Orang Tua Meneladani Tak Mudik dan Tak Penuhi Pusat Perbelanjaan di Tengah Corona - Analisa - www.indonesiana.id
x

Pemerintah larang mudik Lebaran 2021

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 5 Mei 2021 06:08 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Orang Tua Meneladani Tak Mudik dan Tak Penuhi Pusat Perbelanjaan di Tengah Corona

    Bila orang tua cerdas intelegensi dan emosi, maka akan mampu memimpin dirinya dan keluarganya, untuk tak mudik, tak datang ke pasar tradisional dan mal di saat pengunjung membludak. Tak harus berpikir lebaran sama dengan harus ada baju baru. Lebaran harus ada kue dan makanan khas. Bijak memimpin dan pandai menganalisis. Tak usah pula marah pada pemerintah yang kerjanya hanya melarang tapi tak menjadi contoh dan teladan yang baik. Semoga, kesadaran segera menghinggap pikiran dan hati seluruh rakyat Indonesia, khususnya para orang tua. Tak usah marah kepada para pemimpin di pemerintahan yang tak patut jadi teladan. Sehingga di sisa ibadah ramadhan ini dapat dijalani dengan khusuk, tetap sehat dan bugar. Tidak membuat masalah bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain, tidak turut menjadi penyebar virus corona. Aamiin.

    Dibaca : 177 kali

    Seperti yang sudah diduga dan diperkirakan, kini di beberapa daerah Indonesia klaster corona kembali bermunculan, di antaranya karena ada yang di bawa oleh pemudik ke kampung halaman dan menulari keluarga dan orang-orang di kampung halamannya. Ada juga lingkungan RW yang malah sudah melakukan lockdown, hanya membuka akses satu pintu masuk dan ke luar lingkungan RW, karena warganya juga positif Covid-19, ada yang meninggal, dan ada yang tertular, hingga sampai meminta masyarakatnya beribadah ramadhan di rumah masing-masing.

    Sebaliknya, di layar kaca, berita tentang masyarakat yang terus berupaya mudik terus tersiar. Ribuan kendaraan plus ribuan orang juga sudah tercatat sudah di kampung halaman dan ada yang sedang menuju kampung halaman.

    Sementara, di pusat-pusat perbelanjaan, pasar tradisional dan mal, suasana lebih tak terkendali, terjadi hampir di seluruh kota besar Indonesia, hingga sampai membikin para Gubernur, Bupati/Wali Kota turun ke lapangan membantu menertibkan masyarakat di pusat perbelanjaan.

    Itulah fenomena nyata tentang sikap dan perilaku masyarakat kita menjelang Idul Fitri, seolah tak hirau, dunia sedang dihinggapi pandemi corona.

    Ini juga salah satu identifikasi kegagalan pendidikan di Indonesia.

    Tradisi di Indonesia, kalahkan akal sehat

    Atas semua fakta, khususnya tentang memaksakan mudik dan memadati pusat perbelanjaan, sungguh membuat kita semua mengelus dada.

    Ini semua terjadi, khusus di Indonesia, karena lebaran memang identik dengan mudik, halal bi halal, sungkeman, baju baru, makanan khas, kue lebaran, bingkisan lebaran, THR, hingga takbiran dll.

    Sebab tradisi itu, meski dalam situasi pandemi corona, ternyata akal sehat masyarakat tetap kalah oleh tradisi-tradisi tersebut dan justru abai terhadap protokol kesehatan yang sudah digemborkan oleh pemerintah.

    Kalahnya akal sehat masyarakat, yang nyata dan kini masih terus berlangsung, yaitu upaya mudik yang dilakukan oleh masyarakat dengan berbagai cara. Terlebih larangan mudik baru resmi akan berlangsung mulai tanggal 6 Mei 2021.

    Setiap waktu, media pun tak henti mengupas dan melaporkan berita tentang para calon pemudik yang tak lolos dan diminta putar balik oleh petugas. Namun demikian, para pemudik yang lolos dengan berbagai cara pun tak sedikit, sebab dari hasil survei yang terpublikasi, minat masyarakat yang tetap mau memaksakan mudik masih terhitung jutaan orang.

    Belum lagi larangan mudik berlaku, ternyata ada pemudik yang langsung bikin klaster corona baru di kampungnya.

    Urusan mudik ini, memang telah menutup mata dan hati masyarakat, tak peduli dengan kondisi pandemi yang memang masih terus dekat dan menjangkiti siapa saja tak pilih-pilih.

    Sikap pemerintah, bisnis test antigen

    Nekadnya masyarakat memaksakan mudik, selain dorongan dari dirinya sendiri dengan berbagai alasan yang menurut mereka benar, juga dipicu oleh sikap pemerintah yang tak tegas, plin-plan, dan membikin masyarakat muak. Sebab, mereka membikin aturan larangan mudik masyarakat, tapi WNA atau WNI dari manca negara bisa slanang-slonong masuk Indonesia.

    Seolah mau menutupi kesalahan, dalihnya WNA dan WNI yang bebas masuk Indonesia sudah memenuhi syarat perjalanan, izin kerja atau izin tinggal, dan protokol kesehatan. Mulai dari WNA India, WNI, hingga TKA China dari Wuhan. Lebih miris, ternyata, belakangan baru ketahuan ada mafia yang bekerja meloloskan WNI maupun WNA lolos dari karantina.

    Selain itu, masyarakat juga kecewa, larangan mudik baru akan berlaku tanggal 6 Mei, tapi maayarakat yang mudik sudah diperketat aturannya, seperti wajib ada bukti test antigen yang kini hanya berlaku 1x24 jam. Aturan test Antigen yang masa berlakunya hanya 1x24 jam, sepertinya bukan dalam rangka pengetatan agar masyarakat tak mudik, tapi seperti ada pihak yang memanfaatkan bisnis test corona.

    Semua itu, semakin membikin masyarakat kecewa. Akibatnya, masyarakat pun jadi tak lagi menggubris pemerintah yang hanya bisa menekan rakyat kecil, melarang rakyat kecil, tetapi terus membiarkan orang kaya dan yang punya kepentingan bebas ke luar masuk Indonesia.

    Akibatnya, masyarakat pun terus berbondong mudik dan tak dapat dibendung. Memang banyak yang berhasil dicegah dan diminta putar balik. Tapi tetap saja yang lolos mudik lebih banyak.

    Membabi buta, setahun sekali


    Setali tiga uang, budaya dan tradisi lebaran harus ada baju baru, harus ada kue lebaran, harus ada makanan khas, dan lainnya. Maka, begitu masyarakat pegang uang apakah dari gaji, dari uang THR, atau dari-dari yang lainnya, membikin masyarakat tetap bak membabi buta, tak berpikir rasional bahwa dunia dan Indonesia kini sedang di landa pandemi corona.

    Ibaratnya, pola pikir masyarakat menjadi irasional dan seolah hilang akal, karena tradisi lebaran tetap harus terpenuhi, dan mengabaikan protokol kesehatan.

    Lebih miris, karena bicara tradisi, para orang tua, terutama Ibu-Ibu, memboyong anak-anaknya yang bahkan masih balita ikut tumpah ruah di dalam pasar tradisional dan mal.

    Herannya, dalam tangkapan semua kamera televisi yang meliput berita, masyarakat sama sekali tak terlihat khawatir dalam kondisi berdesakan bak ikan teri di dalam pasar maupun mal yang abaikan protokol kesehatan.

    Sikap hantam kromo, asal berbuat dan bisa jadi tak mengkalkulasi kondisi keuangan, asal menghabiskan dan lain sebagainya, benar-benar cerminan dari tindakan dan perbuatan yang tak cerdas intelegensi dan tak cerdas emosi, pun tak cerdas analisis. Lemah intelegensi, sosial, emosional, analisis, kreatif-imajinatif, iman (ISEAKI).

    Terlebih, keberadaan virus corona yang tak tampak dan sangat berbahaya, justru sama sekali diabaikan. Terpenting belanja kebutuhan lebaran. Lebaran harus baju baru, ada.kue lebaran dll. Harus terlihat tak biasa, harus terlihat lain di lingkungannya, karena yang dipikir, ini tradisi setahun sekali. Luar biasa, masyarakat kita.

    Tertular budaya hedon

    Meski banyak yang mengagungkan bahwa belanja kebutuhan lebaran hanya setahun sekali, dan benar memang ada masyarakat yang baru bisa pergi ke pasar atau mal saat jelang lebaran karena baru dapat uang THR atau uang lainnya, namun sejatinya, budaya masyarakat kita memadati pasar dan mal sudah dilakukan di setiap waktu.

    Gaya hidup hedon para orang kaya, sudah menular ke masyarakat kelas menengah dan bawah, hingga rakyat jelata, bahkan di masa sulit.

    Yang mengherankan, sebelum ramadhan, meski ekonomi terpuruk, pasar tradisional dan mal tetap saja dipenuhi masyarakat. Bahkan, pedagang kaki lima pun jadi sasaran masyarakat.

    Sehingga tak heran, bila di saat ramadhan yang masih pandemi corona, masyarakat kita jadi tak lagi rasional. Meski virus corona terus mengintai siapa saja.

    Inilah cermin kegagalan pendidikan di Indonesia. Padahal Indonesia sudah jelang 76 merdeka. Para orang tua malah terus meneladani dan mewarisi sikap buruk kepada anak-anaknya.

    Para orang tua ini pun di antaranya, dulunya pernah mengenyam bangku pendidikan sekolah hingga kuliah. Tetapi, dalam praktik kehidupan nyata tetap saja tak dapat menjadi contoh anak-anaknya.

    Andai saja, pendidikan Indonesia selama ini tak terpuruk, maka para orang tua yang dulunya siswa dan mahasiswa, akan mampu menjadi contoh baik dan benar dalam kehidupan bermasyarakat kepada para orang tua lain yang tak pernah mengenyam bangku pendidikan di sekolah atau kuliah. Lalu, dapat menjadi contoh kepada anak-anaknya.

    Bila orang tua cerdas intelegensi dan emosi, maka akan mampu memimpin dirinya dan keluarganya, untuk tak mudik, tak datang ke pasar tradisional dan mal di saat pengunjung membludak. Tak harus berpikir lebaran sama dengan harus ada baju baru. Lebaran harus ada kue dan makanan khas. Bijak memimpin dan pandai menganalisis.

    Tak usah pula marah pada pemerintah yang kerjanya hanya melarang tapi tak menjadi contoh dan teladan yang baik.

    Semoga, kesadaran segera menghinggap pikiran dan hati seluruh rakyat Indonesia, khususnya para orang tua. Tak usah marah kepada para pemimpin di pemerintahan yang tak patut jadi teladan. Sehingga di sisa ibadah ramadhan ini dapat dijalani dengan khusuk, tetap sehat dan bugar. Tidak membuat masalah bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain, tidak turut menjadi penyebar virus corona. Aamiin.




    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.