Kisah Perjuangan Pegiat Literasi dari Kota Kisaran - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Saufi Ginting

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 3 Mei 2021 06:27 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Kisah Perjuangan Pegiat Literasi dari Kota Kisaran


    Dibaca : 297 kali

    Gerakan masyarakat dalam geliat literasi berbagai macam, di antara gerakan itu melalui pendidikan nonformal. Berdasarkan UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 26 ayat (4), disebutkan bahwa satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Sejak tahun 2020, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) didaftarkan sebagai salah satu satuan pendidikan non formal. Secara resmi berada dalam naungan Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PPMK) Kemdikbud.

    Menurut buku Taman Bacaan Masyarakat: Pedoman Penyelenggaraan (2009:1) mendefinisikan TBM sebagai sebuah tempat/wadah yang didirikan dan dikelola baik masyarakat maupun pemerintah untuk memberikan akses layanan bahan bacaan bagi masyarakat sebagai sarana pembelajaran seumur hidup dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar TBM. Berdasar buku pedoman pelaksanaan bantuan pemerintah penyelenggara Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tahun 2020, definisi TBM semakin luas, yaitu layanan pengembangan keberaksaraan masyarakat yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan minat/kegemaran membaca guna mewujudkan masyarakat pembelajar sepanjang hayat (2020:2). Peran TBM yang semula terbatas pada penyedia layanan bahan bacaan kemudian berkembang menjadi pengembangan keberaksaraan masyarakat.

    Bila merujuk pada sejarah, berdirinya taman baca menurut Mulyana (2008) dalam Al Ayyubi (2018) sejak 1910-an, Balai Pustaka yang tugasnya sebagai badan penerbit sekaligus badan sensor bahan bacaan milik pemerintah kolonial, memfasilitasi berdirinya lebih dari 1000 perpustakaan rakyat (volksbibliotheek). Menilik laman donasibuku.kemdikbud.go.id yang dikelola oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus, TBM telah hadir sejak masa pra-kolonial yaitu dimulai dari persewaan buku oleh imigran Cina yang kemudian ketika memasuki masa kolonial, muncul gerai buku berjalan yang diinisiasi oleh Balai Pustaka pada 1940. Gerakan ini terus berjalan sampai 1945-1966 dengan melahirkan Taman Pustaka (TPR). Sebagai gerakan Pemberantasan Buta Huruf yang sedang digencarkan oleh pemerintah saat itu.

    Selain inisiasi pemerintah, ada juga yang dilakukan oleh masyarakat. Tahun 1970 ke1980-an muncul model perpustakaan komunitas yang sifatnya komersil seperti persewaan buku dan komik dan perpustakaan komunitas non komersil yang menjadikan anak-anak sebagai fokus perhatian dari layanannya. Kemudian 1992-2004, TPR berubah menjadi TBM dan kembali menjadi ujung tombak pemerintah melalui pembentukan TBM di desa-desa. Barulah awal tahun 2000-an menjadi masa di mana taman bacaan independen mulai bergeliat kembali.

    Tercatat, ada 4.415 TBM yang teregistrasi dalam data Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus (PPMK) Kemdikbud se-Indonesia. Sementara di Sumatra Utara ada 150 TBM, dan 10 TBM di Kabupaten Asahan. Salah satunya TBM Azka Gemilang beralamat di Jl. Paria Siumbut-umbut Kec. Kisaran Timur Kabupaten Asahan.

    Pendiri TBM Azka Gemilang adalah Saufi Ginting. Saufi Ginting atau di kampungnya lebih dikenal dengan nama bang Azka, adalah pegiat literasi juga pendongeng yang belajar secara otodidak. Di Asahan, semua orang mengenal beliau sebagai pegiat literasi dan pendongeng. Selain mendirikan TBM bersama istrinya Halimah, ia juga menginisiasi berdirinya Komunitas Penulis Muda Asahan (Kompimas). TBM Azka berdiri karena kegelisahannya ketika menyadari ternyata minimnya sarana buku yang ada dikampungnya di Kota Kisaran Timur Kabupaten Asahan Propinsi Sumatera untuk menjadi bahan bacaan dirinya dan istri. Melihat kenyataan itu, maka ia berinisiatif mendirikan taman baca agar anak-anak di kampungnya mampu mengakses buku bacaan dengan baik. 
     
    Nama AZKA menurut beliau adalah singkatan tiga orang anak beliau. A untuk Alul, Z untuk Zakiyah, dan KA untuk Kahfi. Gemilang adalah doanya. Singkatan ini muncul, malah sebelum mereka hadir menemani perjalanan usia kehidupan bang saufidan istri. Hingga yang ke empat pun begitu, terselipkan nama dari singkatan ke tiganya, Azka. Lengkapnya Fadhil Azka. Hingga kawan-kawan pegiat literasi lebih senang memanggil beliau bang Azka. Belakangan beliau baru paham kata Azka disebut sebanyak empat kali di dalam kitab suci Al-Qur’an yang saya yakini. Surat Al-Baqarah ayat 232, Al-Kahfi ayat 19, dan An-Nur ayat 28 dan 30. Semua sebutan Azka dalam surat-surat tersebut memiliki arti yang baik.
     
    Makanya ketika mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM) tahun 2012, langsung saja saya dan istri sepakat namanya TBM Azka. Justru pasca berdirinya TBM inilah saya berinisiatif mendirikan penerbit Azka Gemilang, lanjut beliau. Penerbit pertama dan satu-satunya di Asahan, Tanjung Balai, Batubara yang didirikan oleh Anak Asahan. Inisiatif muncul sesudah dideklarasikan Komunitas Penulis Muda Asahan (Kompimas) di bawah naungan TBM Azka. Setelah menghasilkan tulisan, mau diterbitkan di mana buku komunitas ini ya? Kalau ke Jawa, terlalu besar biayanya. Sebab Kompimas tak punya dana untuk itu.
     
    Pertanyaan ini justru memunculkan ide bagi beliau, kenapa tidak saya saja yang membuat penerbit sendiri? ujarnya dalam hati. Setelah dengan proses panjang, jadilah penerbit Azka Gemilang yang dapat menerbitkan buku secara nasional dan ber-ISBN dari Perpusnas RI.  
    Memang, setelah buku dapat di ISBN-kan, tentu muncul masalah lagi, tak ada percetakan di Kisaran yang mau mencetak buku sesuai yang kami butuhkan saja. 10 ekslempar misalnya. Kalaupun bisa, mahal kata mereka. Lantas, gimana dong? Sejak saat itulah beliau fokus pada usaha saya selanjutnya; percetakan. Spesialisasinya percetakan buku. Mengapa malah mencetak dan menerbitkan buku? menurut beliau, pintu utama geliat literasi adalah buku. Maka sudah sewajarnya kita hadir menciptakan buku murah, mudah terjangkau, dan berkualitas sekaligus memberdayakan para penulis lokal untuk dapat menciptakan literasi mereka sendiri. 
     
    Seiring semakin bertambahnya kompleksitasnya kehidupan, TBM Azka Gemilang tak hanya menyediakan layanan buku, tapi terlibat aktif dalam edukasi literasi. Diantaranya kegiatan Sarasehan Budaya dengan menghadirkan pegiat literasi budaya, pengelola TBM, guru, Dosen, dan Pegiat Sanggar. Selain itu ada juga diskusi literasi politik dengan mengundang para calon bupati dan wakil bupati Asahan pada pilkada lalu untuk hadir di TBM Azka Gemilang.

    Di masa pandemi, beliau juga menjadi mentor kepenulisan bagi para Guru Literat Kabupaten Asahan. Selain itu selama bulan Ramadan tahun 2021 beliau membuat kelas berbicara di depan umum khusus siswa kelas 4-6 SD di TBM Azka Gemilang. 

    Kegiatan-kegiatan yang diinisiasi beliau, mengakibatkan Balai Bahasa Propinsi Sumatera Utara harus mengganjar beliau menjadi peraih anugerah pegiat literasi Sumatera Utara pada Tahun 2018.  

     
     
     
     
     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.