Visi Masa Depan PLN Layani Pelanggan dengan Listrik dari EBT - Analisa - www.indonesiana.id
x

Puji Handoko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2020

Jumat, 14 Mei 2021 05:45 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Visi Masa Depan PLN Layani Pelanggan dengan Listrik dari EBT

    PLN terus mengoptimalkan pembangkit EBT dalam melayani masyarakat. Sisa dari jumlah itu baru dipenuhi dari pembangkit jenis lain. Misalnya PLN regional Sumatera dan Kalimantan, telah menyiapkan pembangkit EBT untuk mendukung suplai listrik kepada pelanggan selama libur lebaran 2021.

    Dibaca : 513 kali

    Dalam peta masa depan keenergian, Indonesia telah membuat ancang-ancang untuk bergerak cepat. Di tahun 2025 misalnya, bauran energi baru dan terbarukan (EBT) akan ditingkatkan mencapai 23%. Jumlah itu mencapai dua kali lipat dari porsi tahun 2020 yang mencapai 11,31%. Memang sebuah cita-cita yang ambisius, namun dengan keseriusan yang telah dilakukan pemerintah, rancangan bauran EBT di masa depan telah berjalan di tracknya.

     

    Sejalan dengan cita-cita itu, PLN terus mengoptimalkan pembangkit EBT dalam melayani masyarakat. Sisa dari jumlah itu baru dipenuhi dari pembangkit jenis lain. Misalnya PLN regional Sumatera dan Kalimantan, telah menyiapkan pembangkit EBT untuk mendukung suplai listrik kepada pelanggan selama libur lebaran 2021.

     

    "Kami memang menyiapkan pembangkit-pembangkit energi terbarukan untuk mendukung pasokan listrik sejak Ramadan dan Idul Fitri," kata Direktur Bisnis PLN Regional Sumatera dan Kalimantan Wiluyo Kusdwiharto, Selasa, 11 Mei 2021.

     

    Pemanfaatan energi terbarukan itu karena dua alasan, yaitu musim hujan yang membuat pasokan air melimpah untuk pembangkit listrik tenaga air dan harga energi terbarukan yang relatif murah, sehingga potensi itu dipakai untuk mendukung siaga Ramadan dan Idul Fitri 2021. PLN mencatat, bauran energi terbarukan di Sumatera dan Kalimantan telah mencapai 30 persen atau sekitar dua gigawatt.

     

    Mayoritas energi bersih itu terletak di Kalimantan berupa pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga panas bumi, dan beberapa pembangkit biomassa. Sementara itu untuk wilayah tengah Indonesia di Jawa, Madura, dan Bali, PLN telah merealisasikan bauran energi terbarukan sebesar 11 persen dalam upaya menjamin keandalan listrik saat lebaran.

     

    Adapun untuk wilayah timur di Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara, PLN mencatat jumlah bauran energi terbarukan mencapai 20,52 persen. Pembangkit energi bersih yang cukup besar tersebut berada di Sulawesi dengan kapasitas 70 megawatt berupa pembangkit listrik tenaga angin di Sidrap dan Tolo.

     

    Sebelumnya, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini telah mengatakan, PLN hanya akan berfokus mengembangkan pembangkit listrik berbasis EBT setelah proyek 35 ribu megawatt selesai. Entitasnya mengejar target nol emisi pada 2050.

     

    “Memamg kami pahami di tempat-tempat terpencil, kami harus tetap mix, karena tidak mudah untuk menerapkan (sepenuhnya) EBT di tempat itu. Tapi kami akan sediakan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) dengan baterai,” ujar Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini, Jumat, 7 Mei 2021.

     

    PLN mendukung rencana pemerintah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap. Menurut Zaini, pengembangan EBT sebagai sumber energi akan mengurangi ketergantungan negara terhadap impor bahan bakar minyak atau BBM yang terus bertambah setiap tahun. Sementara itu kebutuhan energi listrik Indonesia pada 2060 akan mencapai 1.800 TWh.

     

    Jika dihitung dengan pasokan listrik saat ini yang sebesar 300 TWh, berarti Indonesia masih membutuhkan daya 1.500 TWh pada 39 tahun mendatang. Kebutuhan itu diyakini bisa tercukupi dengan bauran EBT. Apalagi, kata dia, potensi EBT di Indonesia sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.

     

    Untuk mengejar target pemenuhan bauran EBT, PLN memiliki rencana melakukan co-firing pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU batu bara. Co-firing merupakan upaya untuk meningkatkan pembakaran bahan bakar dengan kandungan energi yang rendah. Dengan cara subtitusi itu, maka penggunaan batu bara akan berkurang. Dan itu tentu menjadi kabar baik, apalagi jika porsi subtitusinya bisa terus ditambahkan di masa mendatang.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.