Hai Bangsa Indonesia Harap Tenang, Musisi Jadi Komisaris Saja, kok, Gaduh - Travel - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 2 Juni 2021 05:58 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Hai Bangsa Indonesia Harap Tenang, Musisi Jadi Komisaris Saja, kok, Gaduh

    Hikmah Hari Lahir Pancasila. Stop jadi bangsa yang gaduh dan berisik. Agar lebih produktif dan fokus pada solusi, bukan masalah

    Dibaca : 326 kali

    Tanggal 1 Juni diperingati Hari lahir Pancasila. Sebuah peringatan terhadap pedoman Indonesia dalam berbangsa dan bernegara dirumuskan. Lahirnya lima dasar negara sebagai nilai-nilai luhur yang seharusnya menjadi karakter bangsa dan senantiasa dijunjung tinggi. Bangsa Indonesia yang ber-ketuhanan, berperi-kemanusiaan, menjaga persatuan, mengusung musyarakat dan mufakat dalam demokrasi, dan ber-keadilan. Dan dibungkus dalam slogan “sekalipun berbeda-beda tetap satu jua”.
     
    Lalu, apa hikmah di Hari Lahir Pancasila?
    Di mata saya, sederhana saja. Mungkin bangsa Indonesia, siapa pun, perlu “lebih banyak berbuat dan bersikap tenang, jangan banyak gaduh yang tidak produktif”. Musisi dan pemain band jadi komisaris saja gaduh. Pegawai KPK gaduh. Apa saja dibuat gaduh tapi tanpa solusi. Bangsa Indonesia harusnya lebih bersikap “tenang”. Jangan banyak gaduh, berisik. Tidak produktif. Apa ada hal atau masalah yang bisa diselesaikan dengan kegaduhan?
      
    Hai Bangsa Indonesia, harap tenang,

    Bila sudah berbeda tidak perlu dipersoalkan. Bila ada yang salah ya dibenarkan. Bila masih banyak masalah, silakan dibantu untuk diselesaikan. Tidak perlu membenci apalagi mencaci-maki perbuatan orang lain. Apalagi kerjanya hanya mencari-cari kesalahan orang. Berisik di grup WA, ramai di media sosial. Tapi semua atas tendensi ketidak-senangan. Terlalu subjektif dan kian menjauh dar hati nurani.

     

    Bangsa ini mungkin perlu belajar untuk lebih tenang.

    Karena makin banyak saja orang-orang yang tidak tenang. Terlau daduh, berisik lalu gelisah. Hingga gemar mencari kesalahan, mengoyak kelemahan lawan. Mengumbar celotehan da ocehan sebagai ekspresi kegundahan. Bela sana bela sini. Kayak prajurit pangkat kopral. Tapi sayang, takut mati. Mau sampai kapan? Gaduh, kok tidak ada habis-habisnya. Maka wajar, sikap tenang jadi makin susah dicari, sulit ditemukan. Hai bangsa Indonesia, harap tenang.

     

    Di Hari Lahir Pancasila. Belajarlah untuk tenang.

    Karena tenang itu sikap penting. Untuk berani membuang emosi dan egoisme. Tenang untuk lebih jernih melihat masalah dan tetap objektif.  Tenang juga bukan berarti lamban. Tenang untuk tetap gesit dan bekerja, selalu ikhtiar yang baik. Karena tenang itu lebih hebat dari cuma sekadar kata-kata, dari sekadar celotehan yang malah bikin gaduh.

     

    Tenang itu soal sikap. Tenang pun tidak ada hubungan dengan menang atau kalah. Siapa yang bilang orang yang berisik itu menang. Siapa pula yang katakan orang tenang itu kalah?

    Masih ingatkah kita? Tentang kisah Perang Bubat. Patih Gajah Mada itu menang. Tapi pasca kemenangan itu, Gajah Mada malah jadi orang yang terkucil. Hayam Wuruk pun ditinggal oleh Puteri Sunda Dyah Pitaloka, yang ternyata sangat dia cintai dan kagumi. Sejak itu, kerajaan Majapahit justru makin hancur bahkan runtuh. Ini bukti, bahwa kemenangan tidak selalu bikin orang hebat dan bahagia.

     

    Hai bangsa Indonesia. Harap tenang. Karena hidup bukan soal menang kalah. Apalagi membenci atau tidak membenci. Hidup itu “wadah” agar siapa pun bisa lebih bertanggung jawab dan mampu bertahan dalam segala kondisi. Selalu ikhtiar baik dalam segala keadaan, suka atau tidak suka. Memang sangat manusiawi punya sikap benci atau marah itu manusiawi. Tapi di saat yang sama, sikap tenang dan mau menerima realitas juga perlu. Maka, tenanglah.

     

    Mungkin ada baiknya. Pancasila sebagai ideologi dan nilai-nilai lihur bangsa Indonesia. Patut dijunjung tinggi. Setidaknya untuk bisa bersikap lebih tenang. Tenang dalam pikiran, sikap, dan tindakan. Tidak perlu gadu, berisik apalahi gerabak-gerubuk.

     

    Kenapa? Karena sejatinya, semua yang terjadi sudah dalam scenario-Nya. Dan Allah SWT sudah tahu kok “siapa kita sebenanarnya”. Tenang itu memang tidak cukup ditulis dengan kata-kata. Tapi harus bisa dirasakan dan dilakukan. Oleh siapapun.

     

    Tenang. Agar kita tidak lupa. Bahwa semua yang ada di dunia ini hanya titipan dan “hanya sandiwara” belaka. Hingga cerita sandiwara itu pun menunggu waktu akan berakhir. Hai bangsa Indonesia, harap tenang. Salam literasi. #HariLahirPancasila #TamanBacaan #TBMLenteraPustaka



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.