Cerpen | Boawae - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Maria avilan

Bana Alvianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Januari 2021

Senin, 31 Mei 2021 07:29 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Cerpen | Boawae

    Boawae, kampung yang selalu saya sebut dalam setiap puisi, cerpen dan doa. Tunggu saya, Boawae. Sebab untukmu rindu ini tak pernah habis.

    Dibaca : 362 kali

    Oleh : Honing Alvianto Bana

     

    "Jika kau adalah jodoh, saya akan terus menunggu."

    Dan tiba-tiba saja, kau harus pergi. Kau harus kembali ke kampungmu -- kampung penuh kenangan dan harapan.

    “Hari sabtu saya sudah pulang,” katamu via chat WhatsApp .

    Saya masih tak percaya, rasanya baru beberapa bulan lalu kau berkunjung ke kota Kupang. Saya antara sadar dan tak sadar, benarkah kau akan segera meninggalkan kota itu?

    Saya sadar, kau sekarang mungkin sudah menyiapkan diri untuk pulang. Saat itu, saya ingin menenggelamkan diriku dalam penyesalan karna belum sempat menemuimu namun saya berusaha menahan diri. Saya tak ingin kau tahu perasaan ini. Saya membalas chatmu dengan santai, walau terus berpikir. Secepat itukah kau akan pulang ke kampungmu? Saya masih ingin menemuimu disini. Dan ingin bersamamu.

    Tiba-tiba datang

    Empat tahun lalu, kau tiba-tiba hadir di kota Kupang. Saat itu, kau saja tiba dari Malang. Kau menghubungiku di chat, kamu bilang, “Saya sudah di Kupang.”

    Sedang saat itu, saya masih berada di Surabaya. Betapa bahagianya. Kau sudah datang di kota Kupang. Selama ini, saya memang mengharapkanmu, mengharap kedatanganmu di kota itu.

    Beberapa minggu setelah itu, kau mengirim pesan, "Doakan saya biar bisa dapat kerja disini."


    “Iya. Semoga kau bisa mendapatkan pekerjaan,” kata dalam hati. Saya memang selalu mendoakanmu diam-diam. Meski saat itu, kita tak lagi memiliki hubungan yang istimewa.

    Beberapa tahun sesudah itu, kita tak lagi bertukar kabar. Kau terlalu sibuk dengan pekerjaan dan duniamu. Beberapa kali saya berusaha menghubungimu. Tapi jawabanmu selalu tak enak.

    Kau pernah mengunjungi kota Soe, kotaku. Sayangnya, kau datang bersama orang lain. Meski begitu, saya terus menunggumu di kotaku.

    Tetap cinta

    Saya tak mengerti, mengapa saya terus mencintaimu. Selalu saja, cinta datang, hadir, dan aih, saya tak mau “kau” pergi.

    Sekitar empat tahun yang lalu, semenjak pertemuan terakhir kita di depan kosmu. Saya sekan pulang dengan dua cambukan sekaligus: rasa bersalah dan rasa cinta yang terus tumbuh. Entah bagai mana cara melupakan saat rasa cinta terus-menerus hadir. Setiap hari. Setiap saat.

    Berulang kali saya berusaha melupakanmu, mencari pengganti, hingga sibuk dengan dunia tulis menulis. Tapi selalu saja gagal. Cinta itu terus hadir. Menjadi jadi. Seakan kepala batu.

    Sampai pada suatu saat, saya hanya ingin sendiri. Berusaha menunda dan menolak beberapa perempuan yang ingin mendekat. Saya sadar. Kemanapun saya pergi dan sejauh apapun saya menjauh, kau tetap hadir. Saya selalu tidak mengerti bagaimana caranya melupa saat rasa cinta terus-menerus mekar.

    ***

    Sejak saat itu kita tak lagi bertemu. Kau di kota lain dan saya pun dikota yang lain.

    Namun, Tuhan sangat baik. Beberapa hari lalu saya menghubungimu dan kau tak seperti sebelumnya: Marah.

    Entah apa penyebabnya kau sebaik ini. Mungkin kau sedang dalam masalah bersama kekasihmu. Atau...atau entahlah.

    Tiba-tiba pPergi

    “Jika kau adalah jodoh, saya akan terus menunggu.”

    Saya menulisnya beberapa hari lalu di status WhatsApp, semoga kau melihat dan membacanya. Apakah kamu akan mengerti dengan kode-kode seperti ini?

    Mungkin setiap pertanyaan tidak selalu memiliki jawaban. Dan setiap jawaban bukanlah dari suatu pertanyaan. Tapi saya tidak perlu bertanya padamu lagi, saya tidak perlu jawabanmu lagi. Biarlah waktu yang mempertemukan kita kembali.

    Kau yang tiba-tiba ingin pergi, membuatku terdiam dan tak bisa berpikir. Mengapa tidak kau tunggu saya sejenak? Atau saya memang terlalu berharap padamu. Entahlah, apakah harapan kita sama? Pulanglah kembali ke rumahmu. Dan biarkan saya yang akan ke kampungmu. Tak apa-apa.

    Namun saya selalu berdoa, agar seusai Covid-19 ini berlalu, saya ingin segera berkunjung ke kampungmu; Boawae. Kampung yang selalu saya sebut dalam setiap puisi, cerpen dan doa. Tunggu saya, sebab untukmu rindu ini tak pernah habis, Boawae.


    Honing. Alvianto Bana, lahir di kota Soe, Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang aktif di Pokja OAT Nausus dan Pemuda GBKN.

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.