Menjelang Malam Terakhir Ramadhan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mira Arba

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 Mei 2021

Selasa, 11 Mei 2021 17:32 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menjelang Malam Terakhir Ramadhan

    perubahan terjadi seiring berjalannya waktu

    Dibaca : 286 kali

    “Nek, nanti malam 21 ya? Asiik boleh nabuh bedug ya berarti?”

    Kurang lebihnya segembira itulah respon ponakanku saat mengetahui bahwasannya nanti malam adalah malam ke 21 yang dalam daerahku disebut “likuran”. Dari empat ponakanku, memang Ezylah yang paling energik, karena baru mulai puasa secara rutin tahun ini. Rasanya aku pernah semenggebu itu saat menyongsong awal ramadhan, malam munggahan, malam 21, bahkan sampai malam lebaran.

    Selain baju lebaran yang menjadi puncak segala puncak impian banyak anak-anak, pun juga ada angpau yang selalu didapatkan dari keluarga, saudara, bahkan tetangga sebagai apresiasi atas pencapaian puasa selama ramadhan. Ada juga yang menjadi khas dari ramadhan, yaitu ngadulag, atau nabuh bedug, tadarusan yang menggunakan Toa Masjid, ngabuburit dan banyak hal yang amat sangat aku rindukan saat ramadhan tiba.

    Sedikit cerita, dulu kali pertama aku belajar shaum saat usiaku baru menginjak lima tahun. Saat itu puasa perdanaku hanya mampu sampai pukul 10.00 pagi, syukurnya aku mendapat banyak pujian dari orang-orang sekitarku termasuk Pak Ustadz samping rumahku yang saat itu bilang begini, “Wah mira hebat euy, sudah bisa puasa sampai jam 10”.

    Masa kecilku memang sangat menyenangkan, meskipun kadang aku membuat marah Amih dan Abehku. Pernah suatu waktu, saat menjelang lebaran tiba, aku menginginkan dibelikan baju lebaran. Cuman yang jadi penyebab marah Amih dan Abeh adalah karena permintaan bajuku yang tidak cocok jika digunakan oleh anak perempuan apalagi untuk lebaran. Kalian tahu baju Panji Milenium? Ya, sebuah film jaman kecil yang khas dengan fantasi heroik khas indonesia. Baju raglan pendek berwarna merah dominan dan hitam serta memiliki buntut di belakangnya, sedetail itu aku masih mengingatnya. Saat itu aku menangis tersedu, harus hari itu dibelikan dan aku pakai besoknya. Beli dua, satunya untuk besok dan satu lagi untuk lebaran, tangisku pecah sampai tak mau makan juga minum, aku jengkel pun membanting pintu rumah, dan Amih akhirnya marah.

    Setiap Ramadan, di langgar tempat rumahku selalu dibuatkan panggung untuk shalat. Langgar didepan rumahku sangat kecil, jika ramadhan tiba tidak bisa menampung jamaah yang banyak. Alternatifnya adalah menyewa panggung dan tenda untuk kemudian digunakan sebagai tempat shalat jemaah perempuan dan yang laki-laki mengisi barisan penuh di langgar. Biasanya aku berada dibarisan paling belakang dan membawa satu dua buah makanan ringan, saat sujud tiba aku mulai menggerayangi bawah sejadah kemudian mengambil lalu memakannya. Mungkin itu tradisi khas anak kampung seumuranku dulu.

    Tiap pagi menjelang, setelah salat subuh didirikan kami selalu mendegarkan terlebih dahulu ceramah dari kyai yang kemudian dituliskan di buku kegiatan ramadhan yang diberikan pihak sekolah untuk diisi dan mendapat tanda tangan sang kyai. Biasanya setelah selesai ceramah, kami terbiasa untuk jalan-jalan pagi ke sawah untuk menikmati pemandangan indah disana. Gunung selamet biasanya terlihat megah dan gagah dipagi hari dibalik hamparan sawah dan hutan daerahku. Lalu kami lanjutkan menuju langgar untuk mengaji, shalat dhuha sambil menunggu jadwal tayang upin dan ipin di televisi. Ah indahnya masa itu jika diingat-ingat lagi.

    Pernah suatu hari, Sandi temanku bertindak jahil kepada rombongan tadarus perempuan. Saat itu ada aku, eka, ria, hayyi, cantika dan ikvina. Saat kami sedang khidmat membaca al-quran, tiba-tiba ia muncul dari balik jendela langgar yang menggunakan mukena putih dan diikat atasnya. Dengan spotan kami terperenjat semua, suara pengeras suara masjid yang masih aktif menggemakan suara teriakan kaget kami, akhirnya selang beberapa waktu banyak sekali orang-orang datang untuk memastikan apa yang terjadi. Akibatnya kami semua mendapatkan himbauan yang beberapa berisi nasehat kemarahan.    

    Jika dibandingkan dengan anak-anak masa kini, ramadhan rasanya hanya menjadi momen ngabuburit saja. Tanpa tadarus yang intens dilakukan tiap malamnya, tarawih yang hanya diikuti semaunya, shalat berjamaah di masjid yang menjadi tidak wajib tiap harinya, kuliah subuh yang tidak diikuti dengan seksama lagi, bahkan lebih sering mencarinya di media elektronik daripada mendengarkan ceramah kiyai di langgar tiap subuh usai, ngadulag yang bukan menjadi tradisi tiap malam ganjil di pagi harinya. Handphone lebih menjadi suatu alat yang sangat penting daripada momentum indah di bulan ramadhan.

    Aku tahu, ini semua perihal berjalannya waktu. Dimana yang tradisional akan tergerus hal-hal modern saat tak bisa menyeimbangkan itu. Aku tak membenci ataupun menyukai itu, letaknya ada diantara kedua rasa itu, ya sebut saja netral. Ah mungkin karena ramadhan kali ini sedang masa pandemi juga makannya tidak seramai dahulu. Atau mungkin karena perubahan usiaku yang semakin membuat perasaan dalam diriku cemburu melihat anak-anak girang sedang aku memikirkan baju apa yang aku pakai saat lebaran nantipun tak sempat. Ya benar, aku cemburu. Di kala anak-anak mendapatkan angpau saat raya tiba, sedang aku harus memberi angpau namun belum bisa melakukan itu? Ah perasaan ini menyiksaku dan menyesakkan dadaku. Aku masih terbantu dengan gelar baru Sarjanaku, alasan mengapa belum bekerja dan memberi hadiah lebaran kepada ponakan-ponakanku.

    Terkadang, konstruks sosial membelengguku. Pembanding satu sama lain tentang jenjang karir, status sosial, penghasilan dan lain sebagainya masih menjadi topik utama masyarakatnya dalam melihat posisiku. Gadis berusia 23 tahun yang belum bekerja, belum menikah atau setidaknya bertunangan dengan kekasihnya, yang katanya baru lulus kuliah entah untuk apa dan banyak lagi hal-hal yang mrmbuatku merasa jengah berada di rumah. Namun terlepas dari itu, aku amat sangat menikmati momentum Ramadan ini. Harapku, Ramadan untuk jangan segera usai. Karena dengan Ramadhn aku merasa damai. 

    Sayangnya malam nanti adalah malam terakhir tarawih didirikan, yang artinya penutup dari malam Ramadan akan segera dimulai. Puncaknya adalah takbir yang menggema di seantero negeri ini dan seluruh alam raya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.