Target Menulis - Analisa - www.indonesiana.id
x

orang sedang menulis

Saufi Ginting

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 2 Mei 2021 07:03 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Target Menulis


    Dibaca : 169 kali

    Apapun yang dilakukan prosesnya itu harus dilalui. Memenuhi tantangan itu proses dan juga keren, tapi mari kita coba buat target. Karena menulis tergantung niat. Sekedar memenuhi ‘tantangan’ atau untuk melakukan perubahan? Apa yang mau di rubah? Ya banyaklah. Mulai dari kebiasaan yang berubah, jadi lebih banyak menulis, lebih banyak membaca, dan lebih banyak lainnya. Jadi mau yang mana? Ke duanya lah. Ayook, mari berani.

    Aku sudah banyak membaca lo, tapi apa yang aku baca, kok ga bisa kusalinkan jadi ide. Tak dapat inti sari dari yang kubaca. Cemana itu?

    Bro, membaca itu ga kayak makan kue lapis. Kalo syor makan sekali lahap habis, atau sambil cakap-cakap lapisannya dipreteli kemudian di telan satu persatu. Ga sebegitunya bro. Membaca itu bagian dari proses. Nikmatnya kue lapis itu sebab hasil dari tangan yang sudah mumpuni melakukan proses. Dibuat hingga dinikmati. Butuh berulang-ulang dilakukan.

    Kamu mau marah, marah deh. Ga apa. Tapi aku geregetan bro. Meski bukan tugasku mengingatkan. Jangan sekedar memenuhi target tantangan. Memang benar tantangan udah selesai dikerjakan, tapi menulis itu adalah bagian dari penyelesaian masalah. Bukan menambah masalah.  Kamu stress, nulis bro! Ceritakan stress kamu dalam tulisan. Kalo khawatir jadi aib, simpan saja untuk kamu. Suatu hari kamu butuh itu untuk menjadi bahan refleksi. Kamu ok bro, tulis juga, bagikan kebaikannya.

    Kalo gara-gara kamu, menulis itu membuat yang lain lantas melakukan hal yang sama; sekedar memenuhi tantangan, ga pake target, darimana jalannya bisa berubah, bro?

    Lantas apa dong target nulisnya?

    Kuatkan diri, entah apapun yang ditulis, minimal 300 kata sekali unggah. Meski cuma 300 kata yang diunggah, siapkan 1.000 kata perhari agar semakin terbiasa. Paksakan bro. Paksakan. Kamu akan merasakannya nikmatnya nanti.

    -(sampai sini 291 kata)-

     

    Dari mana taunya 300 kata? Di layar kerja ms.word sebelah kiri bawah bisa kita lihat sudah berapa banyak kata yang sudah diketikkan, atau sebanyak 1 lembar a4 jarak 1 spasi.

    Aku baru saja menulis tantangan pertama. Masak harus 1.000 kata. Segitu aza udah cengap-cengip, cemana dong?

    Komitmennya, tulis saja. Entah apapun ceritanya. Ga penting centang prenang paragraf dan ketikkannya. Itu dulu. Tulis saja. Meski tulis saja, meski tak ada aturan berapa kata yang harus di setor, meski ini seru-seruan saja, ayolah bro, kasih targetlah. 1.000 kata perhari. Bagi saja menjadi 4, sekali duduk 250 kata, duduk ke 2, hasilkan lagi 250 kata. Bila perlu rekam, bro yang mau dikata-katakan itu. Bila khawatir antara ide dan kalimat-kalimat yang bekelindan di kepala, tak sesuai dengan ritme jari meghentakkan papan tutsnya. Setelah rekaman itu tersimpan, putar lagi bro, saat dapat waktu luang, ketikkan.

    Aku udah tantangan ke sepuluh, tapi udah ga dapat lagi idenya.

    Lah, buktinya kamu cerita tentang ga dapat ide aza udah jadi ide. Jadi apa masalahnya bro? Lupa waktu, banyak kerjaan, habis paket, ga pake laptop, ke delete sendiri, dan berbagai macam alasan lainnya bahkan ga dipanggil sama penyelia dalam presensi saja bisa kamu jadikan ide. Hebaat bro. Tapi kasih target bro, kasih target. Panjangin itu tulisan. Jangan ‘ah yang penting setoorr’!

    Ini 520 kata (1,5 hal a4, 1 spasi)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.