Cerpen | Petunjuk Orang Pintar - Analisis - www.indonesiana.id
x

Saufi Ginting

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 6 Mei 2021 17:07 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Cerpen | Petunjuk Orang Pintar


    Dibaca : 446 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Keinginan Bambang untuk mendapatkan Riri si pujaan hatinya dengan cara instan, selalu tak disetujui oleh Rei. Sebab, hal yang harus dilakukan Bambang menurut petunjuk orang pintar, harus bertapa di atas kuburan tua yang terletak di pengkolan jalan menuju Pajak Bhakti itu.

    “Itu kuburan Bambaaaang, bukan cafe." Rei dengan wajah memerah memberi penjelasan.

    “Aneh-aneh saja pun permintaanmu Bambang. Kalau kau memang jatuh cinta pada gadis pujaanmu, ya pertamvaanlah dirimu. Seperti pak Azka itu”.

    “Rei, kumohon Rei! Bantu aku! Terlalu lelah aku menunggu jawaban dari Riri itu Rei.” Bambang memutarkan badan mengarahkan pandangan ke burungnya pak Ton. Seperti adegan antara Roma dan Ani pada film lama.

    “Cukup Bambaaang. Aku tak sudi. Cuihh. Apalagi itu kuburan Belanda. Kenapa tidak pada semut merah yang berbaris di dinding menatapmu curiga yang kemudian kau siram dengan air panas itu saja yang kau buat jadi kuburan?” Rei semakin geram.

    Rei menghampiri Bambang, memutarkan tubuhnya dan mengoncang-goncangkan bahu Bambang.

    “Kau kejaaaam Bambang. Kejaaaaam! Semut saja kau siram dengan air panas. Bagaimana kelak kau bisa menjaga Riri, Bambaaaaaang?”

    Bambang tertunduk. Diam.

    Meski Rei tak setuju, Bambang tetap teguh pendirian. Ia telah bertekad untuk mengikuti apa yang dipesankan oleh orang pintar itu. Malam Jumat tepat pukul 24.00 Bambang telah berada di kuburan tua itu. Tak penting apa pun resikonya, baginya tujuan dari ritual ini adalah mendapatkan Riri.

    Bambang duduk di atas kuburan tua. Sesaat hendak memejamkan mata, tiba-tiba kuburan bergetar hebat.

    “Grrrrrrr braaaaaak”

    Kuburan terbelah dua. Untung saja Bambang sigap melompat hendak menyelamatkan diri. Malang bagi Bambang kedua kakinya terperosok ke dalam kuburan. Malam ini benar-benar malam yang mengerikan bagi Bambang. Bahkan suara pun tercekat, tak satu kata dapat melompat dari mulutnya.

    Dengan sekuat tenaga ia menarik kakinya.

    “Duhaaai..mengapa bisa begini, duhaaaaaaaiiiiii,” jeritnya dalam hati.

    Setelah berpeluh Bambang pun bisa melepaskan kaki dari dalam kuburan, walau ia harus merelakan sandalnya tertinggal dalam kuburan. Ia segera berlari tunggang langgang.

    Perkara ini rupanya tak diceritakan Bambang pada Rei. Tentu saja malu. Namun pagi ini, Bambang benar-benar penasaran apa yang terjadi terhadapnya tadi malam di kuburan.

    “Kenapa tak kutengok saja pagi ini ke kuburan itu,” batin Bambang. Ia bergegas.

    Tepat pukul delapan ia persis berada di kuburan yang penuh tragedi tadi malam. Betapa terkejutnya ia melihat sepasang sandalnya berada di atas kuburan.

    “Bah, itu kan sendalku? Kok bisa berada di atas kuburan? Kuburannya kenapa bisa tak ada bekas terbelah.” Bambang penasaran.

    Ia maju beberapa langkah, hendak mengambil sendalnya di atas kuburan. Betapa terkejut ia, sebab di bawah sandalnya itu ada tulisan yang menjengkelkan.

    “Maaf, kami orang Belanda, tidak terima sandal Jepang”.


    Saufi Giting adalah Pegiat Literasi Asahan



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.