Adji Watono - Seorang Fotografer yang Menjadi Boss Advertising - Urban - www.indonesiana.id
x

cover buku Adji Watono

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 23 Juni 2021 16:51 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Adji Watono - Seorang Fotografer yang Menjadi Boss Advertising

    Biografi Adji Watono yang menggambarkan perjuangannya membangun perusahaan iklan Dwi Sapta mulai dari nol sampai sukses.

    Dibaca : 759 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Adji Watono – Kisah Sukses Tukang Foto Menjadi Boss Advertising

    Penulis: Agung Adiprasetyo

    Tahun Terbit: 2016

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama        

    Tebal: xxiii + 308

    ISBN: 978-602-03-2944-4

     

    Saya sama sekali buta dengan dunia periklanan. Namun saya membeli buku ini karena saya tertarik dengan perjuangan yang dilakukan oleh Adji Watono untuk mencapai sukses. Alasan lain adalah karena saya tahu penulisnya. Agung Adiprasetyo adalah wartawan senior yang mempunyai standar penulisan yang sangat tinggi. Maka saat buku ini lewat di mata saya, saya langsung mengambilnya.

    Saya tak ingin mengulas buku ini dari sisi advertising. Sebab saya memang tak berkompeten dalam hal tersebut. Saya ingin melihat buku ini dari sisi kepemimpinan. Ada banyak hal menarik yang muncul dari buku ini tentang leadership. Hal-hal yang diungap oleh Adji Watono jelas sangat berpengaruh dalam transformasinya dari seorang tukang foto menjadi juragan advertising.

    Adji adalah pendiri Perusahaan Dwi Sapta Advertising. Adji merawat dan membesarkan Dwi Sapta dari sejak lahir sampai menjadi perusahaan advertising lokal yang sejajar dengan perusahaan periklanan internasional.

    Faktor pertama dari sisi leadership yang saya kagumi dari Adji Watono adalah semangatnya untuk selalu berhasil dan sifatnya yang mau bekerja apa saja. Tentang semangatnya untuk senantiasa berhasil, Agung menulis di bab IV (hal. 49). Sedangkan tentang sifat Adji yang mau mengerjakan apa saja dituangkan di Bab VI (hal. 83). Kegairahan Adji untuk senantiasa berhasil sudah ditunjukkan saat ia memilih berangkat ke Jerman untuk studi lanjut selepas SMA. Karena yakin akan berhasil, Aji berangkat ke Jerman. Ia tahu bahwa ia tidak tahu sama sekali tentang Jerman dan bahasanya. Ia juga tahu bahwa orangtuanya tidak memiliki kemampuan membiayai studinya di Jerman. Namun karena sifatnya yang ngotot dan ingin senantiasa berhasil, Adji melakukan apa saja di Jerman untuk bisa hidup. Ia menjadi menyerok salju, pengantar makanan dan pekerjaan lain yang bisa dia lakukan supaya bisa hidup dan kuliah di Jerman. Sifat untuk mau mengerjakan apa saja juga ditunjukkan saat ia mulai merintis karir. Berbekal kemampuan fotografi, Adji bersedia melakukan apa saja di pabrik Jarum di Kudus. Kemauannya untuk mengerjakan apa saja ini ternyata sangat berguna dalam karirnya. Ia belajar banyak tentang dunia periklanan justru dari sifatnya yang mau mengerjakan apa saja.

    Adji adalah orang yang berorientasi kepada kepuasan kliennya. Ia tidak mengandalkan pengetahuannya atau pengetahuan stafnya dalam mengerjakan iklan. Namun ia menggali sedalam mungkin apa yang menjadi keinginan kliennya. Bermula dari pengalaman membuat iklan Rokok Jarum, dimana sang klien menginginkan supaya fokusnya adalah pada rasa rokok “Yang Penting Rasanya Bung,” Adji menggarap iklan tersebut sehingga sang klien dan sukses di masayarkat (Bab VII hal. 95). Dalam hal kepusan klien ini juga terungkap saat kondisi ekonomi sedang lesu akibat resesi. Adji tahu bahwa para klien sedang mengalami masalah keuangan di saat kritis. Demikian juga dengan perusahaan advertising Adji. Maka, Adji memutuskan untuk membuatkan iklan tanpa dibayar dulu. Jika sang klien merasa bahwa iklannya bagus dan dipakai silakan digunakan. Tapi jika tidak, tidak usah dibayar. Dengan keberaniannya untuk menempuh “jalur kawan” tersebut Dwi Sapta berhasil melewati krisis yang diakibatkan oleh krisis ekonomi (hal. 116).

    Dalam mengelola perusahaan Adji sangat menghargai para pegawainya. Adji juga memberikan imbalan yang semakin baik, seiring dengan berkembangnya perusahaannya. Saat awal, Adji menggunakan orang profesional sebagai tenaga lepas. Cara ini dilakukannya karena dia belum mampu membayar penuh tenaga kreatif. Namun seiring berkembangnya perusahaan ia mengajak orang-orang yang kreatif dan mempunyai standar kerja yang tinggi untuk bergabung dengan biro iklannya. Ia memberi penghargaan kepada staf yang kompeten sesuai dengan penghasilan yang didapat perusahaannya. Adji tidak pelit. Bahkan ketika dunia periklanan dilanda resesi, sejalan dengan resesi dunia bisnis, Adji memilih untuk tidak melakukan PHK. Ia “jualan” supaya tetap ada pemasukan untuk mempekerjakan karyawannya. Ia juga meminta pengertian para karyawan untuk menerima keadaan yang sedang sulit (hal. 122).

    Adji adalah orang yang loyal kepada perusahaan-perusahaan yang telah menjadi kliennya saat Dwi Sapta masih kecil. Ia tidak meninggalkan mereka. Perusahaan dan produk-produk kecil tetap dilayaninya, meski Dwi Sapta telah mempunyai klien perusahaan besar. Adji sampai harus mendirikan anak perusahaan supaya ia tetap bisa melayani perusahaan-perusahaan kecil yang memberi hidup kepada Dwi Sapta di masa awal.

    Hal kelima yang saya belajar dari Adji adalah kesadarannya untuk berubah sesuai dengan perubahan jaman. Adji menyadari bahwa ia tidak bisa terus mengelola cara bisnisnya seperti saat ia memulai. Perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra Dwi Sapta telah berkembang menjadi besar dan tidak lagi dikelola oleh seorang bos. Tidak lagi one man show. Perusahaan-perusahaan tersebut dikelola oleh manager-manager profesional seiring dengan perkembangan bisnisnya. Menyadari hal tersebut, Adji juga mengubah pendekatan bisnisnya. Ia tidak lagi menerapkan owner’s way tetapi menjadi professional way (hal. 194).

    Menyadari bahwa cara kerjanya sudah tidak lagi tepat untuk masanya, Adji tidak lupa menyiapkan penggantinya. Ia mengkader dua anak perempuannya untuk mengambil alih Dwi Sapta. Ia tahu bahwa pengalihan tidak bisa dilakukan secara mendadak. Oleh sebab itu ia menguji calon pewarisnya untuk menghadapi situasi-situasi sulit. Pengalamanlah yang membuat seseorang matang di bidangnya. 602

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.