Refleksi 100 Hari Kerja Kepala Daerah Baru - Analisa - www.indonesiana.id
x

rakyat dan pemimpin

sapar doang

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 April 2020

4 hari lalu

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Refleksi 100 Hari Kerja Kepala Daerah Baru

    Memang tidak ada rumusan baku, apa saja yang perlu dilakukan pada seratus hari pertama. Karena setiap daerah memiliki tantangannya sendiri. Meski sepatutnya pada 100 hari kerja pertama, kepala daerah terpilih sudah punya prioritas kerja. Bahkan prioritas kerja ditentukan jauh sebelum maju sebagai calon kepala daerah.

    Dibaca : 212 kali

    Oleh: SAPARUDDIN, Ketua KIPP Pasaman 2013-2016

    Sebahagian besar kepala daerah yang terpilih pada pilkada serentak 2020 telah dilantik pada 26 Februari 2020 lalu. Menyisakan sebagian yang masih menjalani sengketa dan sejumlah daerah yang masa jabatan kepala daerahnya habis pada Maret hingga Juni mendatang.

    Pilkada yang diselenggarakan Desember tahun lalu diikuti serentak oleh 270 daerah (49,27 persen dari total 548 daerah). Perinciannya, 9 provinsi (26,47 persen), 37 kota (37,76 persen), dan 224 kabupaten (53,85 persen). Mengingat hampir setengah dari jumlah kepala daerah di Indonesia berganti, tentu dampaknya terhadap pencapaian visi Kabinet Indonesia Maju untuk lepas dari middle income trap sangatlah signifikan.

    Sebagai kepala daerah baru, realisasi janji-janji kampanye akan sangat ditunggu masyarakatnya. Dan masyarakat umumnya melihat kinerja pemimpin baru pada 100 hari pertamanya. Apa yang seharusnya dilakukan kepala daerah baru pada 100 hari pertamanya?

    Seratus hari pertama adalah waktu yang ideal karena approval ratings di masyarakat sedang tinggi-tingginya (sehingga terpilih). Tidak memiliki konflik dengan banyak pihak dan para staf akan mendukung semua program yang dicanangkan dengan harapan posisi strategis dengan membantu pemimpin baru.

    Kepala Daerah yang Ambidextrous

    Dewa Romawi Janus memiliki dua pasang mata. Sepasang mata pertama fokus pada apa yang telah terjadi dan yang kedua fokus pada apa yang akan terjadi. Pemimpin organisasi, menurut O’Reilly dan Tushman (2004), harus memiliki kemampuan untuk menghubungkan keduanya, ambidextrous. Pemimpin harus mampu memperbaiki kualitas layanan dan produk yang dihasilkan organisasi, pada saat yang sama menciptakan inovasi-inovasi yang akan menentukan masa depan organisasi. Organisasi dengan pemimpin ambidextrous 90 persen memiliki tingkat kesuksesan lebih tinggi.

    Pemimpin yang ambidextrous senantiasa konsisten dalam mengeksplorasi ide-ide inovatif guna mencapai visi jangka panjang sekaligus memimpin operasi organisasi agar makin efektif dan efisien (eksploitatif). Eksploitasi mengarah pada pemanfaatan dan perbaikan akan proses, kompetensi, teknologi, dan sumber daya yang telah ada. Sedangkan eksplorasi menitikberatkan pada eksperimentasi pada pengetahuan dan alternatif baru yang belum ada.

    Dalam konteks daerah, eksploitasi cenderung dilakukan daerah-daerah yang memiliki kekayaan alam besar. Keputusan ini dipilih karena menjanjikan kesuksesan lebih cepat dan lambat laun makin tergantung untuk lebih mengeksploitasinya, mengakibatkan success trap. Eksplorasi merupakan pilihan logis bagi daerah dengan SDA terbatas dengan menawarkan alternatif-alternatif baru bagi dunia. Biasanya high tech atau services economy menjadi pilihan karena menjanjikan hasil besar dalam jangka panjang.

    Mengingat arah eksplorasi susah diprediksi, mekanisme ini akan mendorong sebuah daerah untuk menyiapkan beberapa alternatif dan mengarahkan pada failure trap. Bilamana eksploitasi menjadikan daerah sukses dalam jangka pendek tapi rentan dalam jangka panjang, eksplorasi kurang efektif dalam jangka pendek dan rentan akan perubahan teknologi dan pasar meskipun menjanjikan kesuksesan dalam jangka panjang.

    Seratus hari pertama bagi para kepala daerah bukanlah akhir cerita, melainkan akhir dari permulaan baru pada 1.825 hari masa jabatan. Bagi kepala daerah baru, 100 hari pertama sangat krusial dalam merealisasikan perubahan-perubahan yang telah dijanjikan pada kampanye sebelumnya. Program-program prioritas akan dilaksanakan dalam 100 hari ini dan dukungan dari stakeholders bergantung bagaimana kepala daerah baru mengeksekusinya.

    Seratus hari pertama juga menjadi sinyal inovasi baru yang akan dieksekusi dan peningkatan efektivitas serta efisiensi program sebelumnya yang telah sukses mengantarkan pada periode kepemimpinan kedua. Yang pasti, 100 hari pertama adalah langkah awal bagi para kepala daerah dalam mempersiapkan legasi bagi kepemimpinannya.

    Salah satu program prioritas Kabinet Indonesia Maju adalah transformasi ekonomi agar Indonesia terlepas dari middle income trap. Tentu kebijakan nasional ini perlu diikuti para kepala daerah. Mengeksploitasi keunggulan daerah yang sudah ada (meminimalkan success trap) dan mengeksplorasi keunggulan baru yang bernilai tambah tinggi (memitigasi failure trap) adalah sebuah keharusan. Kepala daerah yang ambidextrous-lah yang akan mampu mewujudkannya. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.