Ada Korban Tenggelam, Ada Kerumunan, Pemerintah Mau Bilang Apa? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Wusata bikin kerumunan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 16 Mei 2021 18:44 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Ada Korban Tenggelam, Ada Kerumunan, Pemerintah Mau Bilang Apa?

    Andai Mas Sandiaga Uno tak bikin kebijakan wisata lokal tetap dibuka, mustahil 15 nyawa melayang dengan cara tenggelam. Mustahil para petugas kesulitan mengendalikan pengunjung lokasi wisata di berbagai daerah. Mustahil para petugas harus sibuk memeriksa KTP pengunjung dari berbagai daerah. Mustahil lokasi wisata akirnya seperti menjilat ludah sendiri, kembali menutup obyek wisata yang kurang sosialisasi sebab ketakutan sendiri melanggar protokol kesehatan.

    Dibaca : 542 kali

    Setelah mudik dilarang, ziarah kubur dilarang, tetapi pemerintah inkonsisten, melenggangkan WNA masuk dan membuka wisata lokal, akibatnya rakyat melawan dengan tetap mudik. Kini, Republik Indonesia sedang disuguhi kisah wisata di berbagai daerah. Sandiaga Uno yang tetap ngeyel membuka wisata lokal demi ekonomi rakyat di saat perayaan Idul Fitri 1442, kira-kira sekarang sedang teersenyum atau sedih?

    Hampir di seluruh Indonesia, seluruh obyek wisata lokal, dibanjiri kerumunan pengunjung. Hal ini sejatinya sudah diingatkan, dikritisi, dan diprotes oleh berbagai pihak di negeri ini, tatkala mudik di larang, ziarah kubur dilarang demi mencegah penularan corona, tetapi dengan berbagai alasan, kebijakannya tetep ngeyel, wisata lokal dibuka dan diatur oleh masing-masing daerah.

    Sudah tahu tingkat kecerdasan intelegensi dan emosi sebagian besar  masyarakat masih lemah akibat kegagalan pendidikan selama ini, obyek wisata lokal malah dibuka.

    Lihatlah drama konyol di Republik ini tentang obyek wisata lokal yang dibuka oleh siapa? Semua obyek wisata lokal kebanjiran pengunjung dan melebihi kapasitas yang ditentukan sesuai protokol kesehatan. Buntutnya, ada yang menolak pengunjung, membikin kecewa pengunjung yang tetap masuk obyek wisata. Terbukti kelemahan intelegensi dan emosi masyarakat kita.

    Dalam situasi prihatin di tengah pandemi, tetap aji mumpung, sok-sokan rekreasi. Bukannya melindungi diri dan keluarganya dari virus corona, ini malah menghamburkan uang demi kesenangan sesaat. Mengapa uangnya tidak disimpan dan digunakan untuk kebutuhan primer saja, sebab pandemi juga tidak tahu akan sampai kapan hilang.

    Mas Sandi, apakah ini yang memang Anda harapkan. Sudah diingatkan, dikasih masukan, tetap saja ngeyel membuka obyek wisata lokal. Lihat masyarakat kita. Apa bisa diatur? Apa bisa mengukur diri?

    Lihat, sangat lucu kan, karena jelas akan kelebihan pengunjung, pasti bikin repot setiap daerah kan? Begitu sekarang terbukti pengunjung membludak di setiap obyek wisata lokal di seantero negeri, obyek wisata pun ditutup lagi. Alasannya hasil dari evaluasi dan demi protokol kesehatan. Lucu. Lucu. Menggelikan.

    Banyak calon pengunjung yang marah karena tidak ada sosialisasi. Padahal sudah membeli tiket secara online.

    Mirisnya lagi, petugas di berbagai daerah pun harus disibukkan memutar balikkan calon pengunjung yang berKTP luar daerah dan menambah masalah yang berbenturan dengan larangan mudik. Luar biasa amburadul.

    Korban Kedung Ombo, siapa tanggungjawab?

    Inilah akibat pola berpikir deduktif dan parsial instrumen di pemerintahan kita, membikin kebijakan tanpa pemikiran komprehensif dan tanpa analisis akibatnya wisata lokal dibuka terus menambah masalah dan polemik di tengah pandemi.

    Sangat menggelikan bila pada akhirnya beberapa obyek wisata kesulitan menertibkan pengunjung. Dan, akhirnya menutup kembali obyek wisata tersebut.

    Lihat juga, apa yang terjadi di Kedung Ombo? Dipastikan ada 15 pengunjung wisata meregang nyawa. Apa Mas Menteri bertanggungjawab dan mau mengganti 15 nyawa rakyat itu?

    Lihat, Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Ahmad Luthfi sampai memerintahkan lokasi obyek wisata Waduk Kedung Ombo (WKO) ditutup. Akibat tragedi memilukan kapal terbalik dan tenggelam di perairan Kemusu, Boyolali, Sabtu (15/5/2021) siang yang membikin 15 nyawa melayang.

    Andai Mas Sandiaga Uno tak bikin kebijakan wisata lokal tetap dibuka, mustahil 15 nyawa melayang dengan cara tenggelam. Mustahil para petugas kesulitan mengendalikan pengunjung lokasi wisata di berbagai daerah. Mustahil para petugas harus sibuk memeriksa KTP pengunjung dari berbagai daerah. Mustahil lokasi wisata akirnya seperti menjilat ludah sendiri, kembali menutup obyek wisata yang kurang sosialisasi sebab ketakutan sendiri melanggar protokol kesehatan.

    Pengunjung wisata hanya beli tiket, tak pakai test corona

    Lebih disesalkan lagi, saat larangan mudik dilarang dan sebelum larangan mudik berlaku, setiap masyarakat yang melakukan perjalanan antar daerah wajib menunjukkan test swab, apakah pengunjung wisata lokal wajib menubjukkan test corona sebelum masuk lokasi wisata?

    Nampaknya, hampir di semua lokasi wisata yang dibuka di berbagai daerah, syarat masuk lokasi wisata hanya membeli tiket, tak ada menunjukkan surat bukti hasil test corona yang negatif.  Padahal, semua media massa sudah memotret, hampir di semua obyek wisata berhasil membikin kerumunan pengunjung.

    Inilah Indonesia, pemerintahnya saja boleh dibilang tak cerdas. Terus inkonsistensi karena hanya berpikir kepentingan sendiri.

    Apakah setelah 15 nyawa meregang di WKO, akan disusul klaster corona baru dari klaster obyek wisata?  



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.