SPBU Swasta Sudah Sesuaikan Harga Akibat Harga Minyak yang Melonjak, Pertamina Kapan? - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Puji Handoko

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 November 2020

Selasa, 25 Mei 2021 07:01 WIB

  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • SPBU Swasta Sudah Sesuaikan Harga Akibat Harga Minyak yang Melonjak, Pertamina Kapan?

    Sampai saat ini, Pertamina masih memperhitungkan lebih jauh dampak kenaikan harga BBM. Oleh sebab itu, harga jual BBM Pertamina masih sama. Padahal mestinya, harga jual Pertamina harus mengikuti kenaikan harga minyak dunia. Hal itu agar tidak menimbulkan jarak yang jauh antara harga jual dan harga belinya. Mengingat Indonesia ini masuk dalam kategori negara net importir. Artinya, Indonesia mampu memproduksi minyak, namun tidak mencukupi kebutuhan dalam negerinya. Oleh sebab itu selisihnya harus diimpor.

    Dibaca : 788 kali

    Pandemi Covid-19 membuat harga minyak dunia babak-belur. Hampir seluruh mobilisasi sosial terhenti. Orang-orang lebih banyak diam di rumah dan tidak melakukan perjalanan. Perusahaan minyak dunia mengalami kerugian yang sangat dalam. Namun setahun kemudian harga minyak telah semakin lebih kuat. Hingga akhir Mei 2021, harga minyak dunia menunjukkan kecenderungan terus menguat.

    Untuk jenis West Texas Intermediate, pengiriman Juli menguat USD1,64 menjadi USD63,58 per barel di New York Mercantile Exchange. Sedangkan minyak mentah brent untuk pengiriman Juli naik USD1,33 menjadi USD66,44 per barel di London ICE Futures Exchange.

    Hal itu membuat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Swasta mulai menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada bulan Mei 2021. Selain dikarenakan harga minyak dunia yang terus mengalami peningkatan, juga disebabkan oleh Kepmen ESDM Nomor 62 Tahun 2020 yang memungkinkan semua operator melakukan penyesuaian harga.

    Tapi Pertamina memutuskan untuk mempertahankan harga BBM sama seperti sebelumnya. Hanya Pertamina satu-satunya SPBU yang tidak menaikkan harga BBM. Tentunya hal itu memunculkan pertanyaan, apakah itu tidak membebani keuangan nantinya?

    "Hanya Pertamina saja yang belum menaikkan harga BBM. Padahal berdasarkan Kepmen ESDM Nomor 62 Tahun 2020 memungkinkan semua operator untuk melakukan penyesuaian," kata Direktur Executive Energy Watch, Mamit Setiawan, Sabtu 22 Mei 2021.

    Dengan fakta demikian, maka hari ini harga jual BBM Pertamina menjadi yang paling rendah dibandingkan kompetitornya.

    Operator SPBU swasta sudah menaikkan harga BBM saat harga minyak dunia terus meroket. Bahkan kenaikan harga BBM sudah dilakukan beberapa kali sejak Maret 2021 sampai saat ini.

    Dengan kenaikan tersebut, saat ini harga BBM Shell jenis Reguler (RON 90) tercatat Rp10.520/liter, Super (RON 92) Rp10.580/liter, V-Power (RON 95) Rp11.050/liter dan Diesel Rp10.590/liter. Harga tersebut, tentu jauh lebih tinggi dibandingkan harga jual BBM Pertamina.

    Untuk Pertalite (RON 90) misalnya, Pertamina menjual dengan harga Rp7.650/liter, Pertamax (RON 92) Rp9.000/liter, dan Pertamax Turbo (RON 98) Rp 9.850/liter.

    Begitu pula dibandingkan dengan harga jual BBM produk BP, AKR, dan Vivo, harga jual BBM Pertamina masih jauh lebih rendah. Kenaikan tidak hanya di dalam negeri. Bahkan, di Singapura, harga BBM sudah mendekati Rp30.000/liter.

    Sampai saat ini, Pertamina masih memperhitungkan lebih jauh dampak kenaikan harga BBM. Oleh sebab itu, harga jual BBM Pertamina masih sama. Padahal mestinya, harga jual Pertamina harus mengikuti kenaikan harga minyak dunia. Hal itu agar tidak menimbulkan jarak yang jauh antara harga jual dan harga belinya. Mengingat Indonesia ini masuk dalam kategori negara net importir. Artinya, Indonesia mampu memproduksi minyak, namun tidak mencukupi kebutuhan dalam negerinya. Oleh sebab itu selisihnya harus diimpor.

    Untuk jangka panjang, gap yang jauh itu tentu akan membuat beban finansial, yang pada akhirnya akan membebani pula keuangan negara. Apalagi hingga saat ini, Pertamina konsisten menjalankan penugasan Pemerintah, termasuk BBM Satu Harga untuk distribusi BBM sampai ke daerah 3T. Oleh sebab itu, demi kepentingan yang lebih besar, tidak keliru jika Pertamina menyesuaikan harga kekonomian BBM. Karena harga minyak dunia memang terus naik.

    Akhir-akhir ini, penanganan Covid-19 semakin mendatangkan rasa optimis. Memang, kasus di India membuat seluruh negara kembali dilanda kecemasan. Namun dengan pengalaman setahun sebelumnya, penanggulangan pandemi Covid-19 yang sekarang jadi lebih cepat dan tepat sasaran. Dengan fakta ini, kemungkinan perekonomian dunia juga akan semakin membaik. Dan kondisi itu dengan sendirinya akan membuat harga minyak akan segera menyentuh kisaran normal seperti sebelumnya.

    Sudah waktunya berpikir realistis. Jangan sampai niat baik untuk menahan penyesuaian harga BBM justru membuat beban keuangan menjadi berat di kemudian hari. Toh, SPBU swasta sudah melakukan hal yang sama. Pertamina harus melakukan langkah yang tepat demi kelangsungan finansialnya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.