Di Idul Fitri, Dengarlah Suara Hati! - Analisa - www.indonesiana.id
x

Suara hati

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 12 Mei 2021 20:42 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Di Idul Fitri, Dengarlah Suara Hati!

    Seharusnya, penghujung Ramadhan dan memasuki idul Fitri 1442 Hijriah ini, menjadi momentum mereka untuk kembali fitri, sadar, dan kembali mendengar suara hati. Lihat, dengar, dan camkan bagaimana suara hati rakyat selama ini!  Mungkinkah di hari yang fitri, mereka akan kembali ke suara hati? Kembali ke pangkuan pertiwi dengan membikin rakyat Indonesia merasakan ketentraman lahir batin, merasakan keadilan dan kesejahteraan di tanah airnya sendiri? Bilakah suara hati mereka sembuh dari buta hati dan tuli, hingga mengantar menjadi manusia rendah hati dan tahu diri?

    Dibaca : 444 kali

    Biarpun bersikap buta dan tuli, suara hati tak pernah dapat sembunyi dalam diri. (Supartono JW.12052021)

    Penghujung Ramadhan dan masuknya Idul Fitri 1442 Hijriah seharusnya menjadi momentum semua pihak di Indonesia untuk mendengarkan suara hati, bukan ambisi.

    Suara hati adalah pengetahuan di dalam batin untuk membedakan tindakan yang benar dan salah secara moral. Suara hati juga kemampuan moral yang mengarahkan manusia untuk menyetujui yang benar dan menyalahkan yang salah. salah, suara hati yang jahat, dan suara hati yang murni.

    Sementara ambisi adaah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu.

    Ambisi menguasai bukan suara hati

    Dari beberapa episode pemerintahan di Republik ini, kisah jeritan suara rakyat dari ketidakadilan dan ketidaksejahteraan terus melingkar-lingkar. Ibaratnya, rakyat terus terjajah di negeri sendiri meski Indonesia telah merdeka dari penjajahan kolonialisme jelang 76 tahun. 

    Suara hati rakyat bak ditelan bumi, sebab manusia-manusia yang seharusnya amanah memimpin Indonesia hanya sibuk dengan ambisi dan ambisinya untuk menguasai. Sehingga suara hati terus kalah dan dikuasai oleh ambisi.

    Amanat Pembukaan UUD 1945, pun seperti menjadi amanat yang hanya sekadar slogan, sebab terus konsisten tak terealisasi. Keadilan dan kesejahteraan rakyat terus sebatas utopia.

    Karenanya, setelah Indonesia lepas dari penjajah kolonialisme, kini Indonesia pun terus dijajah oleh para manusia-manusia yang hati dan pikirannya hanya dipenuhi ambisi untuk menguasai. Menguasai kepemimpinan, menguasai kekayaan alam Republik ini, untuk kepentingan pribadi dan golongannya, bukan untuk rakyat.

    Para elite partai sibuk dengan dirinya sendiri, terutama sibuk berpikir bagaimana mengembalikan modal selama proses untuk dapat kursi baik di parlemen maupun pemerintahan. Mereka pun bersama partainya sibuk dengan tanggungjawab memenuhi kontrak dengan cukong yang telah menggelontorkan dana menuntut timbal balik.

    Sementara para cukong, orang-orang kaya dan para pengusaha yang miskin hati, juga terus sibuk dengan ambisinya mengeruk kekayaan alam dan segala isinya di negeri ini dengan berbagai intrik dan taktik.

    Maka, pantaslah negeri yang gemah ripah loh jinawi, yaitu tentram dan makmur serta sangat subur tanahnya yang sewajibnya makmur agawe santoso, yaitu kemakmuran akan membuahkan ketentraman lahir batin dan membuat sejahtera rakyat, terus menjadi mimpi.

    Sebab gemah ripah loh jinawinya, siapa yang menguasai dan menikmati? Lalu, siapa pula yang selama ini makmur, tentram dan merasakan kesejahteraan? Bukan rakyat, tapi mereka-mereka yang terus berambisi menguasai plus membodohi. Meski yakin bahwa bila ditanya bagaimana relung hati terdalamnya apakah mereka merasakan ketentraman lahir batin? Menguasai Indonesia dengan berbagai intrik, taktik, dan politiknya?

    Nafsu angkara murka dan nafsu duniawi, telah menutup mata hati mereka hingga yang ada dalam pikirannya bagaimana menguasai dan menguasai.

    Namun, sejatinya, sebagai sesama manusia, mereka juga tentu punya suara hati. Sayang, suara hati mereka terus tertutup, dibutakan dan ditulikab oleh ambisi menguasai.

    Mirisnya, karena suara hatinya telah dibutakan oleh diri sendiri, maka segala tindakan dan sikapnya jadi nampak tak cerdas, mudah dibaca karena proses dan pelaksanaan dalam menguasai dan menguasainya dilakukan dengan penalaran deduktif dan parsial. Jadi tak matang dan serampangan. Hingga segala bentuk program, produk kebijakan dan lain sebagainya tak pernah lepas dari protes rakyat karena terbaca tak amanah.

    Budaya kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) pun masih dengan pola plus tradisi lama, tak kreatif dan inovatif. Sangat mudah ditebak. Oleh karena itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah musuh terbesar mereka dan dengan berbagai upaya dan dalih, mereka terus membuat KPK lemah dan mereka kuasai, agar tak terus menjadi ancaman tujuan ambisi mereka untuk menguasai.

    Seharusnya, penghujung Ramadhan dan memasuki idul Fitri 1442 Hijriah ini, menjadi momentum mereka untuk kembali fitri, sadar, dan kembali mendengar suara hati. Lihat, dengar, dan camkan bagaimana suara hati rakyat selama ini! 

    Mungkinkah di hari yang fitri, mereka akan kembali ke suara hati? Kembali ke pangkuan pertiwi dengan membikin rakyat Indonesia merasakan ketentraman lahir batin, merasakan keadilan dan kesejahteraan di tanah airnya sendiri?

    Bilakah suara hati mereka sembuh dari buta hati dan tuli, hingga mengantar menjadi manusia rendah hati dan tahu diri?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.