Inilah Drama Inkonsistensi yang Konsisten di +62 Selama Ramadhan 1442 H. - Analisa - www.indonesiana.id
x

Drama +62

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 12 Mei 2021 05:46 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Inilah Drama Inkonsistensi yang Konsisten di +62 Selama Ramadhan 1442 H.

    Satu dari sekian harapan rakyat yang belum dipenuhi oleh pemerintah khususnya yang terjadi di saat bulan Ramadhan ini, akhirnya dipenuhi dan ditindaklanjuti oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Meski larangan mudik tegas berlaku untuk rakyat Indonesia 6-17  Mei 2021, ternyata setelah menuai masalah, penerbangan charter WN China, diputuskan ditutup sejak 10 Mei. Aneh tapi nyata. Ternyata selama ini memang tidak dilarang.

    Dibaca : 545 kali

    Satu dari sekian harapan rakyat yang belum dipenuhi oleh pemerintah khususnya yang terjadi di saat bulan Ramadhan ini, akhirnya dipenuhi dan ditindaklanjuti oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Meski larangan mudik tegas berlaku untuk rakyat Indonesia 6-17  Mei 2021, ternyata setelah menuai masalah, penerbangan charter WN China, diputuskan ditutup sejak 10 Mei. Aneh tapi nyata. Ternyata selama ini memang tidak dilarang.

    Inkonsistensi yang konsisten

    Sebelumnya, masyarakat sangat berharap agar Jokowi tampil di layar televisi melarang WNA masuk Indonesia, seperti Presiden juga berkali-kali tampil di TV melarang masyarakat Indonesia mudik.

    Belum lagi harapan itu terkabul, WN China pun terus lolos masuk Indonesia karena aksesnya memang dibuka oleh salah satu instrumen pemerintahan dan sangat kontradiksi dengan peraturan larangan mudik bagi masyarakat pribumi.

    Apa pun alasannya, sampai-sampai masyarakat menilai salah satu instrumen pemerintah yang meloloskan WN China dengan berbagai alasan, tak punya hati nurani. Instrumen pemerintah itu adalah Direktirat Jenderal Perhubungan Udara.

    Masyarakat pun sangat heran dengan aksi Direktorat ini, sebab apa pun alasannya meloloskan WN China masuk Indonesia, sejatinya sangat bertentangan dengan kebijakan larangan mudik.

    Ironisnya, meski masyarakat dan berbagai pihak mempermasalahkan sikap mereka yang asyik masyuk tetap meloloskan WN China, mereka terus saja mengulang dan meloloskan WN China lagi. Rasanya, mereka memang tak punya hati dan tak ada rasa simpati dan empati kepada masyarakat.

    Tidak melihat bagaimana para petugas negara harus berseteru di jalan raya dan lainnya dengan sesama rakyat, demi larangan mudik dipatuhi. Tak sedikit pula kita melihat dan menonton berita sesama rakyat, yang satunya rakyat biasa dan yang lainnya berseragam petugas negara, saling berdebat adu argumen hingga saling kejar demi meminta rakyat jelata memutar balik karena mudik dilarang.

    Aksi mereka sampai nempel di hati dan pikiran rakyat +62, selama Ramadhan ini, yaitu bak aksi kejar maling. Mau mudik harus berdebat atau diinterogasi atau dikejar bak maling. Weleh, di sisi lain ada yang dengan enaknya meloloskan WN China masuk Indonesia. Bila tak ada tujuan atau ada udang di balik batu, tidak ada cuan di dalamnya, mustahil itu terjadi.

    Di tengah masyarakat dan berbagai pihak sangat kesal dan marah kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara di Bandara Soekarno-Hatta, masyarakat pun sangat kecewa dengan berbagai aksi pemerintah seperti upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang nampak semakin masif, yang tujuannya pun terbaca masyarakat, satu di antaranya demi menyelamatkan para elite partai politik baik yang duduk di parlemen maupun pemerintahan daerah hingga pusat dari ancaman Operasi Tangkap Tangan (OTT) korupsi.

    Bila KPK sudah mereka lemahkan dan kuasai, maka korupsi pun akan menjadi tradisi lagi. Tapi tanpa ada angin dan hujan, Tiba-tiba Jokowi tampil di layar kaca, promosi masakan kuliner nusantara dan menyebut kuliner Bipang (babi panggang) di tengah suasana Ramadahan dan jelang Idul Fitri.

    Apa yang dilakukan Presiden dengan promosi kuliner yang maksudnya baik, tapi dilakukan di waktu dan tempat yang salah, tak pelak langsung melukai hati masyarakat.

    Apa yang dilakukan Presiden, sektika menjadi polemik, kisruh, rakyat pun berseteru. Ada yang coba membuat klarifikasi tapi malah salah, dan ada yang malah terus memperkeruh suasana dan membuat provokasi di media sosial.

    Ironisnya, Bapak Presiden yang melempar masalah dan membuat kisruh, malah adem ayem saja tak muncul dan tak ada membuat klarifikasi. Apa memang rumusnya harus begitu. Apa-apa yang dilakukan Presiden, lalu bikin gejolak di tengah rakyat, Presiden harus diam saja?

    Masyarakat pun sangat berharap Jokowi muncul dan tampil di layar TV membuat klarifikasi. Tapi, hingga detik ini, Beliau tak muncul juga.

    Inilah pertunjukkan drama sikap dan kebijakan di NKRI yang inskonsistensi, tapi konsisten.

    Larangan tak adil

    Di tengah masyarakat berharap Presiden muncul melarang WNA masuk Indonesia dan membuat klarifikasi soal Bipang, ternyata, Senin (10/5/2021), bukan tampil melarang WNA masuk Indonesia di depan layar TV, ternyata Presiden Jokowi,  dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, memutuskan melarang penerbangan charter selama masa larangan mudik 6-17 Mei 2021.

    Lho, mengapa hal itu tidak diputuskan sebelumya bersamaan dengan larangan mudik untuk pribumi? Di mana letak larangan yang berkeadialan bagi rakyat?

    Setelah ribut-ribut, ternyata selama ini memang tidak ada larangan untuk WNA masuk Indonesia dengan penerbangan charter sekalipun. Luar biasa aneh.

    Bisa tegas dan memperlakukan masyarakat sampai seperti maling di negeri sendiri, larangan mudik barlangsung 6-17 Mei, ternyata keputusan melarang penerbangan chareter WN China baru dilakukan 10 Mei. Empat hari setelah larangan mudik berlangsung. Di mana bijaknya mereka kepada rakyat sendiri?

    Keputusan 10 Mei pun, gara-gara masyarakat dan berbagai pihak harus protes keras dulu.

    Contoh rakyat marah

    Di sisi lain, pada waktu yang hampir bersamaan dengan keputusan pemerintah melarang penerbangan charter, di jalan raya antara Karawang-Bekasi, petugas ternyata kalah sama ribuan pemudik kendaraan roda dua. Penyekatan pun jebol, karena petugas mustahil menghalau pemudik yang jumlahnya tak sebanding. Ini bisa dijadikan contoh, bagaimana bila rakyat marah. Kira-kira apakah akan mampu dicegah?

    Herannya, dari peristiwa ini, para petugas pun langsung kena ancaman karena meloloskan para pemudik. Siapa yang mengancam akan memberi sanksi para petugas? Masyarakat pun bisa membaca di media massa.

    Coba, si pengancam itu, saat itu ada juga di tempat penyekatan yang bobol. Apakah si pengancam ini, kira-kira mampu menahan gempuran ribuan pemudik?

    Mengapa petugas bandara tidak pernah diancam? Padahal terus meloloskan WN China? Sepertinya, dari sisi cuan.ini memang hal berbeda. Petugas di lapangan selalu bisa jadi kambing hitam, tapi di bandara santai-santai saja.

    Malah, bukannya kena sanksi, Presiden pun baru mengetok palu Senin, 10 Mei 2021, melarang penerbangan charter.

    Wuiiiiih Indonesia. Dari kejadian ini, tentu masyarakat bisa menilai apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi, juga ada hal yang harus diperhatikan dengan saksama oleh pemerintah. Lihat contoh penyekatan mudik yang jebol, karena petugas tak sebanding dengan jumlah pemudik.

    Bagiamana bila pada akhirnya rakyat yang jumlahnya juga tak sebanding dengan petugas negara, marah dan bersikap seperti pemudik? Kira-kira bila rakyat marah semua kepada pemerintah, bagaimana Indonesia?

    Faktanya lagi, kini hati dan pikiran rakyat di tengah pandemi corona, terus merasakan ketidakadilan dan ketidakejahteraan, malah seolah terus dipermainkan oleh pemerintah. Hati-hati, jangan sampai semua rakyat benar-benar marah, seperti jebolnya penyekatan mudik itu.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.