66 Persen Murid Indonesia Fixed Mindset, Apa Sudah Ada Penanganan? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Fixed mindset

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 27 Mei 2021 07:00 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • 66 Persen Murid Indonesia Fixed Mindset, Apa Sudah Ada Penanganan?

    Apa kabar dua pertiga atau sekitar 66 persen murid Indonesia, yang memiliki fixed mindset, yaitu menganggap bahwa kecerdasannya tak bisa diubah?

    Dibaca : 418 kali

    Bila dihitung sejak Indonesia merdeka, maka tahun 2021 ini, akan memasuki tahun ke-76 tahun ajaran baru. Pertanyaannya, terkait dunia pendidikan, apa yang sudah ditanam dan dipetik Indonesia di sektor pondasi kemajuan bangsa ini? Berapa presentase keberhasilan Sumber Daya Manusia (SDM) kita, yang lahir dari dunia pendidikan di dalam negeri di bandingkan presentase jumlah penduduk Indonesia?Menanam maka memetik. Tapi apa yang mau dipetik bila cara menanamnya saja masih dipertanyakan. Sudah cara menanamnya dipertanyakan, proses bertumbuhnya pun belum mampu merawat dengan benar. Itulah sengkarut dunia pendidikan kita yang terus berputar-putar dalam benang kusut.

    Sebab, yang diberi tanggungjawab menanam dan merawat, masih belum memiliki kemampuan yang diharapkan! Itulah dunia pendidikan Indonesia yang terus tak mampu menyentuh akar masalah.

    Sulit menghasilkan manusia berkarakter berbudi karena terus bermasalah di tingkat pembuat kebijakannya (legislator), ditambah runyam pada sektor ujung tombak pelaksana kebijakan, yaitu sekolah dengan perangkatnya sebagai operator.

    Akibatnya pendidikan terus terpuruk, ibarat menanam padi, yang dipanen pun hanya hama, masalah dan masalah.

    Mindset murid menyedihkan

    Dalam kesempatan ini, saya tak ingin mengungkit benang kusut pendidikan Indonesia yang sudah sering saya tulis itu, namun menurut hemat saya, bila diidentifikasi permasalahnya, tak nampak ada perubahan dan perbaikan yang signifikan hingga sekarang.

    Untuk kali ini, saya ingin menyoroti masalah yang lebih gawat, yaitu masalah mindset murid Indonesia. Ternyata ada sebanyak dua pertiga atau sekitar 66 persen murid Indonesia, memiliki fixed mindset, yaitu menganggap bahwa kecerdasannya tak bisa diubah.

    Kendati data tersebut dipaparkan oleh PISA, Program Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk Penilaian Pelajar Internasional (PPI) pada tahun 2018, namun hingga kini tak nampak ada penanganan serius di Indonesia menyoal murid-murid yang lebih dari 66 persen fixed mindset.

    Perlu diketahui, selama ini saya sudah mengulas hasil survei PISA, murid di Indonesia terus terpuruk dalam hal membaca (literasi), matematika, dan sains.

    PISA mengukur kemampuan murid usia 15 tahun untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan membaca, matematika dan sains mereka untuk memenuhi tantangan kehidupan nyata.

    Selain itu, PISA juga mengukur persentase murid peserta tes PISA dari 78 negara terkait "kecerdasan adalah hal yang tidak bisa kamu ubah".

    Apa Hasilnya? Ternyata lebih dari dua pertiga murid Indonesia yang mengikuti tes PISA setuju bahwa kecerdasannya tidak bisa diubah dan masuk dalam kelompok "fixed mindset".

    Sebaliknya, murid yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut dianggap memiliki "growth mindset" karena orang yang percaya bahwa kecerdasan bisa diubah kemungkinan besar akan menantang dirinya untuk berkembang.

    Mindset adalah pola pikir. Fixed mindset adalah pola pikir yang meyakini bahwa kualitas dasar diri, seperti intelegensi atau bakat, bersifat menetap. Dan, Growth mindset, yaitu pola pikir yang berkembang, tumbuh.

    Dilansir dari Thomas Edison State University, Carol Dweck, psikolog di Stanford University, lewat bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success menyebutkan bahwa growth mindset adalah salah satu kunci untuk mendapatkan suatu kesuksesan.

    Carol menyebut, individu yang memiliki growth mindset adalah mereka yang akan selalu percaya bahwa bakat yang dimilikinya selalu dapat dikembangkan dengan berbagai cara. Misalnya, dengan kerja keras, menggunakan strategi yang tepat saat bekerja, hingga mendengarkan masukan dari orang lain.

    Sementara, seseorang dengan fixed mindset percaya bahwa kemampuan untuk melakukan sesuatu dipengaruhi oleh faktor genetis atau bawaan. Mereka meyakini bahwa keterampilan dan keahlian bersifat terberi (given).

    Dari mana pikiran fixed mindset?

    Sesuai hasil pengukuran PISA, pertanyaan mendasarnya, mengapa mencapai 66 persen murid Indonesia  yang pola pikirnya fixed mindset? Siapa yang mengajari? Siapa yang mendidik hal itu? Siapa yang diteladani?

    Padahal, dampak dari fixed mindset itu sangat negatif untuk bertumbuhnya murid secara utuh sebagai manusia. Sebab, dengan 66 persen murid Indonesia fixed mindset, maka murid yang demikian akan cenderung menghindari tantangan, mudah menyerah saat menemukan hambatan, menjadikan usaha sebagai sesuatu yang hanya perlu dilakukan oleh orang-orang yang berkemampuan rendah, mengabaikan kritik, masukan, dan saran.

    Lebih parahnya lagi, seorang dengan fixed mindset juga suka akan merasa terancam dengan kesuksesan yang didapatkan oleh orang lain. Deskripsi ini, di Indonesia juga sangat kental kita lihat di berbagai ranah kehidupan. Mulai dari rakyat jelata hingga para pemimpin bangsa.

    Dibanding murid yang fixed mindset, memang ada 34 persen yang sudah berpikir growt mindset. Tetapi perbandingannya memang sangat memprihatinkan, sebab pola pikir ini akan sangat berpengaruh pada kemajuan dan perkembangan bangsa dan negara Indonesia secara umum sebab cikal bakal SDMnya lebih dominan fixed mindset.

    Bagaimana caranya Mas Nadiem, agar semua murid Indonesia dapat berpikir growt mindset? Di mulai dari mana prosesnya? Dari Kementerian? Sekolah? Rumah? Atau dari mana?

    Growth mindset telah terbukti di berbagai belahan dunia mana pun, hingga PISA pun mengukur hal ini kepada murid usia 15 tahun, karena menjadi faktor kunci bagi SDM dalam meningkatkan budaya kerja yang kolaboratif dan inovatif, serta untuk membangun lingkungan kerja yang berkomitmen, saling percaya dan engaging, menarik, sehingga signifikan terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa.

    Pasalnya, bagi siapa saja yang berpikir growt mindset, terlebih bila sudah tertanam sejak usia dini dan muda, maka individu seperti ini akan terbiasa dan mau menerima tantangan, saat mengalami hambatan akan berusaha dulu semaksimal mungkin, selalu berusaha karena itulah cara untuk menguasai sesuatu, menerima kritik-saran-masukan sebagai salah satu bahan belajar untuk memperbaiki diri, serta melihat kesuksesan orang lain sebagai contoh untuk belajar dan menginspirasi.

    Kembali kepada riset Carol Dweck, menurutnya, murid yang berpikir fixed mindset, menganggap kemampuan mereka hanya berdasarkan apa yang mereka dapat selama sekolah dan tak berpikir bahwa kecerdasan dapat dikembangkan, akibatnya nilai akademisnya cenderung stagnan selama beberapa tahun.

    Sedangkan murid-murid yang berpikir growt mibdset, mereka masih bisa meningkatkan kemampuan dan kecerdasannya, nilainya cenderung meningkat dari waktu ke waktu.

    Yang pasti, orang yang berpikir growt mindset, akan berpikir bahwa otak itu canggih sekali, sehingga bisa terus di-upgrade, lho. Tinggal orangnya mau atau tidak?

    Terlebih dalam situasi corona, kemajuan zaman, dunia maya dan digital yang terus hadir di depan mata, pintu untuk mengupgrade otak, tinggal klik di smartphone kan?

    Ayo siapa yang wajib menyentuh murid-murid Indonesia yang 66 persen itu agar tak berpikir fixed mindset? Mereka calon SDM tulang punggung harapan bangsa!



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.