Geliat Berantas Buta Aksara TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Saat Ramadhan - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 28 April 2021 07:19 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Geliat Berantas Buta Aksara TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Saat Ramadhan

    Di bulan Ramadhan ini, pemberantasan buta aksara GEBERBURA tetap menggeliat di TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor. Apa menariknya?

    Dibaca : 242 kali

    Di bulan Ramadhan 1442 H, kru Tonigt Show NET TV Indonesia melakukan liputan geliat pemberantasan buta aksara yang dilakukan pendiri Taman Bacaan Masyaralat (TBM) Lentera Pustaka di Desa Sukaluyu Kaki Gunung Salak Bogor. Rencananya, GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) TBM Lentera Pustaka akan ditayangkan pada program Local Heroes berbagi kebaikan di acara Tonight Show dengan host Desta dan Vincent.

    Dari pukul 10.30 hingga 16.30 WIB, 5 orang kru Tonight Show yang dipimpin Mbak Rayen menengok aktivitas pemberantasan buta huruf yang dilakukan Syarifudin Yunus, penggagas GEBERBURA dan Pendiri TBM Lentera Pustaka. Kegiatan TBM ini ini sudah berjalan 4 tahun. Di samping kegiatan membaca, anak-anak taman bacaan dalam bergelut dengan buku sebagai bagian gerakan literasi.

    Penggagas GEBERBURA TBM Lentera Pustaka dalam kacamata Tonight Show NET TV, dianggap “orang langka” yang masih mau yang berjuang untuk membantu kaum buta aksara yang tidak terdeteksi. Apalagi di tengah era digital, maka penting hari ini untuk membebaskan kaum ibu-ibu dari belenggu buta aksara. Agar lebih terhormat di mata anak-anaknya, di samping sebagai ikhtiar untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung sebagai bagian literasi dasar hidup manusia. Apalagi di kaki Gunung Salak yang hanya 75 kilometer dari Ibukota Jakarta, kok masih ada buta aksara?

    Syuting kelas GEBERBURA ini diikuti oleh 10 ibu-ibu yang selama ini telah menjadi warga belajar seminggu dua kali dalam pemberantasan buta aksara yang dilakukan TBM Lentera Pustaka. Dengan menerapkan protokol Kesehatan, para ibu buta aksara diliput aktivitas mengenal huruf, mengeja kata, membaca kata per kata, membuat kalimat, hingga menulis di papan tulis, termasuk motivasi belajar dan cara mempertahankan untuk tetap datang ke GEBERBURA di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga.

    Ibu Arniati, 52 tahun, pun bertutur pengalamannya “dibohongi orang” akibat tidak bisa membaca dan menulis.  Hingga akhirnya kini bisa membaca dan menulis, bahkan bisa menulis nama yang senada dengan tanda tangan. Lain lagi Ibu Eeh (66 tahun) yang tetap semangat belajar baca- tulis sekalipun usia sudah tua. Bahkan ada Ibu Euis (48 tahun) yang tetap ngotit belajar baca-tulis walau mengalami kendala sakit mata. Sehingga harus membaca teks dan menulis dari jarak mata yang sangat dekat. Kisah itu semua diutarakan secara apa adanya kepada crew Tonight Show NET TV.

     

    “Gerakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) TBM Lentera Pustaka sebenarnya terjadi tanpa sengaja. Saat ada seorang ibu yang ngobrol dengan saya, ternyata tidak bisa membaca dan menulis. Karena itu, saya terpanggul untuk mengajarkan mereka seminggu 2 kali. Alhamdulillah, sekarang mereka sudah bisa membaca dan menulis sekalipun masih tersendat. Sekarang sudah ada 10 ibu-ibu yag jadi warga belajar. Rutin dan penuh semangat” ujar Syarifudin Yunus, Penggagas GEBERBURA TBM Lentera Pustaka saat shooting hari ini.

    Hal yang tidak kalah menarik, ibu-ibu buta aksara selalu mendapat “hadiah” berupa seliter beras atau mie instan untuk motivasi belajar mereka. Maklum di GEBERBURA, ibu-ibu buta aksara pun dihadapkan pada tantangan pekerjaan rumah, izin suami, dan rutinitas mengurus anak. Jadi, sangat gampang untuk tidak datang dan tidak belajar baca-tulis. Di sisi lain, Syarifudin Yunus pun sebagai penggagas mau secara sukarela mengabdi dan mengajar agar para ibu-ibu bebas dari buta aksara. Padahal, ia sendiri tinggal di Jakarta dan setiap hari Minggu datang untuk mengajar kaum buta aksara.

    Saat tayang nanti di Tonight Show NET TV, ada pesan sosial dari liputan ini, Bahwa semua pihak perlu bersinergi untuk lebih peduli kepada aktivitas pemberantasa buta aksara, di samping taman bacaan di Indonesia, Tentu, untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik ke depannya di tengah godaan era digital.

    Karena sejatinya, untaian huruf dan kata-kata indah sama sekali tidak bermakna. Ketika masih ada ibu-ibu yang mengalami buta aksara, tidak bisa membaca dan menulis di dekat kita serta anak-anak yang masih terancam putus sekolah. #TBMLenteraPustaka #GeberBura #TamanBacaan #BudayaLiterasi



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.