Rimpu Mbojo - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ramadhan

Ramadhan Dhan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 April 2021

Sabtu, 24 April 2021 06:27 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Rimpu Mbojo

    Andaikan saja semuanya bisa menutup diri dengan baik, maka takkan ada yang namanya luka lara dibalik cadar bersinar wajah yang indah dan pesona.

    Dibaca : 513 kali

    Rasa bosan takkan pernah ada untuk selalu menutup wajah dari sarung tenun Bima karena aurat adalah mahkota yang terindah di dalam kehidupan dunia.

    Andaikan saja semuanya bisa menutup diri dengan baik, maka takkan ada yang namanya luka lara dibalik cadar bersinar wajah yang indah dan pesona.

    Itulah wujud dari hakekat manusia yang selalu berada dalam kesucian jiwa dan hati, pelan-pelan namun pasti pada keselarasan batin dengan ruh bersuci dari syariat.

    Untuk selalu berada pada keindahan sinar bulan dan bintang bersemayam pada alunan wajah dibalik Rimpu Mbojo dan berpadu menjadi pelangi berwarna warni seperti yang ada di sarung tenu orang Bima.

    Itu menggambarkan tentang kehidupan Bima yang serba punya budaya yang berbeda-beda disetiap desa dan kecamatan tersendiri sehingga bisa bersatu menanam cinta dan kasih sayang.

    Mahkota singgasana yang ada kini telah berpadu di atas sajadah berwarna putih, seputih hati yang tak pernah mengeluh untuk menutup diri dari mata sang raja, sehingga diri tak dirayu dan tertipu atas nama Tuhan.

    Mata hati ingin selalu berada di lingkaran cinta yang suci, agar tidak ternodai oleh kegelapan dan bahkan tak tergores oleh luka. Pada akhirnya diri ingin memuntahkan rasa yang sekian lama bersemayam menjadi dosa.

    Pada siapa aku berteduh ataupun mengadu selain daripada Tuhan yang Maha kasih dan sayang.

    Padamu wahai kasih kami berharap cinta yang suci karena dibalik cadar sarung tenun ini menyeruh topeng keimanan dan kelembutan isi hati.

    Untukmu wahai bidari dunia jagalah diri dari godaan para penjala kemurkaan yang membuat jiwa dan mata hatimu mengalir derasnya rasa sakit, sehingga kau lupa akan dirimu.

    Janganlah belajar dari Kiran, yang awalnya suci bagaikan kertas putih. Namun, ketika diberi tinta yang hitam ia menjadi perempuan bersembahyang pada kekufuran.

    Atas nama Tuhan iya berani bersyair bahwa pernikahan hanyalah sandiwara dan tidak bernilai pahala hanya kebutuhan seksual. Kiran berani berkata demikian karena sudah ternodai oleh kegelapan.

    Untuk itu wahai sang bidari dunia tetaplah menjadi wanita yang suci, jagalah diri dan tutuplah aurat dengan baik, agar kamu tidak pandang oleh laki-laki hina.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.