Yuk, Bebaskan Diri dari Hoax! - Analisa - www.indonesiana.id
x

Hoaks terkait COVID-19 harus dihadapi bersama di tengah pandemi ini

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 6 Juni 2021 15:05 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Yuk, Bebaskan Diri dari Hoax!

    Dengan tidak meneruskan informasi yang belum jelas kebenarannya, kita sudah ikut memerangi penyebaran hoax dari manapun asalnya. Dengan bersikap kritis terhadap setiap informasi yang kita peroleh, memeriksa kebenarnya, maka kita telah berusaha menghindarkan diri dari menjadi kaki tangan orang-orang yang gemar membuat hoax, kabar dusta, maupun fitnah. Di zaman sekarang, banyak orang yang mampu membayar orang lain untuk membuat hoax dan banyak pula orang yang mau dibayar untuk memproduksi hoax. Waspadalah!

    Dibaca : 623 kali

     

    Hoax berseliweran setiap hari dari segala penjuru: dari soal pribadi yang terdalam, urusan agama, politik, hingga negara. Apakah pemerintah jadi satu-satunya sasaran hoax? Tidak juga, sebab siapapun bisa menjadi sasaran empuk, tergantung siapa yang memproduksi hoax secara sengaja. Dari politisi, pejabat publik, selebritas, guru, artis, tenaga kesehatan, hingga alim dan ulama pun bisa dan sudah ada yang jadi sasaran hoax.

    Mereka yang tidak mampu bertahan terhadap serangan hoax akan mengalami cedera karakter dirinya. Orang banyak telanjur percaya pada kabar hoax, sementara yang menjadi sasaran tidak tahu atau tidak mampu bertahan dan melawan hoax. Seseorang bisa dengan cepat dicap penipu, pembohong, plin plan, dan sebutan-sebutan buruk yang sengaja disematkan oleh produsen hoax.

    Hoax alias berita bohong bisa saja sengaja dibuat oleh produsen hoax dengan tujuan menyebarluaskan fitnah. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan, sebab dampak kerusakan yang ditimbulkan fitnah akan berlangsung lama, menggerogoti karakter pribadi orang lain. Selagi masih hidup, sasaran hoax akan terus dihantui kabar buruk yang dipercaya banyak orang, sementara kematian hanya terjadi satu kali. Karena hoax, seseorang mengalami kerusakan relasi dengan banyak orang, dari saudara sendiri hingga teman dan relasi kerja.

    Alasan  produsen hoax bisa bermacam-macam, dari yang kesal kepada orang tertentu, untuk mencapai tujuan politis dengan cara menjelek-jelekkan, hingga mungkin ada yang menjadikannya sumber penghasilan dengan melayani pihak tertentu yang memesan. Namun, ada pula yang sekedar iseng menyebarkan informasi yang belum pasti kebenarannya, namun ia tidak memahami dampak, konsekuensi, serta risiko atas hoax yang ia sebarkan. Karena informasinya menarik, ia tidak periksa lebih dulu kebenarannya, langsung ia sebarkan di media sosial.

    Ada orang yang menyebarkan hoax secara sengaja dan paham benar bahwa kontennya dusta, namun ada pula orang yang tidak tahu kebenaran isinya ikut menyebarkan hoax karena alasan tertentu. Orang tipe pertama adalah orang yang mengerti bagaimana media, khususnya media sosial, bekerja. Medsos menjadi sarana ampuh untuk penyebarluasan dan amplifikasi pesan yang terkandung dalam informasi yang disebarkan. Orang seperti ini sengaja membuat kerusakan terhadap individu serta menimbulkan kerusakan sosial, di antaranya kegaduhan dan keributan.

    Orang tipe kedua adalah orang yang kurang melek media, percaya begitu saja bahwa informasi yang ia terima itu benar tanpa memeriksanya terlebih dulu, untuk kemudian ia menyebarluaskannya. Namun, orang-orang seperti ini mesti belajar bahwa setiap informasi belum tentu benar. Jika ia tidak mau memeriksa kebenarannya dengan cara tertentu, misalnya memeriksa sumbernya, kontennya, mencari informasi dari sumber lain [cross-check] sebagai pembanding, sebaiknya ia tidak menyebarkan informasi tersebut. Sesederhana itu: jika tidak tahu, periksa dulu kebenarannya; jika tidak mau memeriksa kebenarannya, tidak usah menyebarkannya.

    Dengan melakukan pemeriksaan kebenaran sebuah informasi, warga masyarakat ikut serta memerangi kabar bohong, dusta, dan fitnah. Bahkan informasi yang kontennya baik pun belum tentu benar alias faktanya memang begitu dan harus diperiksa kebenarannya atau verifikasi dan konfirmasi, apa lagi informasi yang kandungannya tidak baik—memaki, menyatakan bahwa si anu begini. Contoh informasi baik: seorang teman diangkat menjadi guru besar perguruan tinggi tempatnya mengajar; jelas ini kabar baik, namun bisa jadi kabar ini tidak benar karena faktanya ia memang tidak diangkat menjadi guru besar.

    Dengan tidak meneruskan informasi yang belum jelas kebenarannya, kita sudah ikut memerangi penyebaran hoax dari manapun asalnya. Dengan bersikap kritis terhadap setiap informasi yang kita peroleh, memeriksa kebenarnya, maka kita telah berusaha menghindarkan diri dari menjadi kaki tangan orang-orang yang gemar membuat hoax, kabar dusta, maupun fitnah. Di zaman sekarang, banyak orang yang mampu membayar orang lain untuk membuat hoax dan banyak pula orang yang mau dibayar untuk memproduksi hoax. Waspadalah! >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.