atau teori sains, tidak mempengaruhi kebenaran sains. Teori Heliosentris Galileo, Teori Gravitasi Newton, dan Teori Evolusi Darwin tetap benar, sekalipun mungkin mayoritas opini menolaknya. Sains berbeda dengan politik atau kebijakan sosial, yang memang berbasis pada dukungan opini publik.

    Sains juga tidak terobsesi dengan “kebenaran”, yang seperti kata Dahlan, memang bisa beragam opini. Kebenaran kerap kental dengan sentimen subyektif. Sains fokus pada validitas dan faktualitas, berupaya mendekati obyektivitas fakta. Dan seringkali justru berlawanan dengan persepsi, asumsi, intuisi, opini, atau keyakinan umum. Contoh gamblang adalah persepsi bumi datar yang sempat diyakini manusia, yang diluruskan oleh fakta sains bahwa bumi bulat.

    Selanjutnya: Tentang Sains Vaksin



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.