Komunitas Sebagai Wadah bagi Para Pejuang Kebudayaan - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Komunitas Seni Ruang Sentra

Denata Rajagukguk

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Mei 2021

Rabu, 12 Mei 2021 05:44 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Komunitas Sebagai Wadah bagi Para Pejuang Kebudayaan

    Pergerakan komunitas-komunitas dalam merespon kebijakan atau konsep yang ditawarkan pemerintah selalu berada dalam lajur cepat dan terdepan. Adapun bonus dari posisi komunitas yaitu selalu hadir ditengah-tengah masyarakat. Hal ini tentu menjadi salah satu faktor mengapa komunitas menempati kursi terdepan, sebab pemerintah cukup jauh jaraknya antara ruang kerja dengan lapangan para seniman sehingga mengindikasikan bahwasanya komunitas sebagai ujung tombak.

    Dibaca : 704 kali

    Dalam menyikapi sepinya kegiatan ruang-ruang seni pada masa pandemi Covid-19, sudah selayaknya pemerintah memperhatikan dan merawat para seniman di negeri ini. Merawat para seniman tidak semata-mata hanya sebatas materi, hasrat sebagai seniman dalam menuangkan karya-karya mereka juga patut difasilitasi.

    Para pegiat seni dan insan kreatif bermanuver bak manusia yang tak kehabisan akal, mereka memindahkan panggung ke dalam bentuk online atau digital. Semua kegiatan diarahkan dengan basis online, seperti pertunjukan, pameran, diskusi, talkshow, dan lain sebagainya. Namun, harus dipahami bahwa secara emosional akan ada yang hilang ketika manusia tak bertemu tatap muka secara fisik. Tentunya, secara psikologis tidak semua orang memiliki tingkat kepuasan yang sama apabila ruang-ruang mereka dipindahkan ke dalam bentuk online.

    Belakangan ini pemerintah menemukan konsep hybrid untuk sebuah pertunjukan, dimana konsep ini merupakan penggabungan antara online dan offline, yang dijalankan sesuai standart protokol kesehatan. Hal menarik dalam pembahasan kali ini adalah ketika setiap komunitas kreatif tetap berjuang memutar otak agar kreatifitasnya tidak mati tertumpuk dalam ruang sunyi. Pergerakan komunitas-komunitas dalam merespon kebijakan atau konsep yang ditawarkan pemerintah selalu berada dalam lajur cepat dan terdepan.

    Adapun bonus dari posisi komunitas yaitu selalu hadir ditengah-tengah masyarakat. Hal ini tentu menjadi salah satu faktor mengapa komunitas menempati kursi terdepan, sebab pemerintah cukup jauh jaraknya antara ruang kerja dengan lapangan para seniman sehingga mengindikasikan bahwasanya komunitas menjadi ujung tombak.

    Mari kita berbicara tentang kebudayaan, kemudian kita akan singgung korelasi antara pejuang kebudayaan, seniman, dan komunitas. Dalam hal ini, kebudayaan yang dimaksud ialah seni, dimana para pelaku budaya (seni) tidak semua memperoleh kesempatan untuk mencicipi sebuah panggung. Ada beberapa program pemerintah yang dianggap sebagai panggung dan dinilai cukup baik. Namun, apakah semua seniman (pelaku budaya) dapat merasakan program tersebut?

    Dapat dipastikan semua seniman tidak akan terorganisir sebagai penerima panggung. Lalu, apa yang dimaksud dengan pejuang kebudayaan? Jawabannya adalah mereka yang tanpa lelah membangun panggung sendiri untuk mengeluarkan karya ekspresif mereka. Ketika kita melihat ke sudut-sudut kota maupun desa, masih banyak para seniman yang mengharapkan panggung seutuhnya. Disinilah hadirnya peran para komunitas yang menjelma seperti orang tua dalam menyediakan panggung bagi anak-anaknya.

    Pada bulan April lalu, kita dikejutkan dengan sebuah program yang terlahir dari buah pikir komunitas seni, dimana program ini berhasil menciptakan ruang bagi para pejuang kebudayaan. Ruang Seni Nusantara atau yang biasa disebut dengan Ruang Sentra adalah sebuah komunitas seni yang melakukan pergerakannya di siketar wilayah Sumatera Utara. Pergerakan Ruang Sentra berhasil menciptakan sebuah program yang mereka sebut dengan Seniman Bermasyarakat. Respon yang baik dihadirkan publik ketika melihat bentuk kemasan program seniman bermasyarakat yang sarat dengan nilai edukasi.

    Seniman Bermasyarakat, Hasil Buah Pikir Ruang Seni Nusanatara 

    Ini adalah sebuah program edukasi terhadap generasi muda untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan. Seniman Bermasyarakat meyakini bahwasanya tradisi dapat dijadikan sebagai modal kekuatan dalam pengaruh arus global yang menggerus jati diri.

    Program ini terlaksana atas dasar inisiasi Ruang Seni Nusantara, komunitas yang kita kenal dengan sebutan Ruang Sentra. Ruang Sentra sendiri sudah berproses dalam dua tahun belakangan ini dan sah menjadi sebuah komunitas non-profit di awal tahun 2021. Pergerakan yang mereka inisiasi tentunya berfokus pada kajian dan pengembangan nilai budaya Nusantara. Ruang Sentra melebur dan lahir di kota Medan serta memiliki jaringan di berbagai daerah baik Sumatera maupun luar Sumatera.

    Misi dari Ruang Sentra yaitu mengembalikan nilai dan praktik kultur tradisi kepada masyarakat pemiliknya sebagai modal, kekuatan, dan masa depan. memberi ruang kepada masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif pada praktik kultur tradisi, melakukan wacana kultural lanjutan, serta membuka ruang secara akademik pada nilai dan praktik kultur tradisi dengan mengedepankan pemahaman kultural yang menyeluruh.

    Seniman Bermasyarakat merupakan awal mula sebuah program edukasi dari Ruang Sentra di bulan April tahun 2021. Program ini menghadirkan sebuah ruang pertemuan antara masyarakat dengan para seniman dari lintas seni. Kekuatan program Seniman Bermasyarakat terletak pada pengalaman bertukar pikiran dengan konsep tradisi lisan. Seperti yang kita ketahui, bahwasanya tradisi lisan telah lama berkembang dan berakar pada masyarakat adat. Namun, ruang sentra coba menghadirkan literasi sebagai penguat pengetahuan dalam masyarakat.

    Setelah melalui proses kurasi, dipilih tiga orang seniman dari latar belakang yang berbeda. Seniman yang terpilih yaitu (1) Andre Garingging - Musisi Tradisi, (2) Aprindo Nadeak - Etnomusikolog, (3) Hans Fernando - Produser Musik. Ketiga seniman tersebut diberangkatkan ke Desa Tipang sebagai titik awal program ini. Desa Tipang berada di wilayah administrasi Kabupaten Humbang Hasundutan Provinsi Sumatera Utara yang tidak jauh letaknya dengan Danau Toba.

    Setelah terpilih, ketiga seniman ini menjalani proses residensi untuk melakukan observasi dan berdiskusi dengan para tokoh masyarakat, pemerintah desa, serta seniman setempat. Diharapkan dengan adanya dialog atau diskusi antara seniman dan ketiga pihak yang sudah disebutkan di atas, maka terjadi sebuah proses transfer pengetahuan dan pengalaman.

    Setelah melewati masa observasi dan diskusi, ketiga seniman yang diberangkatkan ke Desa Tipang mengadakan sebuah workshop kepada generasi muda rentang umur 12-18 tahun. Mereka diajarkan kembali memainkan alat-alat musik tradisional asal daerahnya, yaitu Batak Toba. Tidak cukup sampai disitu saja, penjelasan mengenai organologi alat-alat musik tradisi juga dilakoni ketiga seniman tersebut agar para kaum muda tidak hanya bisa memainkan saja, tetapi juga mengenal alat musik apa yang sedang mereka mainkan tersebut.

     Proses lokakarya pada program Seniman Bermasyarakat

    Pengalaman Hans Fernando sebagai seorang produser musik tak terbendung kala itu. Anak-anak desa diajarkan dasar-dasar improvisasi dalam bermusik. Ada rasa penasaran tinggi yang terlihat dari respon anak-anak desa. Mereka bertanya banyak hal tentang musik dan cara pengemasannya (aransemen). Ketika sampai pada akhir workshop, mereka masih merasa belum puas dengan waktu yang ada.

    Dengan keterbatasan waktu, tentunya Ruang Sentra memahami kemampuan logistik maupun penginapan yang telah dipesan sehingga workshop yang dirancang setengah hari tidak mungkin dilanjutkan keesokan harinya. Tim Ruang Sentra dan seniman melakukan rangkaian kegiatan di Desa Tipang selama tiga hari. Workshop dilakukan pada hari ketiga. Hari keempat tim dan seniman residensi kembali ke kota masing-masing.

    Pengalaman yang diperoleh ketiga seniman dari hasil diskusi dan dialog kepada tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan seniman setempat dibawa pulang dan menjadi buah tangan bagi ketiga seniman tersebut. Tak lupa juga tim memiliki hasil observasi bahwasanya pemuda-pemudi setempat masih memiliki kesadaran dan kecintaan terhadap musik daerahnya. Hanya saja mereka menuntut lahirnya ruang-ruang sebagai wadah ekspresi berkesenian.

    Kembali kepada visi Ruang Sentra yang berbasis pada Konstruksi, Konservasi, dan Revitalisasi, diharapkan program ini tetap berjalan mengelilingi daerah-daerah yang tersebar di Nusantara.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.