Dukung Pelestarian Kebudayaan Indonesia, agar Tak menjadi Budaya Kasur Tua   - Analisa - www.indonesiana.id
x

Puji Handoko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2020

Minggu, 9 Mei 2021 06:46 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Dukung Pelestarian Kebudayaan Indonesia, agar Tak menjadi Budaya Kasur Tua  

    Pertamina telah memposisikan dirinya sebagai pendorong munculnya pengusaha-pengusaha ulet yang sebagian dari mereka tengah berupaya melestarikan kebudayaan Indonesia. Hal itu patut mendapatkan apresiasi dan dukungan dari banyak pihak, agar kebudayaan Indonesia tak sekadar jadi kebudayaan kasur tua. Kebudayaan yang lapuk dan tidak menarik karena miskin inovasi dan kurang peminatnya.   

    Dibaca : 681 kali

    Berbagai dorongan yang dilakukan Pertamina untuk menumbuhkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar naik kelas dilakukan dengan serius. Pertamina tidak hanya membuat program seremonial, tetapi merancang sebuah pembinaan yang terstruktur dan kontinyu. Pelaku UMKM itu tidak hanya belajar untuk bertahan hidup, tapi juga agar bisa naik kelas. Mereka menjadi sosok yang lebih profesional dan memiliki wawasan yang luas.

    Dorongan yang dilakukan Pertamina itu akan lebih kuat jika terkait usaha yang menyangkut kelestarian budaya Indonesia. Perusahaan pelat merah itu siap mendukung penuh agar pelaku usaha mikro tersebut dapat menembus pasar global. Sebab yang diperjuangkan di sana tidak hanya ekonomi pelaku usaha, tapi juga nasib kelestarian kebudayaan Indonesia di masa depan.

    "Pertamina senantiasa mendukung pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) terutama di point 8 dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, kesempatan kerja yang produktif dan menyeluruh serta pekerjaan yang layak," ujar Pjs Senior Vice President Corporate Communications & Investor Relations Pertamina Fajriyah Usman, Rabu 5 Mei 2021.

    Selain itu, implementasi program-program berbasis ESG (Environmental, Social, and Governance) di seluruh wilayah operasionalnya. Hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab lingkungan dan sosial, demi mewujudkan manfaat ekonomi di masyarakat.

    Oleh karena itu, Fajriyah mengapresiasi langkah bisnis yang dijalani Agus Tri Santosa, salah satu mitra binaan Pertamina, sekaligus pemilik usaha fashion batik Apikmen. Menurut Agus, usahanya patut dilestarikan. Hal itu disebabkan, batik bukan hanya milik Indonesia, bahkan telah kebanggaan masyarakat dunia.

    "Batik menjadi warisan budaya dunia dari Indonesia yang harus kita jaga bersama dengan cara mendukung para perajinnya agar tetap sejahtera," tuturnya.

    Dalam proses produksi Apikmen, Agus menggandeng lebih dari 15 perajin dari berbagai kota. Mengusung tagline etnik, seje (berbeda), dan gaya, Apikmen tak pernah absen dari gelaran Indonesia Fashion Week sejak 2012 sampai 2016. Konsistensi itu berbuah manis di kemudian hari.

    "Selain busana, Apikmen memiliki beragam produk seperti sajadah, topi, dan tas souvenir. Keunggulan Apikmen dinilai terletak pada desain tak biasa dan perpaduan warna," ujar Agus.

    Apikmen juga berkesempatan ikut dalam berbagai pameran busana etnik di luar negeri, seperti Turki, Afrika Selatan, Jepang, hingga Rusia. Menurut Agus, sebelum berangkat pameran, pihaknya melakukan riset terlebih dahulu untuk menyesuaikan produk dengan selera negara tujuan.

    "Dengan begitu, dia bisa menyesuaikan selera warna ataupun motif yang disukai di negara tersebut. Sehingga produknya akan banyak diminati, karena memadukan budaya khas Indonesia dan etnik lokal negara tujuan," tuturnya.

    Usahanya itu dibantu oleh delapan karyawan. Dalam hal pemasaran, Apikmen memiliki sebuah gerai di Stasiun MRT Fatmawati dan memanfaatkan media sosial @apikmenbyats, serta beberapa marketplace Apikmen untuk menggaet banyak pelanggan. Dengan kata lain, Agus telah memanfaatkan teknologi dan perkembangan media sosial untuk memasarkan produknya.

    Kini, produknya sudah dipasarkan hampir di seluruh wilayah Indonesia, ditambah negeri jiran Malaysia. Apikmen juga bisa meraup omzet sampai Rp40 juta per bulan. Padahal kondisinya sedang pandemi, perekonomian masih belum berjalan optimal. Namun dengan pengelolaan yang baik, batik Agus telah memiliki pasar tersendiri.

    Pertamina telah memposisikan dirinya sebagai pendorong munculnya pengusaha-pengusaha ulet yang sebagian dari mereka tengah berupaya melestarikan kebudayaan Indonesia. Hal itu patut mendapatkan apresiasi dan dukungan dari banyak pihak, agar kebudayaan Indonesia tak sekadar jadi kebudayaan kasur tua. Kebudayaan yang lapuk dan tidak menarik karena miskin inovasi dan kurang peminatnya. 

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.