Substansi Kritik BEM UI, Tak Lebih Gawat dari Covid-19? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Substansi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 3 Juli 2021 14:20 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Substansi Kritik BEM UI, Tak Lebih Gawat dari Covid-19?

    Atas respon Jokowi tersebut, berbagai pihak pun lantas membahas hingga berbagai media massa pun mengungkit respon Jokowi yang datar. Hampir, semua pihak yang sejalan dengan kritik BEM UI, sangat berharap Jokowi melihat substansi kritik dan ada tindakan yang signifikan. Meski benar, sekarang Covid-19 sedang gawat.

    Dibaca : 515 kali

    Secara obyektif, rakyat yang cerdas intelegensi dan emosi di seluruh Republik Indonesia (RI), apa pun kedudukan, pekerjaan, hingga jabatan dari tingkat jelata hingga elite, tentu dapat mengkalkulasi apa yang sudah amanah dilakukan oleh Presiden Jokowi kepada rakyat, dan apa yang belum amanah kepada rakyat.Percuma dan omong kosong bagi pendukung dan relawan Jokowi yang terus membelanya, sebab faktanya ada sikap dan tindakan sebagai pemimpin yang belum amanah.

    Percuma dan omong kosong pula bagi pihak yang tak mendukung Jokowi yang terus mencibir, sebab faktanya memang sudah ada sikap dan tindakan sebagai pemimpin yang sudah amanah bagi rakyat.

    Jadi, baik bagi pendukung dan relawan Jokowi serta pihak bukan pendukung Jokowi, tidak usah terus saling bernarasi membela dan melemahkan. Keduanya memang seharusnya justru bersatu, sama-sama mengingatkan Jokowi kepada hal yang belum amanah kepada rakyat.

    Bila yang bukan pendukung kecewa karena Jokowi masih ada yang belum amanah, itu artinya diingatkan oleh rakyat. Maka, para pendukungnya pun sewajibnya turut mengingatkan Jokowi.

    Pengingatan dari BEM UI, anak ke bapak

    Di tengah pandemi corona yang semakin merajalela di NKRI, BEM UI yang mewakili  dan representasi dari rakyat yang melihat dan merasakan bahwa Jokowi harus diingatkan dan ditegur karena ada sikap dan tindakan yang tidak amanah, terlebih ke luar dari rel janji-janjinya selama kampanye Presiden, maka sewajibnya, dengan kepala dingin dan cerdas pula, para pendukung dan relawan Jokowi juga melihat permasalahan secara obyektif sesuai substansi kritik. Bukan malah membela mati-matian Jokowi.

    Menurut saya, saat anak dan anggota keluarga mengritik dan memberi masukan kepada pemimpin keluarga karena tidak amanah, bukan berarti anak dan anggota keluarga tidak menghargai, tidak mencintai, dan tidak menghormati sang pemimpin keluarga.

    Justru dengan pengingatan dalam bentuk kritik atau sindiran, itu adalah tanda menghargai, mencintai, dan menghormati  dari anak kepada bapaknya.

    Artinya, belum tentu BEM UI dan para anggotanya adalah pihak yang berseberangan dan bukan pendukung Jokowi. Tetapi, sebagai anak=rakyat, sebagai sebuah anggota keluarga=bangsa memang wajib mengingatkan bapak=presiden yang dilihat tidak amanah dan membahayakan keluarga=negara!

    Bagi seorang bapak yang cerdas intelegensi dan emosi, bila dikritik anaknya atau anggota keluarga lainnya, tentu tak akan sekadar menanggapi dengan santai, tetapi juga akan melakukan pembuktian terhadap sikap dan perbuatan yang dianggap belum amanah.

    Namun, dalam kasus kritik-mengkritik terhadap pemerintahan RI sekarang atau kritik langsung kepada Presiden Jokowi, nyatanya hampir belum ada kritik yang ditanggapi dengan perubahan sikap dan tindakan.

    Rakyat dan mahasiswa sampai demonstrasi, pemerintah dan Presiden tetap tak goyah. Malah, saat rakyat dan mahasiswa sampai demo ke Istana, Presiden pun tak muncul.

    Sudah begitu, rakyat dan mahasiswa malah dituduh oleh pihak pendukung Jokowi sebagai bagian dari gerbong ini dan itu. Selalu melupakan substansi apa yang menjadi penyebab rakyat dan mahasiswa sampai demonstrasi. Padahal, banyak juga pendukung Jokowi yang secara hati nurani, cerdas intelegensi dan emosi mahfum dan setuju ada demo karena memang pemerintah dan Presiden harus diingatkan.

    Di sisi lain, rakyat dan mahasiswa yang demo pun, banyak yang tetap menjadi bagian pendukung Jokowi. Namun, karena demo ada alasan dan substansi yang dituju, terutama bicara amanah untuk rakyat, maka mereka pun tetap ikut demo. Semua itu dilakukan, intinya mengingatkan agar pemerintah dan Jokowi amanah! Termasuk kritik BEM UI, sekarang, yaitu pengingatan anak kepada bapaknya.

    Ayo lihat substansinya

    Atas kritikan BEM UI kepada Jokowi, bukannya seluruh rakyat bangsa ini melihat substansi kritiknya. Berbagai pihak malah menggoreng sikap positif anak bangsa yang justru dari kalangan akademisi, yang mustahil berani mengeluarkan kritik asal bunyi (asbun).

    Sayang, pihak yang tak suka terus kebakaran jenggot dan terus menebar narasi negatif, terus nyinyir, mengkaitkan dengan ini-itu, menuduh, dan lain sebagainya, yang nampaknya tujuannya untuk membentengi, melindungi, dan membela Jokowi.

    Apakah bisa dipastikan bahwa BEM UI dan jajarannya adalah pihak bukan pendukung Jokowi? Tetapi terlepas hal itu, sebagai akademisi, tetap memiliki tanggungjawab ilmiah untuk mengingatkan pemimpin bangsa yang dilihatnya belum amanah.

    Lebih disayangkan, lagi-lagi saat didemo atau dikritik, Presiden hanya melakukan respon formalitas. Bukan respon berdasarkan substansi yang menjadi bahan kritik.

    Sejauh ini, Jokowi baru merespon sejak dikritik The King of Lip Service alias Raja Membual yang dilontarkan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI). Responnya, dalam video berdurasi 2 menit 1 detik yang diunggah Sekretariat Presiden di Youtube, Jokowi sembari tersenyum mengatakan bahwa kritik tersebut sebagai hal lumrah di negara demokrasi. Ia bahkan sempat menuturkan kalau sebelumnya acap kali mendapat julukan dari berbagai pihak seperti otoriter hingga bapak bipang.

    "Itu kan sudah sejak lama, ya. Dulu ada yang bilang saya ini klemar-klemer, ada yang bilang juga saya itu plonga-plongo, kemudian ganti lagi ada yang bilang saya ini otoriter, kemudian ada yang ngomong saya ini bebek lumpuh, dan baru-baru ini ada yang ngomong saya ini bapak bipang, dan terakhir ada yang menyampaikan mengenai The King of Lip Service. Ya, saya kira ini bentuk ekspresi mahasiswa dan ini negara demokrasi, jadi kritik itu boleh-boleh saja," ujar Jokowi, Selasa (29/6/2021).

    Jokowi juga menambahlan bahwa universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi. Dalam kalimat selanjutnya ia berujar, "tapi juga ingat bahwa kita ini memiliki budaya tata krama, memiliki budaya kesopansantunan".

    Mahasiswa, kata dia, kemungkinan sedang belajar mengekspresikan pendapat. Namun, mantan Wali Kota Solo ini mengingatkan hal penting yang perlu diperhatikan saat ini adalah pekerjaan menghadapi Covid-19.

    Atas respon Jokowi tersebut, berbagai pihak pun lantas membahas hingga berbagai media massa pun mengungkit respon Jokowi yang datar. Hampir, semua pihak yang sejalan dengan kritik BEM UI, sangat berharap Jokowi melihat substansi kritik dan ada tindakan yang signifikan. Meski benar, sekarang Covid-19 sedang gawat.

    Tetapi, apakah substansi kritik BEM UI, bila faktanya benar, diakui benar, tidak lebih gawat bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara ini?

    Atau bila terbukti substansi kritik BEM UI salah, faktanya tidak benar, mungkin memang benar, Covid-19 lebih gawat di NKRI? Ayo dicermati! Kita tunggu, sikap Presiden berikutnya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.