Bayang-bayang Hitam: Agama yang Dipolitiasi - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover buku Bayang-bayang Hitam

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 30 April 2021 07:22 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Bayang-bayang Hitam: Agama yang Dipolitiasi

    Novel sejarah karya Najib Kailani ini emngungkap sejarah Ethiopia di masa Kaisar Iyasu. Khailani menggunakan kisah sejarah untuk menunjukkan bagaimana para pemimpin agama mengekploitasi agama menjadi alat kekuasaan yang kejam.

    Dibaca : 403 kali

    Judul: Bayang-bayang Hitam

    Judul Asli: Azh-Zhill Al Aswad

    Penulis: Najib Kailani

    Penterjemah: Rudy Wahyudi

    Tahun Terbit: 2002

    Penerbit: Syaamil Cipta Media                                                                             

    Tebal: x + 192

    ISBN: 979-9435-61-73

     

    “Bayang-bayang Hitam” atau judul aslinya “Azh-Zhill Al Aswad” adalah novel sejarah yang mengisahkan tentang era Iyasu menjadi menjadi kaisar. Iyasu adalah cucu Manelik II. Iyasu menjadi Kaisar karena Manelik II tidak memiliki anak lelaki. Novel pendek ini berkisah tentang bagaimana jahatnya pemuka agama yang menggunakan agama sebagai alat politik. Iyasu mewarisi Negeri Ethiopia yang dikuasai oleh para pemuka agama. Para pemuka agama ini – yang dipimpin oleh Kardinal Matheus melakukan korupsi besar-besaran, menindas kelompok Muslim dan membodohi keluarga Kaisar dengan ajaran kesetiaan kepada agama.

    Tema yang diangkan oleh Najib Kailani di novel ini sangatlah relevan dengan situasi dimana ada orang-orang yang memanfaatkan agama bagi kepentingan politik dan ekonomi mereka. Wajah para pemimpin agama ini sepertinya suci dan membawa rahmad. Tetapi sesungguhnya mereka ini sedang memanfaatkan agama untuk kepentingannya sendiri. Mereka membangun kebencian umat kepada umat lain, padahal di agama tersebut justru kasih yang diajarkan. Bukankah kasus pelintiran kebenaran agama untuk menimbulkan kebencian kepada yang bukan seagama sering terjadi di kancah politik?

    Iyasu adalah anak dari Shu Arkos. Shu Arkos adalah anak perempuan Manelik II. Ayah Iyasu bernama Michael. Michael adalah Gubernur Walelo yang dipaksa menjadi Kristen. Nama asli Michael adalah Muhammad Ali. Meski sudah berganti nama menjadi Michael, sebenarnya ia tetap mempertahankan agama lamanya secara diam-diam.

    Ketika Iyasu menjadi Kaisar ia galau dan bahkan muak dengan perilaku para pemimpin agama yang berdakwah tentang kasih dan hidup sederhana tetapi pada kenyataannya mereka hidup dengan gelimang kesenangan duniawi. Mereka mengajari tentang kasih tetapi mereka menganjurkan Sang Kaisar dan tentaranya untuk menghancurkan Masjid dan membunuhi orang Muslim. Iyasu yang galau dan muak mengungkapkan perasaannya kepada Michael. Meski sesungguhnya Michael juga merasakan hal yang sama, tetapi Michael cenderung pragmatis. Ia menasihati Iyasu supaya tetap bersikap baik kepada Kardinal Matheus supaya posisinya sebagai Kaisar bisa aman (hal. 2). Namun Iyasu berpendapat bahwa ia tak mungkin menjadi kaisar yang adil jika tidak bisa melindungi warganya yang tertindas.

    Setelah melakukan perjalanan ke lapangan, Iyasu memutuskan untuk secara terbuka menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Muslim. Peristiwa ini tentu menggemparkan dan membuat kalangan gereja yang dipimpin oleh Uskup Matheus gundah. Uskup Matheus menggunakan Tafari, ipar Iyasu untuk melakukan kudeta.

    Kesempatan kudeta terbuka ketika Iyasu memutuskan untuk bergabung dengan Turki (Islam) melawan Eropa. Ketika Iyasu dan tentaranya menuju ke selatan untuk membantu Turki, Tafari menduduki Adis Ababa, Ibukota Ethiopia. Zauditu, anak Mamelik II diangkat menjadi Ratu. Sedangkan Tafari menjadi pelaksana pemerintahan. Tafari memerintah dengan kekejaman yang luar biasa. Ia membakari masjid-masjid. Iyasu dan Michael dipenjara. Michael mati diracun. Ibu Iyasu hilang.

    Menyadari bahwa dirinya hanya sebagai Ratu boneka, Zauditu dan Gukosa suaminya melakukan pemberontakan. Tafari dengan bantuan Perancis berhasil memadamkan pemberontakan. Gukosa terbunuh dan Zauditu diracun. Selanjutnya Tafari menobatkan dirinya sebagai Kaisar Ethiopia dengan gelar Haile Selassie.

    Sepuluh tahu setelah dipenjara, Iyasu sempat berhasil meloloskan diri. Namun kemudian tertangkap lagi. Iyasu terbunuh saat Ethiopia diserang oleh Italia dibawah pimpinan Mussolini.Kekaisaran Ethiopia pun berakhir.

    Najib Kailani mengungkapkan dengan sangat menarik tentang orang-orang yang membabibuta meyakini agama hanya karena tunduk kepada pemimpin agama. Ibu Iyasu dan istri Iyasu adalah contoh dari orang-orang yang begitu beriman, tetapi tidak pernah belajar ajaran agama dari sumber kitab. Mereka hanya meyakini kebenaran yang disampaikan oleh pemimpin-pemimpin agama yang sudah berpikiran busuk. Iman yang membabibuta dan hanya menuruti ajaran sang pemimpin agama yang telah memelintir kebenaran agama menjadi kebencian kepada umat lain itu sungguh berbahaya. Sebab sebagai penganut agama mereka ini malah mengutamakan membela agama (yang telah dibelokkan kebenarannya) dengan cara mengkhianati ajaran agamanya. Ibu dan istri Iyasu (istri yang pertama, karena Iyasu kemudian menceraikannya dan menikah dengan seorang perempuan Islam), mengabaikan bahwa apa yang dilakukan oleh negaranya terhadap orang Islam adalah sesuatu yang bertentangan dengan hukum kasih yang menjadi inti ajaran Kristen.

    Contoh lain dalam novel ini adalah sosok Tafari. Tafari merasa sedang membela agama Kristen ketika membantai perkampungan Islam dan memenjarakan Iyasu yang sudah berpindah agama. Ia tidak menyadari bahwa membunuh adalah lawan utama dari iman Kristen yang diyakininya.

    Beriman kepada satu agama itu baik. Meyakini bahwa agama yang kita yakini itu penuh kebenaran sangat baik. Namun kita harus menyadari bahwa agama kita tidak luput dari manipulasi oleh orang-orang rakus. Orang-orang jahat itu dengan mudah memanfaatkan kebaikan agama untuk menjalankan niat jahatnya. Orang-orang jahat itu menjadi serigala berbulu domba yang berwajah alim dan rajin beribadah. Padahal sesungguhnya mereka sedang memanfaatkan kemalasan kita untuk mempelajari agama yang kita yakini, sehingga kita bisa dimanfaatkan oleh mereka.

    Jadi, beimanlah kepada agamamu. Yakinilah bahwa agama yang dikau anut penuh dengan kebenaran. Tetapi pelajarilah sendiri ajaran-ajaran asli agama yang penuh kasih dan menjadi rahmatan lil alamin. Dengan demikian kita tidak akan menjadi orang dungu yang dimanfaatkan oleh orang jahat yang berjubah pemimpin agama. 587

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.