Tema Harkitnas ke-62 Jangan Hanya Slogan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Harkitnas

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 19 Mei 2021 18:52 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Tema Harkitnas ke-62 Jangan Hanya Slogan

    Maaf, mengapa Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) mengeluarkan pedoman penyelenggaraan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang ke-113 di tahun 2021 ini? Bukannya baru yang ke-62?

    Dibaca : 737 kali

    Maaf, mengapa Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) mengeluarkan pedoman penyelenggaraan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang ke-113 di tahun 2021 ini?

    Sejarahnya yang benar!

    Dari mana kisah Harkitnas 20 Mei 2021 adalah peringatan ke-113? Memang dihitung sejak tanggal lahirnya organisasi Boedi Oetomo,  20 Mei 1908 oleh Dr Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen).

    Maaf, Kominfo jangan salah bikin catatan sejarah Harkitnas, dong? Bahaya ini. Malah, Kominfo juga sudah mengedarkan tentang pedoman penyelenggaraan Harkitnas yang ke-113 di 2021.

    Sejarah memang telah mencatat Boedi Oetomo berdiri di tahun 1908 dan menjadikan kelahiran tersebut, tonggak kebangkitan untuk Indonesia. Namun, kapan resminya Harkitnas diakui oleh pemerintah dan kemudian dirayakan setiap tanggal 20 Mei?

    Harkitnas baru ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 sebagai peristiwa Kebangkitan Nasional Indonesia. Dengan demikian, maka peringatan secara resmi itu, dihitung sejak tahun diresmikan, yaitu 1959. Artinya, tahun 2021 ini, maka Harkitnas diperingati yang ke-62, bukan yang ke-113!

    Tema Harkitnas, slogan?

    Membaca pedoman penyelenggaraan Harkitnas yang ke-113 di 2021 yang dibuat Kominfo, jujur saya langsung kaget. Negara Indonesia saja baru akan merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-76 di Agustus 2021, sebab RI baru merdeka 17 Agustus 1945. Ini kok, Harkitnas sudah yang ke-113, diresmikan saja baru tahun 1959. Lucu?

    Berikutnya, saat masuk kepada tema. Ternyata tema juga dikaitkan dengan kondisi Covid-19, yakni: Bangkit! Kita Bangsa yang Tangguh!

    Menurut Kominfo, tema ini dipilih sebagai pengingat bahwa Kebangkitan Nasional dapat mengajarkan kita untuk selalu optimis dalam menghadapi masa depan. Bangsa yang tangguh tentu saja bisa menghadapi semua persoalan dan tantangan yang ada saat ini.

    Bahkan, Menteri Kominfo Johnny G Plate dalam sambutannya yang sudah terpublikasi di berbagai media pada 7 Mei 2021, menyebut peringatan Kebangkitan Nasional ini menjadi titik awal dalam membangun kesadaran untuk bergerak mengatasi permasalahan-permasalahan bangsa Indonesia. Semangat untuk bergerak sebagai bangsa, dengan tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan mana pun.

    Johnny juga bilang bahwa, mimpi kita untuk tancap gas memacu ekonomi dan kemajuan peradaban sebagai simbol kebangkitan bangsa. Menuju Indonesia digital, semakin digital akan semakin maju.

    Membaca apa yang diungkap oleh Menteri Kominfo tersebut, rasanya ungkapannya lebih sekadar basa-basi. Sekadar slogan, bahkan bisa juga utopia. Sebab, yang nampak sangat bangkit di Indonesia kini adalah adalah sepak terjang rezim yang berkuasa dan mencengkeram demi kebangkitan kelompok rezim sendiri Bukan kebangkitan untuk rakyat.

    Rakyat tetap merasakan ketidakadilan. Tetap tak sejahtera. Tetap hanya dijadikan kendaraan kepentingan dan kepentingan rezim yang sedang berkuasa.

    Sehingga tema Harkitnas ke-62: Bangkit! Kita Bangsa yang Tangguh! Bisa dimaknai sebagai: Bangkit! Kita Rezim yang Tangguh! Pasalnya, rakyat dan bangsa ini justru terus dilemahkan oleh mereka demi menguasai segala.

    Makna Harkitnas


    Seharusnya, makna Harkitnas adalah bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan yang menjadi landasan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tapi, faktanya sejak rezim ini berkuasa, persatuan dan kesatuan justru terus diambang disintegrasi bangsa. Mereka melindungi kekuasaannya bahkan tidak cukup dibentengi oleh para pendukungnya yang militan. Terus mengajak berseteru dan bikin kisruh.

    Tidak cukup di situ, benteng pun diperkuat dengan lahirnya influencer dan buzzer yang juga digaji dari uang rakyat, tapi kerjanya menekan rakyat.

    Atas kondisi ini. Terlebih pemerintah pun sudah teropini sering inkonsistensi. Membuat peraturan dan kebijakan bukan amanah untuk rakyat dan hanya untuk melindungi diri dan kelompoknya serta mengamankan kepentingan-kepentingannya.

    Berbagai pihak justru kawatir bila spirit tahun 1908 merasuk lagi dalam jiwa seluruh rakyat Indonesia yang terus merasa tak merdeka di tanah tumpah darahnya sendiri. Rakyat justru bangkit melawan rezim. Sebab apa pun alasannya, sehebat dan sekuat apa pun rezim, bila seluruh rakyat bangkit, kekuatannya akan mampu mengusir siapa pun yang menghalangi kemerdekaan dan kesejahteraannya.







    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.