Cendekiawan yang Terpesona Kekuasaan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Kekuasaan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 7 Mei 2021 20:46 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Cendekiawan yang Terpesona Kekuasaan

    Figur-figur akademisi dan cendekiawan yang dulu menjadi tulang punggung masyarakat dalam membangun argumentasi untuk menguatkan kepentingan masyarakat luas kini terlihat nyaman duduk di institusi negara dan bersikap tidak ubahnya sikap yang dulu mereka kritik. Mereka terpesona oleh kekuasaan.

    Dibaca : 1.233 kali

     

    Kekuasaan memang menawan banyak orang, tak terkecuali para cerdik cendekia—akademisi, peneliti, intelektual publik, jurnalis, di antaranya. Begitu besar pesona kekuasaan, sehingga banyak akademisi kampus perguruan tinggi yang lebih senang diangkat menjadi pejabat publik, sebagian lainnya merasa puas dengan menjadi staf ahli menteri, gubernur, atau anggota parlemen. Atau jabatan lain yang tak kalah mempesona: hakim agung, hakim konstitusi, untuk menyebut beberapa.

    Banyak cendekia yang tampak lebih senang bermukim di institusi negara—eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif; juga di institusi lainnya, seperti badan atau komisi. Kecerdasan dan kepakaran yang mereka miliki dianggap lebih berguna di lembaga-lembaga itu ketimbang di kampus. Ke berbagai institusi itulah, kercedasan kaum cerdik cendekia dibawa dan difungsikan untuk mendukung aktivitas praktis di pemerintahan, parlemen, ataupun kehakiman.

    Keteguhan akademik di lingkungan perguruan tinggi dan penelitian menghadapi tantangan serius dari pihak-pihak yang berusaha meruntuhkan integritas dan kredibilitasnya. Di kampus perguruan tinggi, di lembaga-lembaga riset, di mana dulu etika akademis berusaha ditegakkan dengan sangat keras, kini menjadi sasaran kritik karena dianggap cenderung melonggar. Beberapa contoh praktik plagiarisme di lingkungan kampus ditoleransi, barangkali ini terkait dengan pejabat tinggi di lingkungan kampus.

    Figur-figur akademisi dan cendekiawan yang dulu menjadi tulang punggung masyarakat dalam membangun argumentasi untuk menguatkan kepentingan masyarakat luas kini terlihat nyaman duduk di institusi negara dan entah mengapa bersikap berbeda, tidak ubahnya sikap yang dulu mereka kritik. Mereka terlihat bagai tersihir oleh kekuasaan dan memandang masyarakatnya bagai orang asing. Kecerdasan dalam bernalar semakin menjauh dari kepekaan hati akan kebenaran, bahkan kecerdasan terlihat makin digunakan untuk membenarkan kekuasaan dengan membangun argumentasi yang kelihatannya ia sendiri tidak begitu meyakininya.

    Para cerdik cendekia itu entah terpasung dalam institusi atau justru mulai merasa nyaman, baik-baik saja, dan bahkan menikmati peran barunya sebagai bagian dari kekuasaan. Mereka kemudian memakai cara pandang kekuasaan dalam melihat masyarakatnya—masyarakat yang dulu mereka bela, mereka perjuangkan. Mereka mungkin merasa baik-baik saja karena tidak lagi terbebani oleh apa yang dulu mereka kenal sebagai tanggung jawab cendekiawan atas nasib masyarakatnya. Mereka tidak mampu mewarnai kekuasaan dengan keteguhan akademisnya dan tanggungjawabnya sebagai intelektual terhadap masyarakat, mereka malah larut di dalam pesona kekuasaan.

    Benarkah mereka terpasung atau membiarkan diri terpasung kekuasaan, atau mereka benar-benar mulai merasa nyaman menjadi bagian dari penguasa? Inilah persoalan pokok yang menghinggapi kaum cerdik cendekia kita saat ini: kecerdasan yang mereka miliki tidak berjalan beriringan dengan kehendak masyarakat akan kebenaran dan keadilan. Sangat terkesan, batin para cendekia ini tidak bergetar bersama-sama dengan batin rakyat, melainkan malah beresonansi dengan kekuasaan. Memang masih ada cendekiawan yang bertahan, namun jumlahnya sedikit dan tidak begitu bersuara. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.