Pembina dan Pelatih Sepak Bola Indonesia, Bagaimana? - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Supartono JW

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 20 Juni 2021 06:30 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Pembina dan Pelatih Sepak Bola Indonesia, Bagaimana?

    Salah kaprah tentang pemahaman mendidik, membina, hingga mengejar prestasi dalam dunia olah raga khususnya sepak bola, kini terasa semakin masif. Sehingga masyarakat dan publik sepak bola nasional terus disuguhi masalah benang kusut sepak bola nasional di berbagai ranah, mulai dari akar rumput hingga tim nasional.

    Dibaca : 1.022 kali

    Salah kaprah tentang pemahaman mendidik, membina, hingga mengejar prestasi dalam dunia olah raga khususnya sepak bola, kini terasa semakin masif. Sehingga masyarakat dan publik sepak bola nasional terus disuguhi masalah benang kusut sepak bola nasional di berbagai ranah, mulai dari akar rumput hingga tim nasional.

    Alih-alih para pemain muda terdidik dan terbina dengan benar, di tangan pembina dan pelatih yang tak menguasai pedagogi (kognitif, afektif, psikomotor), justru banyak pemain muda yang mentalnya jatuh hingga berpengaruh pada pertumbuhan jiwa dan fisiknya.

    Mendidik, membina, prestasi

    Lalu sebatas mana masyarakat khususnya para Pengurus Asosiasi Sepak Bola, Pengurus Klub, Pengurus SSB/Diklat/Akademi Sepak Bola, hingga para pembina, manajer, dan pelatih memahami  makna mendidik, membina, hingga mengejar prestasi?

    Mendidik adalah memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Lalu, membina bermakna membangun, mendirikan, mengusahakan supaya lebih baik (maju, sempurna, dan sebagainya). Dan, prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya).

    Berdasarkan makna mendidik, membina, dan prestasi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam ranah sepak bola, maka mana wadah yang harus mendapat asupan didikan dan binaan? Mana wadah yang target akhirnya prestasi?

    Seluruh wadah sepak bola mulai dari akar rumput wajib mendapat asupan pendidikan. Namun, wadah sepak bola akar rumput, ruang lingkupnya baik di tingkat daerah, nasional, hingga internasional adalah pembinaan, bukan target prestasi.

    Sementara tim sepak bola tingkat kota/kabupaten/provinsi/nasional/klub, jelas targetnya adalah prestasi. Tetapi dalam faktanya, dalam sepak bola di Indonesia, dunia menjadi terbalik.

    Di sepak bola akar rumput, sebab banyak pembina, pelatih, dan orang tua yang tak paham pedagogi dan dunia pendidikan, arahnya malah jadi kejar prestasi, bukan pembinaan.

    Sebaliknya, di tim tingkat kota/kabupaten/provinsi hingga timnas yang sewajibnya mutlak kejar prestasi, jadi ajang tim pembinaan dan tim titipan. Pembina dan pelatih di sektor ini, masih tak dapat melepaskan diri dari kepentingan-kepentingan, dan ujungnya, pembina dan pelatih di level ini banyak yang tak sadar telah membunuh mental pemain karena tak bisa tegas dan ambil sikap karena adanya kepentingan.

    Buntutnya, bila Wali Kota/Bupati/Gubernur, berharap tim daerah yang dipimpinnya berprestasi di kejuaraan antar kota/kabupaten/provinsi, hanya jadi mimpi. Ada pemain berbakat dan berkompeten di daerah bisa tak masuk tim daerah karena sistem seleksi atau tergantung siapa gerbong pembina dan pelatihnya, hingga siapa pemain yang direkrutnya. Kejadian ini, juga sama di timnas. Lihat contoh teranyar.

    Di ranah tertinggi sepak bola nasional, dalam wadah timnas yang seharusnya murni untuk beban prestasi di semua jenjang timnas, justru saat siapa pun pelatih yang dipercaya mengampu timnas untuk membawa timnas berprestasi, pelatihnya justru memulai dengan melakukan pembinaan di saat di event yang sama sudah mengejar prestasi dan harga diri di ranking FIFA.

    Namanya sudah timnas, merekrut pemain-pemain terbaik dari seluruh pelosok negeri, namun saat sudah berada di timnas, tetap saja banyak pemain yang hanya dijadikan sekadar teman latihan, teman tidur dalam TC, dan lain sebagainya, karena pada faktanya banyak pemain yang sudah dipilih masuk timnas, nyatanya hanya menjadi penunggu bangku, bench pemain cadangan, atau hanya mengisi ruang di tribun penonton. Dan, menghabiskan anggaran sesuai rancangan.

    Pertanyaannya, itu sudah timnas, tapi level kompetensi pemain di setiap posisi ternyata dianggap jauh dan tak sebanding oleh pelatih. Lalu, untuk apa mereka dipanggil dan hanya sekadar memenuhi kuota untuk aturan pemain dalam timnas?

    Lihat, di tangan Shin Tae-yong((STy), saat Uni Emirat Arab UEA, Vietnam, Thailand, dan Malaysia menjadikan ajang lanjutan Babak Kualifikasi Piala Dunia 2022 benar-benar untuk prestasi, STy justru menjadikan timnas Indonesia untuk eksperimen pembinaan pemain muda.

    Meski dunia tahu, STy menurunkan pemain muda di timnas Indonesia, tetap saja banyak pihak yang menganggap STy salah tempat dan waktu. Meski Indonesia sudah tak ada peluang, tapi event tetap untuk prestasi dan ada hitungan point FIFA. Apa buntutnya? Untuk Piala Asia saja timnas harus melalui babak play off meladeni tim gurem.

    Inilah akibatnya bila pembina dan pelatih sepak bola, mungkin tak paham pedagogi, pendidikan, pembinaan, dan prestasi.

    Terbalik-balik

    Untuk itu, bagi segenap insan sepak bola nasional, rasanya perlu lagi belajar dan memahami apa itu mendidik, membina, dan prestasi. Jadi, di level timnas tidak ada lagi paradigma pembentukan dan menurunkan timnas dalam ajang internasional berpoint FIFA sebagai pembinaan.

    Timnas bukan sepak bola akar rumput, tempat dan ajang meraih prestasi, tapi sebagai wadah pondasi pendidikan dan pembinaan pemain. Tetapi, faktanya di sepak bola akar rumput banyak pembina dan pelatih yang tak layak disebut pembina dan pelatih, karena pola pikirnya justru bak pembina dan pelatih di timnas.

    Berikutnya, lihat bagaimana para pembina dan pelatih yang dipercaya membentuk tim sepak bola untuk tingkat kota/kabuparen/provinsi? Seharusnya, di level ini, juga paradigmanya sama dengan pola di timnas maupun klub, yaitu untuk prestasi.

    Tapi saya melihat, di beberapa daerah, banyak pembina dan pelatih yang dipercaya mengampu tim, justru tak jelas arahnya. Antara prestasi dan pembinaan bercampur tipis, sebab unsur kedaerahan juga tak pernah bisa lepas dari masalah tarik ulur kepentingan.

    Targetnya berprestasi dan juara dalam sebuah event, tapi cara merekrut pemain juga klasik. Tetap ada aroma, pemain yang dipilih tergantung dari siapa gerbong pembina dan pelatihnya. Ada pula aroma pemain titipan, dan ada aroma suka dan tidak suka serta dari mana asal pemain terpilih.

    Semestinya, bila arahnya prestasi, memilih pemain itu tak pandang bulu. Bila dalam program dan prasyarat tim, pemain didaftarkan 30 orang, maka jangan ada satupun pemain dari 30 pemain itu yang rapor kompetensi teknik,  intelegensi, personaliti, dan speed (TIPS), yang nilainya di bawah 80. Jadi, tidak ada pemain yang hanya dijadikan pajangan di bench pemain apalagi sekadar mengisi tribun penonton.

    Lebih dari itu, yang sangat nampak dari para pembina dan pelatih, bahkan dari timnas hingga akar rumput, tanpa disadari mereka banyak yang membunuh dan menjatuhkan mental pemain. Perilakunya bukan sekadar terus membangku cadangkan pemain, tetapi terus mengubah posisi pemain, karena menurut mereka sang pemain tak cocok dengan skemanya atau tak kompeten sesuai kemampuan yang dituntutnya. Lucu, kan?

    Sadarkah mereka akan hal ini? Apa akibatnya, banyak pelatih yang saling berkomentar, sebab seorang pemain yang bisa sampai terpilih masuk tim kota/kabupaten/provinsi hingga timnas, tentu sudah ditempa oleh tangan-tangan pembina dan pelatih lain sebelumnya.

    Saat si pelatih sebelumnya menangani pemain bersangkutan posisinya ini atau itu, tapi di tangan pelatih yang sekarang merekrutnya, posisinya diubah, bahkan tak lagi dapat kesempatan bermain dan hanya jadi pajangan bangku cadangan atau mengisi tribun penonton.

    Mengapa pelatih tega melakukan itu dan sangat mengecilkan perjuangan pemain hingga menjatuhkan mental pemain? Bila pembina dan pelatih cerdas, paham pedagogi, menguasai teknik mendidik, maka bila sejak awal pemain bersangkutan sudah dianggap tak layak, pembina dan pelatih harus tegas. Jangan berpikir kepentingan. Coret dan keluarkan saja pemain dari tim. Itu lebih baik, dari pada menyiksa mental pemain sepanjang bergabung di dalam tim.

    Pemain bersangkutan pun akan cepat sembuh mental dan kepercayaan dirinya saat kembali ke tim atau klub aslinya dengan pembina dan pelatih yang sudah lebih paham dan membesarkannya. Dari pada terus sekadar jadi pelengkap di dalam tim yang diasuhnya, karena di luar tim itu, pemain akan dapat kembali berkembang. Meski tak harus membela tim kota/kabupaten/provinsi/timnas.

    STy tentu tak menyadari, berapa pemain timnas yang telah direkrutnya, lalu dijatuhkan mentalnya karena mengubah posisi bermain, pun menjadikan pemain penghuni bench pemain atau tribun penonton abadi semasa event berlangsung.

    Bagaimana dengan pemain yang direkrut untuk berprestasi di tingkat kota/kabupaten/provinsi? Para pembina dan pelatihnya juga setali tiga uang dengan STy.

    Bila sikap STy setali tiga uang dengan para pembina dan pelatih di tim tingkat kota/kabupaten/provinsi, tentu tak bisa disamakan dengan pelatih di tingkat Klub amatir maupun profesional.

    Di klub amatir atau profesional, Liga 3, Liga 2, Liga 1, misalnya, maka pelatih memiliki hak perogratif untuk memperlakukan pemain. Memasang, mengubah posisi bermain, mencadangkan, bahkan mencoret. Itu hak pelatih. Tetapi di tim tingkat kota/kabupaten/provinsi/timnas, terlalu banyak aroma, sehingga tajuk prestasi hanya sekadar tema karena di dalamnya lebih kental dan lebih kuat kepentingan-kepentingannya.

    Seleksi timnas kelompok umur

    Selain persoalan tersebut, kini PSSI juga coba mengembalikan cara menyeleksi dan merekrut pemain timnas kelompok umur dengan kembali melibatkan Askot/Askab dan Asprov.

    Cara ini, jelas tak akan pernah menghasilkan timnas kelompok umur yang berkualitas. Lihat, calon pemain dari berbagai SSB/Akademi/Diklat dll, diseleksi di tingkat kota/kabupaten. Lalu, yang terpilih sesuai kuota mewakili kota atau kabupaten maju ke tingkat provinsi.

    Bukan rahasia lagi dan sudah jadi persoalan klasik. Siapakah pemain yang terpilih mewakili kota atau kabupaten dari ratusan pemain yang ikut seleksi? Padahal dari ratusan pemain hanya di satu kota saja bila didik dan dibina dengan benar, bisa jadi timnas, lho?

    Ternyata pemain yang terpilih, biasanya tergantung siapa tim penyeleksinya dan siapa yang bermain di dalamnya. Ujungnya, adakah pemain terbaik kota/kabupaten yang dibawa ke tingkat provinsi?

    Saat di tingkat provinsi, siapa kira-kira pemain yang terpilih mewakili provinsi ke tingkat nasional? Semua bisa diprediksi dan ditebak.

    Begitu pun pemain yang diambil dari Klub, kurang lebih proses versinya sama. Publik sepak bola nasional pun akhirnya bisa melihat bagaimana kualitas timnas. Ini berbeda, zaman timnas kelompok umur, pelatihnya langsung merekrut pemain dari kompetisi liga swasta. Nampak jelas, mana pemain berkualitas dari hasil kompetisi, dan mana pemain dari hasil proses titipan.




    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.