Menjadi Promotor yang Benar dan Baik di Setiap Persinggahan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Promotor

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 24 Mei 2021 14:47 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menjadi Promotor yang Benar dan Baik di Setiap Persinggahan

    Apakah diri saya sudah menjadi promotor yang benar dan baik untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat, tempat kerja, komunitas? Apakah para pemimpin juga konsisten dan amanah menjadi promotor yang baik bagi dirinya dan teladan untuk rakyat? Diri kita masing-masing, pasti dapat menjawabnya. Semoga, saya dapat menjadi promotor yang benar di setiap tempat persinggahan saya, meski belum dapat melakukannya dengan baik. Dan  akan terus belajar, merefleksi, dan instrospeksi diri. Aamiin.

    Dibaca : 452 kali

    Jadilah promotor (penganjur, pendorong) yang baik di setiap tempat atau komunitas apa pun yang Anda ada di dalamnya. Bukan sebaliknya malah menjadi promotor negatif yang membahayakan tempat atau komunitas.

    Selama ini, sangat sering kita lihat fakta, tempat atau komunitas mulai dari lingkungan terkecil dalam keluarga, lingkungan masyarakat, tempat kerja, instansi, perkumpulan, grup, dll, hingga lingkungan besar dalam kehidupan bernegara dan berbangsa yaitu di parlemen dan pemerintahan terjadi masalah/persoalan/kisruh/perselisihan/salah paham hingga terjadi konflik atau dihancurkan oleh orang-orang yang berada di luar tempat atau komunitas, yaitu oleh golongan dan kelompok lain yang menjadi seteru, pesaing, lawan, dll.

    Namun, banyak pula fakta bahwa tempat atau komunitas menjadi hancur karena para individu di dalamnya, justru menjadi promotor negatif yang menggembosi keberadaan tempat atau komunitas dimaksud.

    Contoh-contoh

    Ambil contoh yang besar misalnya. Di dalam pemerintahan Indonesia sekarang,  ada individu-individu yang justru sering tampil ke hadapan publik, bukan mendinginkan suasana saat ada kebjikan dan peraturan yang jadi polemik atau ada peristiwa dan kejadian yang membikin kisruh dan keruh. Tetapi malah menambah panas dan keruh suasana.

    Jelas, individu ini ternyata bukan promotor yang baik, tapi justru berperan sebagai promotor negatif karena yang ada di kepalanya hanya berpikir kepentingan dan keuntungan pribadi. Sehingga dampak perilakunya justru terbaca sebagai penjilat dan malah menciderai pemerintahan di mata rakyat.

    Ada juga individu yang cari aman, tak muncul dan tampil di hadapan publik, agar dirinya tak terseret masalah, meski seharusnya dia bisa menjadi promotor yang baik untuk menjaga citra pemerintahan.

    Contoh yang kecil, dalam sebuah keluarga, sudah tentu seorang bapak atau ayah tentu wajib menjadi panutan para istri dan anak-anaknya. Tetapi, banyak fakta, istri terus melawan suami, anak tak patuh pada orang tua. Sehingga, setiap masalah kecil yang timbul dalam keluarga yang seharusnya mudah dijinakkan, justru menjadi besar dan melebar.

    Ini terjadi karena seorang bapak atau ayah sering tak dihargai oleh para istrinya sehingga perilaku istri, ditiru dan dicontoh oleh anak-anaknya. Para istri yang demikian, kebanyakan meski cerdas intelegensi dan emosi, tapi jauh dari kehidupan siraman rohani. Dan, akan semakin parah, di dalam rumah akan menjadi seperti neraka, karena istri tak cerdas intelegensi dan emosi.

    Keadaan juga akan tambah parah jika istri merasa lebih hebat dari suami dalam hal pendidikan dan keuangan. Tak ada lagi istilah suami adalah imam dalam keluarga. Semua diterabas, di lawan. Anggota dalam keluarga pun tak akan menjadi promotor yang baik untuk keluarganya, khususnya di mata tetangga sekitarnya, karena semua malah menjadi penyumbang masalah.

    Inilah masalah terbesar dalam sebuah lingkungan keluarga yang seharusnya ada  program pembinaan keluarga secara masif dari pemerintah. Sebab, bila terus dibiarkan, akan terus teregenerasi calon-calon orang tua baru yang meneladani sikap negatif para orang tuanya.

    Dalam komunitas seperti perkumpulan seni budaya atau olah raga, pun banyak individu yang menjadi anggota sesuai peranannya, tak menjadi promotor yang baik bagi komunitas atau grupnya.

    Sebab hanya merasa menjadi anggota, maka bersikap dan bertindak sekehendaknya, dan membiarkan dirinya terlihat tak bertanggungjawab, tak ada rasa memiliki, tak peka, tak peduli, tak simpati dan empati pada apa yang terjadi dan menimpa komunitas.

    Sadar diri saja tidak, bagaimana bisa diharapkan menjadi promotor yang baik bagi anggota yang lain? Harus disadari, bahwa individu-individu semacam ini adalah penghancur komunitas dari dalam.

    Untuk menegakkan komunitas agar tetap kokoh berdiri, individu yang tak militan ini, wajib dibimbing dan diarahkan. Tapi, bila tetap tak berubah dan mau ikuti aturan bahkan melawan, sangat wajib dilengserkan, tidak terus menjadi parasit, benalu. Hanya menjadi beban dan merugikan.

    Di tempat dan komunitas yang lain, kejadiannya juga pasti sama seperti di pemerintahan, keluarga, dan komunitas seni budaya dan olah raga. Ada promotor yang baik di dalamnya. Juga banyak promotor negatif di dalamnya.

    Menghadapi para individu yang menjadi promotor negatif, maka dibutuhkan ketegasan dan sikap disiplin dari para pemimpinnya. Semisal, di pemerintahan, Presiden sebagai pemimpin tertinggi wajib tegas dan disiplin kepada para pembantunya yang selama ini justru menjadi promotor negatif bagi pemerintahan.

    Di lingkungan keluarga, kepala keluarga wajib tegas dan disiplin kepada para anggota keluarganya yang justru merusak citra keluarga.

    Di komunitas seni budaya atau olah raga, para pemimpin atau ketuanya juga harus tegas dan disiplin mengarahkan para anggotanya. Tak ikuti aturan, persilakan angkat kaki.

    Berlaku untuk semua

    Hal ini juga berlaku untuk semua pemimpin di berbagai tempat dan komunitas, seperti tempat kerja, instansi dan lain sebagainya.

    Di mana pun, peraturan dan kebijakan di sebuah tempat atau komunitas, wajib ditegakkan. Arahkan dan didik semua anggota menjadi promotor yang baik untuk dirinya sehingga menjadi contoh bagi anggota atau individu yang lain, maka tempat dan komunitas harmonis, bertahan dan berkembang meski dimakan oleh usia, panas, hujan, rintangan. Tak lekang oleh waktu.

    Apakah diri saya sudah menjadi promotor yang benar dan baik untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan masyarakat, tempat kerja, komunitas? Apakah para pemimpin juga konsisten dan amanah menjadi promotor yang baik bagi dirinya dan teladan untuk rakyat? Diri kita masing-masing, pasti dapat menjawabnya.

    Semoga, saya dapat menjadi promotor yang benar di setiap tempat persinggahan saya, meski belum dapat melakukannya dengan baik. Dan  akan terus belajar, merefleksi, dan instrospeksi diri. Aamiin.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.