Diskon Hukuman yang Menghina Rasa Keadilan dan Akal Sehat - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Mempertimbangkan dan mempertanggungjawabkan.

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 17 Juni 2021 11:22 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Diskon Hukuman yang Menghina Rasa Keadilan dan Akal Sehat

    Ada saja penegak hukum yang kembali mempertontonkan keputusan yang menghina rasa keadilan rakyat banyak. Seorang terpidana diberi diskon hukum setara obral besar: 60 persen, hukumannya turun drastis dari 10 tahun penjara menjadi 4 tahun saja. Rakyat banyak terhenyak: apa sebenarnya yang sedang terjadi? Pada hakim, pada jaksa, pada institusi yudikatif?

    Dibaca : 1.350 kali

     

    Ada saja penegak hukum yang kembali mempertontonkan keputusan yang menghina rasa keadilan rakyat banyak. Seorang terpidana diberi diskon hukum setara obral besar: 60 persen, hukumannya turun drastis dari 10 tahun penjara menjadi 4 tahun saja. Pemberi diskon hukuman itu para hakim, sedangkan—ini yang membuat lebih menarik perhatian—yang diberi diskon seorang [mantan] jaksa. Apakah ini terjadi karena ada orang-orang yang merasa berkuasa untuk menjalankan hukum sesuai kehendak dirinya saja?

    Rakyat banyak terhenyak: apa sebenarnya yang sedang terjadi? Pada hakim, pada jaksa, pada institusi yudikatif? Rakyat terkejut, sebab terpidana telah dibuktikan bersalah dalam persidangan sebelumnya karena melakukan sejumlah hal: menerima suap, mencuci uang hasil kejahatan, dan melakukan permufakatan jahat untuk meloloskan seorang pelaku kejahatan. Dan terpidana mengakui kebenaran semua itu. Lebih penting lagi: ia seorang jaksa—profesi yang seharusnya justru memberatkan hukuman untuknya, sebab ia penegak hukum.

    Bagaimana bisa penegak hukum yang mempermainkan hukum diberi diskon hukuman demikian besar? Tapi itulah yang terjadi dan membuat rakyat memprotes keras. Para hakim pengadilan tinggi yang berkuasa membuat putusan memang berkehendak lain. Berbagai media menyebutkan pertimbangan hakim ini, di antaranya [mantan] jaksa terpidana mengaku bersalah, mengatakan menyesali perbuatannya, serta ikhlas dipecat dari profesi jaksa. Tragis, bukan? Tentu saja ia akan mengaku, menyesal, dan mengatakan ikhlas, wong sudah terbukti, yang berarti perbuatannya telah terbongkar. Andaikan tidak ketahuan, mana mungkin ia akan mengaku, menyesal, dan bilang ikhlas?

    Pertimbangan lain yang diajukan hakim juga menarik perhatian rakyat banyak. Media massa mengutip: “Terdakwa sebagai wanita harus mendapat perhatian, perlindungan, dan diperlakukan secara adil.” Apakah pertimbangan serupa juga kerap atau selalu diberikan oleh para hakim untuk meringankan hukuman bagi wanita-wanita lain? Padahal, [mantan] jaksa itu telah ikut merusak praktik hukum, telah merusak kepercayaan para pencari keadilan dan kebenaran, sebab uang telah mengalahkan tegaknya kebenaran dan keadilan. Tidakkah para hakim mempertimbangkan dampak yang lebih besar ini? Ataukah ini sejenis solidaritas di antara sesama profesi [yang seharusnya] penegak hukum? Ataukah ia merasa bakal kebal hukum karena alasan tertentu yang tidak terungkap hingga kini? 

    Dikatakan pula oleh hakim, mantan jaksa ini harus merawat anaknya. Bukankah ibu-ibu terpidana lainnya juga harus merawat anak mereka, mengapa tidak memperoleh perlakuan serupa? Mengapa alasan hakim itu tidak diberlakukan pula kepada ibu-ibu lain yang meringkuk dalam penjara? Bukankah anak-anak mereka juga membutuhkan kehadiran ibu-ibunya? Mengapa ibu-ibu itu tidak memperoleh diskon besar agar dapat segera merawat dan membesarkan anak-anak mereka?

    Lagi pula, ketika jaksa ini hendak melakukan semua yang dituduhkan kepadanya itu—menerima suap, mencuci uap suap, maupun bersekongkol untuk meloloskan pelaku kejahatan, bukankah ia sudah memikirkan bahwa ia mungkin saja keciduk dan harus menjalani hukuman? Yang berarti ia sepenuhnya menyadari dan berpikir tentang kemungkinan berpisah dengan anaknya? Mengapa hakim pengadilan banding malah berbelas kasih memberi potongan besar atau 60% dengan alasan ia seorang ibu yang harus membesarkan anaknya? 

    Tuan-tuan hakim, apakah saudara merasa telah bertindak adil? Tuan-tuan hakim, apakah saudara merasa tidak akan perlu mempertanggungjawabkan pilihan putusan kalian di hadapan Sang Mahahakim di akhirat nanti? Sadarkah tuan-tuan bahwa tuan telah menghina bukan saja rasa keadilan masyarakat, tapi juga menghina akal sehat rakyat banyak? >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.