Andai Tjoet Nja’ Dhien Jadi Ketua DPR - Analisa - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 29 Mei 2021 14:49 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Andai Tjoet Nja’ Dhien Jadi Ketua DPR

    Andaikan Tjoet Nja’ Dhien menjadi Ketua DPR, ia akan menjadi wakil rakyat sejati yang tidak memikirkan di mana kariernya akan berujung. Setiap hari ia akan dengan senang hati menerima rakyat yang datang dari berbagai penjuru negeri. Ia juga akan mendatangi rakyat, menyaksikan sendiri kehidupan mereka, merasakan getaran hidup mereka, menyerap pikiran dan perasaan mereka. Ia akan naik kereta kelas ekonomi dan berbincang dengan rakyat di sepanjang perjalanan.

    Dibaca : 940 kali

     

    Film Tjoet Nja’ Dhien garapan sutradara Eros Djarot dengan pemeran Christine Hakim belum lama ini diputar kembali. Saya sempat menontonnya di bioskop pada 1988 saat pertama kali beredar. Kenangan tentang sosok perempuan Aceh ini hadir kembali di benak dan hati saya: perempuan yang berjuang tanpa pamrih demi mempertahankan martabat bangsanya, menyelamatkan rakyatnya, serta menegakkan kebenaran dan keadilan, hingga kematiannya. Sungguh, ia perempuan idaman di kala negeri ini sedang seperti sekarang.

    Saya membayangkan ia menjadi Ketua DPR yang tangguh, pemberani, tanpa pamrih, dan akan mati-matian memperjuangkan kehidupan rakyatnya sejak usia muda. Demi menegakkan kebenaran dan keadilan, Tjoet menolak untuk menyerah kepada penguasa kolonial Belanda. Padahal, Tjoet juga telah kehilangan suaminya—yang pertama maupun kedua—di medan laga, dan kemudian kehilangan anak dan menantunya yang gugur dalam pertempuran melawan kolonial.

    Tjoet mengajarkan agama kepada anaknya dan mendidiknya agar setangguh ibunya.  Ketika suaminya yang kedua, Teuku Umar, gugur, anak mereka, Cut Gambang, menangis. Tjoet menasihati anaknya: “Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.”

    Tjoet akhirnya tertangkap. Pengaruhnya yang besar pada rakyat Aceh membuat Tjoet diasingkan jauh dari tanah kelahirannya, dipisahkan dari masyarakatnya, dan menjalani masa tuanya di Tanah Parahyangan. Di Sumedang, Jawa Barat, ia tidak dikenal oleh masyarakat tempat tinggalnya—dan iapun tidak membanggakan diri sebagai pejuang. Ketika ia meninggal dalam usia 60 tahun, ia dimakamkan sebagai manusia biasa tanpa tembakan salvo sebab negeri ini belum merdeka, juga tanpa hantaran rakyat Aceh yang turut berjuang dengannya. Makam Tjoet bahkan baru ditemukan oleh pemerintah Indonesia setelah 50 tahun kematiannya pada 1908.

    Sebagai pejuang, Tjoet menghabiskan seluruh hidupnya untuk membebaskan rakyat dari penindasan, ketidakadilan, dan penghisapan oleh penguasa kolonial. Tak ada air mata untuk semua kepergiaan orang-orang tercintanya. Gangguan penglihatan juga tidak menghentikan Tjoet untuk melakukan perlawanan dengan bergerilya, walaupun kerabunan matanya itu dan fisiknya yang melemah telah membuat Tjoet tidak mampu bebas bergerak hingga ia tertangkap oleh serdadu kolonial. Tjoet tidak pernah goyah oleh tawaran apapun untuk berkompromi, apa lagi menyerah.

    Andaikan, ya andaikan, Tjoet hidup di masa sekarang dan menjadi ketua DPR, niscaya ia juga akan berjuang tanpa kenal letih agar rakyat memperoleh kehidupan yang selayaknya, merasa aman dan terlindungi, serta mendapatkan keadilan. Tjoet tidak akan menyerahkan kehormatannya sebagai pemimpin kepada siapapun, apa lagi sekedar untuk memperoleh kekayaan dan penghormatan artifisial dari sesama manusia.

    Andaikan, ya andaikan, Tjoet menjadi ketua DPR, ia akan menjadi wakil rakyat sejati yang tidak memikirkan di mana kariernya akan berujung. Ia pemimpin rakyat yang nyaris tidak sempat memikirkan dirinya sendiri, yang mungkin setiap hari akan dengan senang hati menerima rakyat yang datang dari berbagai penjuru negeri. Ia juga akan mendatangi rakyat hingga pelosok negeri, menyaksikan sendiri kehidupan mereka, merasakan getaran hidup mereka, menyerap pikiran dan perasaan mereka—niscaya tanpa mobil mewah dan tanpa voorijder. Ia mungkin akan naik kereta kelas ekonomi dan berbincang dengan rakyat di sepanjang perjalanan. Tanpa berjarak, tanpa menciptakan jarak, tanpa membangun pencitraan yang seolah-olah.

    Tjoet akan menjadi penyambung lidah rakyat sejati, yang tidak akan lelah mendengarkan keluh kesah rakyat. Ia akan menjadi wakil rakyat yang tidak henti-henti menggelorakan optimisme manakala rakyat nyaris putus harapan. Ia akan menjadi wakil rakyat yang inspiratif, yang membangkitkan semangat juang rakyat, yang percaya bahwa takdir mesti diperjuangkan hingga akhirnya diputuskan.

    Ya, andaikan saja Tjoet Nja’ Dhien menjadi Ketua DPR atau Presiden di masa sekarang, rakyat tidak akan bingung kemana mesti mengadukan nasibnya. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.